Tince Sukarti

Best Regards, Fiction, 10 September 2020
Tince mulai lelah. Ia merasa kehidupannya dirampas dengan semena-mena oleh panggung yang besar yang menjadi impiannya. Ia selalu di tuntut tampil sempurna, bahkan ketika dirinya sedang dalam kondisi yang tidak sempurna.

Percayalah bahwa cerita ini tidak sama dengan sebuah lagu lama, walaupun judulnya sama. Walau memiliki mimpi yang sama, Tince dalam cerita ini bernasib lebih baik karena ia tidak harus "minggat" hingga harus menggadaikan harga diri demi mengejar mimpinya menjadi penyanyi seperti apa yang terjadi pada Tince di lagu lama tersebut. 

Sedari kecil, bakat menyanyi yang dimiliki Tince memang sudah terlihat. Selain suaranya yang menarik, Tince juga dianugerahi wajah cantik dan kepercayaan diri yang tinggi yang membuatnya tidak canggung ketika berada di atas panggung. 

Dimulai dari mengisi pelayanan di berbagai gereja, suara Tince kini mulai terdengar dimana-mana di seluruh Indonesia. Media sosial mungkin membantu ketika videonya yang sedang bernyanyi dalam pelayanan, tenyata mendapat perhatian positif dari pengguna internet yang kemudian disebarluaskan dengan mudah.

Kehidupan Tince pun perlahan berubah. Kini ia harus rutin latihan vokal, meeting dengan label dan manajer, hingga menyanyi di panggung yang lebih besar dan prestige. Ia tak lagi menyanyi hanya untuk pelayanan di gereja. Dunia hiburan mengguyurnya dengan bayaran yang "wah" dan bahkan tak pernah ia sangka sebelumnya. 

Tince pun menikmatinya. Ia berterima kasih kepada Tuhan karena doa yang dipanjatkannya setiap pagi dan malam itu mulai dijawab oleh Tuhan. Ia bekerja sesuai dengan impiannya. 

Namun, dunia hiburan tetaplah dunia hiburan.

Banyak hal-hal tak terduga yang ia temui di dalamnya. Mulai dari ditawar oleh salah seorang pejabat daerah yang dijawabnya dengan acungan jari tengah, hingga kehidupan malam nan glamour yang dekat dengan minuman dan narkoba, dua hal yang paling dihindarinya. Namun dari itu semua, hal inilah yang paling dibencinya. 

“Ayo senyum.. “

“Eh, jangan manyun begitu, ga baik nanti di panggung. “ 

“Lima menit lagi kamu harus siap ya! “

Tince mulai lelah. Ia pun merasa kehidupannya dirampas dengan semena-mena oleh panggung yang besar dan menjadi impiannya itu. Ia selalu dituntut tampil sempurna, bahkan ketika dirinya sedang dalam kondisi yang tidak sempurna.

Ia lelah ketika panggung menuntutnya untuk menutup semua kelelahannya, menutup semua kesedihannya yang seharusnya bisa ia keluarkan melalui ekspresi, dan menutup hampir semua waktunya untuk orang-orang yang dicintainya.

Tidak ada lagi baginya waktu bercengkrama di meja makan bersama keluarga.

Tidak ada lagi waktu baginya untuk mengajar adiknya yang masih SD. 

Tidak ada lagi sesi bercerita bersama para sahabatnya sambil mendengarkan keluh kesah hingga jokes receh mereka.

Dan tidak ada lagi waktu untuk....

Tince terdiam. Ia mulai menyadari bahwa kesibukannya mulai membuatnya melupakan relasi dengan Tuhan.

”Tince, 3 menit lagi ya. “ 

Tince menarik nafas panjang, mulai bertanya pada Tuhan: "Apa seperti ini pekerjaan impiannya?". Pekerjaan yang dulu sangat didambakan olehnya dan kini sudah ada dalam genggamannya.

Sayup-sayup terdengar suara radio menyanyikan lagu yang sama dengan namanya, 

Tince Sukarti, berlari mengejar mimpi

Tince Sukarti, berlari dikejar mimpi


 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

"Ayo, kita naik gunung bersama!" Demikian beberapa teman mengajakku, dan aku menyetujuinya...
by Olyvia Hulda | 05 Dec 2020

Satu lagi karya ajaib buatan tangan Tim Dapur Visinema yang diberkati dengan kreativitas tanpa batas...
by Grifith Mercia | 05 Dec 2020

Note: Silahkan membaca Part 1 dan Part 2 terlebih dahulu.Kini kita telah memasuki bagian akhir dari...
by Alviedo Yuda | 05 Dec 2020

TAGS

 

cerpen IgniteGKI

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER