Takut pada Hujan

Best Regards, Fiction, 13 July 2019
Tik.Tik.Tik. Tritik.Tritik. Trititiktiktiktik.... Hujan.

Alfred menatap langit dengan dahi berkerut. Masih sekitar 10 menit jalan kaki dari jembatan busway ke lobi kantornya. Ia harus segera presentasi di depan bos yang otoriter, klien yang annoying, dan partner yang penjilat.

Sial.

Hujan makin deras. Dingin. Basah. Licin. 

Alfred melindungi tas laptopnya. Hujan. Ia benci sekali. Benci sebenci-bencinya.

Seperti biasa sosok-sosok kecil mulai berkeliaran membawa payung besar. Anak-anak yang tidak sekolah dan tidak bersandal. Berlari hujan-hujanan sambil menawarkan jasa payung.

“Payung, Mas? Payung?”

Sosok kecil itu santai dan basah kuyup. Kausnya melekat di tubuh.

“Iya, sini!”

Alfred meraih payung besar itu dan bergegas melesat menembus trotoar Sudirman yang licin. Alfred benci hujan dan takut terlambat. 

Kenapa takut?

Dia juga tidak tahu. 

Alfred melirik sosok kecil di sampingnya. 

Ternyata dia bukan anak-anak. Dia orang dewasa dengan tubuh sangat...yah, sangat...tidak tinggi. 

Alfred menggeser payungnya untuk berbagi dengan orang di sampingnya itu, tetapi dengan senyum ia menolak.

“Hujan, Pak.”

“Iya, saya tahu, Mas. Nggak apa.”

Nggak apa Pak, sini payungan saja. Kantor saya masih di ujung jalan ini.”

Ia tertawa, menampakkan geligi yang tak rapi pada pagi.

“Ah, Mas. Selama hujan itu masih air, bukan batu, saya mah santai aje.”

“Gitu ya Pak? Nggak takut sakit?”

Bapak itu menatap Alfred dengan senyum aneh, seakan Alfred barumengatakan hal bodoh. 

Ia membuka tangannya yang keriput dan menatap tetesan hujan yang berkumpul di sana dengan penuh kasih, seperti orang yang menatap anaknya. 

Ia membiarkan pertanyaan Alfred tak terjawab sesaat sebelum berkata, “Nggak, saya nggak takut.”

“Bapak nggak pernah sakit karena hujan-hujanan?”

“Tidak, Mas. Tentu saja tidak. Mas ini takut sekali sama hujan ya?”

“Heh? Ngg, ah, nggaklah, Pak. Cuma malas basah.”

“Waktu kecil nggak pernah main air hujan?” tanyanya kembali

“Hahaha...ya, itu dulu sekali. Tapi-“

Pikiran Alfred melayang pada kenangan puluhan tahun lalu. 

Hujan adalah satu hal yang dinanti-nanti oleh Alfred kecil. Main air di halaman rumah. Lalu dimarahi mama. 

Lalu seiring berjalannya waktu, hujan menjadi makin tidak menyenangkan. 

Hujan membuat orangtuanya marah-marah bertengkar karena ada bocor di atap rumah. 

Hujan membuat keluarganya sulit karena banjir. 

Hujan pernah membuat rencana piknik keluarganya ke Ancol batal. Batal sampai tiga kali, selalu karena hujan. 

Sekarang, setelah bekerja, Alfred makin benci dengan hujan karena jalanan jadi macet. 

Ah, apa bagusnya hujan. 

Mengapa Sang Maha menciptakan hal yang menyusahkan hidupku dan keluargaku di masa lalu? 

Kenapa Sang Maha membiarkan derita terjadi dalam hidup manusia lewat terjangan hujan? 

Apakah Sang Maha tak mampu merancang kehidupan, cukup dengan sinar matahari yang menghangatkan setiap insan saja?

Alfred melirik orang di sampingnya, yang tampak sangat bagus moodnya, di tengah hujan basah kuyup. 

Lalu tanpa bisa ia mengerti, Alfred merasa sedih. Sedih untuk dirinya sendiri. Gedung kantornya telah di depan mata. Alfred mendesah sambil merogoh selembar uang dari kantung celana.

“Makasih, Pak.”

“Sama-sama Mas.”

Ia terdiam sesaat sambil memasukkan uang ke sakunya.

Nggak usah takut sama hujan, Mas,” ujarnya sebelum berlalu

Alfred melihatnya menjauh dengan langkah-langkah kecil, sekecil tubuhnya. Payung yang terlipat digenggam di tangan dan ia menghirup udara Jakarta yang sejuk dalam-dalam. Lalu ia menghilang, menyisakannya bersama hujan.

Ya, inilah hujan… pemberian dari Sang Maha Tak Terpahami dan mungkin, aku tak perlu takut.


*In Collaboration with Ari Setiawan


LATEST POST

 

“Kita lulus di saat yang kurang tepat.”Itu isi chat dari teman saya ketika saya bercerit...
by Rigia Tirza | 14 Jul 2020

Sudahkah kamu percaya kepada Tuhan?Sulit dijawab meski sering diutarakanTerkadang muncul keraguanWal...
by Nadya Brigita | 14 Jul 2020

Ignite People, kamu udah pernah dengar lagu “Si Lemah” karya RAN dengan kolaborasi merek...
by Grifith Mercia | 14 Jul 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER