It's only Me

Best Regards, Fiction, 31 August 2021
"I will always be the one, who pull you up. When everybody push you down, and it's only me, My Son."


Belakangan ini saya sering mendengar lagu dari Kaleb - It’s Only Me yang menceritakan tentang ungkapan rasa cinta, selalu ada untuk orang yang dicintai meski dalam diam.
Satu bait lirik yang membuat lagu ini mempunyai arti yang dalam :

"I will always be the one, who pull you up. 
When everybody push you down and it’s only me. 
Believe me girl...”

Saya merenungkan bagian tersebut bukan merenung tentang kisah percintaan tetapi tentang kasih Bapa yang berbicara kepada saya “It’s Only me, My Son”, menjadi suatu ungkapan yang memberikan saya penghiburan dan kelegaan. 



Saya adalah seorang wanita 24 tahun di tahun ini. Banyak hal terjadi di dalamnya yang membuat saya jatuh dan patah, tidak jauh dari persoalan kisah cinta yang gagal, hingga merasa diri tidak pantas untuk dikasihi dan hopeless tentang masa depan. Namun, saya teringat pada salah satu kisah yang ada di Alkitab mengenai bangsa Israel yang juga mengalami kondisi serupa. Di Ulangan 8:1-18, kita melihat bagaimana bangsa yang besar itu pun mengalami dilema mengenai masa depan dan merasakan ketidakpastian. Bahkan mereka tidak memiliki tempat tinggal dan mengalami berbagai bahaya dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian. Namun, yang bisa kita pelajari dari kisah bangsa yang besar tersebut ialah mengajarkan mereka untuk tetap rendah hati dan belajar mengandalkan Tuhan setiap waktu.

Di saat ketidakpastian yang dunia berikan kepada kita, ada "Satu Pribadi" yang selalu mengatakan :

“I will always be The One... “

Lalu, bagaimana cara kita merasakan dan percaya dengan ungkapan tersebut di dalam real life kita?

  1. Yuk! Kita serahkan semua “kunci” ruangan dalam hidup kita kepada Tuhan :
    Kadang kita mengatakan, “Tuhan, kuserahkan semua hidupku pada Tuhan. Tapi... untuk 2 ruangan ini Tuhan jangan masuk ya" (mis. perihal percintaan dan karir).
    Nah, sekarang waktunya kita untuk belajar menyerahkan "seluruh kuncï" dalam hidup kita kepada Tuhan.
  2. Rendah Hati:
    Belajar untuk rendah itu tidak mudah, kita harus menaruh ego kita sepenuhnya.
    Maka kita harus belajar untuk sadar diri jikalau kita juga tidak mampu berjalan sendiri.
  3. Mengandalkan Tuhan setiap waktu:
    Belajar untuk “nurut” sama Tuhan yuk! Karena kadang kita terlalu banyak ambil alih dalam hidup kita, atau bahkan telalu mengatur Tuhan. Misal seperti ini, “Tuhan, aku tuh maunya gini, kok Tuhan buat gini sih?”. Bayangkan, mungkin kalau Tuhan bisa langsung jawab kita, Ia akan menjawab begini, “Kamu itu nakal ya, nggak mau nurut sama Aku yang nyiptain kamu”.


Nah, sekarang ngomong sama diri sendiri, yuk,

"It's okay kamu jatuh, dianggap remeh, nggak ada yang percaya sama kamu. Lihat, ada Dia yang menggendongmu, ada Dia yang mengangkatmu lagi,
ada Dia yang memulihkan hatimu saat di patahkan."

With love,

anak Tuhan yang lagi bucin sama Dia ❤

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER