Yesus Berkata "Bawalah Kemari Pada-Ku"

Best Regards, Live Through This, 22 March 2020
Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku."

Sebagai relawan pendidikan yang masih terus ingin berkarya karena masih sehat dan mampu, pastinya akan banyak hal yang berkesan dan bahkan meninggalkan memori indah dalam perjalanan sebagai relawan itu sendiri.

Tapi, di sini, aku mau bercerita sedikit bagaimana aku terpanggil menjadi relawan pendidikan.

Aku terdidik dengan karakter keluarga yang aktif dalam pelayanan, entah itu di gereja atau di luar gereja. Dan, teladan kuat itu ternyata menjadi spiritual gift-ku ketika diriku semakin dewasa.

Anehnya, entah kenapa, aku dulunya adalah orang yang sangat tidak percaya diri. Aku merasa tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan teman-teman lain yang jago ngomong, bisa mimpin rapat, main musik keren, sampai berpikir "Udahlah aku mah bisanya cuma begini doang. Ya udahlah ga usah dipaksain." Dan, perasaan itu muncul saat usia remaja sampai pemuda. Padahal sejak remaja aku sudah mengambil bagian sebagai Guru Sekolah Minggu, liturgos di kebaktian remaja, juga dipercaya jadi pengurus; tapi, ya tetap saja merasa minder hehehe.

Rasa minder ini terus terjadi sampai di titik temu ketika diriku memasuki dunia kerja. Dalam fase kehidupan ini aku mendapat banyak hal dan ditempa sedemikian rupa, sehingga aku merefleksikan diriku pada sebuah pertanyaan "Untuk apa saya hidup di dunia ini?" Kayaknya pertanyaan kritis ini hadir di usia 25 tahunan ga sih guys? Hehehe.

Sambil terus mencari jawaban yang tak kunjung jelas juga, aku terus melanjutkan hidupku dengan rutinitas seperti biasa. Namun di tahun 2015, aku tiba-tiba tertarik untuk mendaftar sebagai relawan pendidikan di sebuah organisasi pendidikan yang konsepnya unik. Para relawan ini diberi tugas agar menginspirasi anak-anak di sebuah sekolah dasar agar mereka bisa memiliki mimpi dan termotivasi untuk mencapai mimpi itu. Fakta yang kudapatkan, masih banyak anak di Jakarta yang belum tahu apa sih itu cita-cita. Dan kalau di tanya kepada mereka, apa cita-cita mereka, mereka akan jawab dengan asal, lihat orang tua mereka, dan mengikuti jawaban teman lainnya. Hahaha. Lucu banget sih.

Ternyata seleksi lumayan ketat, dan aku baru pertama kali berpartisipasi sehingga agak kaget juga bisa diterima jadi relawan. Setelah aku lolos seleksi,  lalu kami bersama tim membuat perencanaan. Kemudian tibalah di hari H acara dan aku merasakan sukacita yang amat sangat besar. Walau capek, anak-anaknya ramai banget, suara habis, tenaga juga habis, tapi ada sukacita besar dalam batin ini yang sangat bergelora. Wow. Amazing.

Kelihatannya memang sepele, tapi inilah titik temu yang kumaksud tadi. Titik temu di mana aku menelusuri jawaban atas pertanyaan kritisku, mengenai buat apa aku ada di dunia ini. Setelah itu, menjadi relawan sangat membuat aku ketagihan. Singkat cerita, setelah selesai kegiatan di Jakarta, aku jadi relawan ke Tegal, Cirebon, kaki Gunung Rinjani, Sumba Timur, Nusa Penida, dan masih banyak lagi.

Kembali ke kalimat awalku tadi, aku tidak akan bisa melalui ini semua jika bukan karena Tuhan yang memberi aku kekuatan untuk melakukan ini semua. Bukan karena aku sudah jago atau ahli, tapi aku justru memulai semua dari 0. Aku banyak sekali belajar dari teman-teman relawan lain yang sudah lebih dulu melanglang buana di dunia relawan pendidikan.

Nah, aku tidak menganggap pengalaman pertamaku itu berlalu begitu saja. Dengan sukacita yang bergelora, akhirnya aku kembali "berdiskusi" dengan Tuhan melalui sebuah perikop di Alkitab tentang mujizat 5 roti dan 2 ikan.

Perikop dalam Matius 14:13-21 selalu berkesan di hidupku karena sedikit demi sedikit aku mendapatkan jawaban atas hidupku. Ketika semua muridNya bingung mau cari logistik untuk para pengikut Yesus, hanya dengan mengandalkan kemampuan sendiri tentu tidak mungkin memberi makan banyak orang. Putus asa juga kalut, padahal mereka selalu bersama Tuhan Yesus, ya kan? Kok masih bisa ya ragu begitu? Ya itulah manusia, sama juga seperti kita kalau lagi kalut atau takut hehe.

Waktu para murid mengadu ke Yesus dan memberi tahu bahwa persediaan yang ada hanya 5 roti dan 2 ikan, jawaban Yesus sederhana dan ga neko-neko panjang lebar. Dalam ayat 18 Ia berkata "Bawalah kemari Pada-Ku". Dan apa yang terjadi setelah itu? Kelar semua masalah, bahkan bikin ternganga karena yang tadinya kurang jadi berlimpah lebihnya.

Hal itu yang kurasakan saat menelusuri jawaban atas pertanyaan hidupku. Aku sering memilih mencari jalan atas jawabanku sendiri yang di mana penuh dengan keterbatasan. Namun ketika aku berefleksi atas panggilan relawan itu, aku belajar berdikusi dengan Yesus dan aku merasa Ia menjawabku dengan "Bawalah kemari Pada-Ku 5 roti dan 2 ikan dalam diriku." Segala hal yang kurasa merupakan kelemahanku, seperti keminderanku di masa remaja, perasaan tidak mampu, ragu mau melangkah, kubawa semuanya padaNya. Tuhanlah yang membuat semuanya baik dan memberiku lebih banyak hal lagi untuk dilakukan dalam hidup ini. Sehingga, aku mulai menemukan jawaban atas pertanyaan besar dalam hidupku.

Guys, kita punya Yesus yang selalu bersama dengan kita. Saat kita mencari jawaban atas pertanyaan hidup kita, atau ketika kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan dalam segala badai kehidupan yang dihadapi, ingatlah perkataanNya yang sederhana dan menenangkan iman kita, "Bawalah kemari Pada-Ku".

Kita belajar untuk membawa apa saja dalam relung hati kepadaNya. Hanya Dia yang mampu mengubah segala hal menjadi baik, bahkan terbaik dalam kehidupan kita semua. Berproseslah dan nikmati.

Cobalah untuk terus berkata kepada Yesus. "Aku membawa semua kepadaMu ya Allah." Dan jawaban sederhanaNya "Bawalah kemari Pada-Ku," akan mengisi kehidupanmu.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER