Tahan Banting: Sebuah Tujuan yang Patut Diperjuangkan

Going Deeper, God's Words, 21 May 2019
"Setiap orang punya tujuan masing-masing, akhirnya tetap dijalanin aja rintangannya walau berat"

Ya, quotes di atas muncul dari ucapan temanku ketika mengikuti sebuah acara gathering. Di sela-sela waktu senggang, ia pun berbincang dengan salah satu teman dari Jakarta. Kira-kira seperti inilah percakapannya:


Photo by Fikri Rasyid on Unsplash

"Wah mas, jangan kapok-kapok ya ke Surabaya yang macet ini."

(sambil tertawa) "Walah mbak, mbak. Surabaya mah nggak ada apa-apanya macetnya dibandingkan Jakarta."

"Ya tapi tetep aja macet. Coba kalau bukan karena tujuan orang-orang tersebut yang kerja banting tulang menghidupi anak istri, pasti udah mutung deh yang nyetir-nyetir di jalan itu."

(sambil tertawa) "Hahaha iya mbak, kita semua begitu. Kalau nggak ada tujuan yang penting, pasti ogah-ogahan juga bekerjanya."

Secuplik perkataan tersebut cukup membuatku tergelitik. Aku pun baru menyadari bahwa untuk mencapai sebuah tujuan dari tempat satu ke tempat yang lain harus melewati proses. Dalam berkendara, proses yang dilalui bisa jadi berupa kemacetan, ada kecelakaan di jalan, cuaca yang terkadang hujan dan terkadang panas terik, gangguan dari bahaya maling serta preman, ataupun melewati jalan-jalan yang berlubang, becek, ramai, dan sempit. Namun bila ingin sampai tujuan, para pengemudi pun harus melalui sebagian dari proses tersebut.

Photo by Roshni Sidapara on Unsplash

Sebagai seorang yang sangat sering berkendara sepeda motor, proses tersebut tak asing lagi buatku. Aku pun cukup terbiasa dengan kondisi-kondisi tersebut, sehingga bagiku macet adalah hal yang wajar dan tak perlu dikeluhkesahkan. Namun rupanya tak seorang sama sepertiku: ada pula yang tertekan, stres dan pusing akibat banyaknya kendaraan yang berhenti, disertai dengan asap kendaraan bermotor. Ada pula yang berandai-andai naik mobil terbang biar segera sampai tujuan dengan selamat. Toh pada akhirnya, setiap orang akan melupakan sakit / lelahnya proses tersebut ketika telah mencapai tujuannya.

Ya, aku pernah mengalaminya ketika hendak menghadiri kegiatan Corporate Social Responsibility di sebuah kampung di Surabaya, atas undangan seorang teman. Waktu itu kondisi matahari sangatlah terik, sehingga membuatku berpikir dua kali untuk pergi ke sana, mengingat rumahku cukup jauh dari lokasi kampung tersebut. Tetapi karena teman yang mengundangku, akhirnya aku pun bergegas ke sana.

Photo by Joline Torres on Unsplash

Waktu itu hari Sabtu. Jalan di daerahku luar biasa padat, serta cukup sempit. Bahkan ada beberapa kendaraan besar seperti bus yang membuatku sukar untuk mendahului. Akhirnya, aku pun menunggu di belakang bus, sambil berjalan maju perlahan mengikuti arus. Kebosanan dan ketakutan-keterlambatan yang disertai dengan panas terik, asap knalpot bus serta padatnya kendaraan di jalan yang cukup sempit menghiasi perjalananku menuju acara tersebut. Namun sebuah pesan WhatsApp dari teman cukup menenangkanku, ia bertanya "Sampai mana? Aku tunggu yaa." 

Ya, aku percaya, kemacetan dan keruwetan di jalan raya hanyalah sebagian proses yang harus kulalui demi mencapai tujuan utamaku : Mengikuti kegiatan CSR bersama teman yang telah mengundangku. Dan benar saja. Ketika telah sampai di tempat tujuan, walau sedikit terlambat. aku pun mulai lupa akan kepenatan yang barusan kualami selama perjalanan.

Dari sini aku belajar, bahwa tak semua orang memiliki reaksi yang sama dalam menerima proses. Ada yang biasa saja, biasanya ini terjadi karena sudah terlalu sering mengalami dan cukup kebal. Ada pula yang rapuh, merasa tak berdaya, stres, ingin segera mengakhiri proses hidup. Ada pula yang sukanya dibawa bercanda, suka menertawakan hal-hal buruk yang dialaminya, yang dipoles berupa jokes-jokes, meme, parody, dll. Ada pula yang tabah dan kuat alias tahan banting, bersyukur dan bisa berbuat sesuatu yang berdampak bagi orang lain di tengah proses yang terjadi.

Photo by Ben White on Unsplash

Apapun reaksinya, yang terpenting dalam menjalankan proses adalah mencapai tujuan utamanya dan setia menjalankan langkah demi langkah. Seseorang yang rapuh namun berusaha menjalankan proses (berapapun lamanya), ia akan menjadi seorang yang berhasil mencapai tujuannya. Sebaliknya, bila seorang yang tabah tetapi ia stuck dengan prosesnya (tidak berniat menjalankan proses lagi), maka ia dapat dikatakan kurang berhasil mencapai tujuan utamanya.

Seseorang akan menjadi pribadi yang tahan banting apabila ia memiliki tujuan dan niat yang kuat, yang menjadi bagian dari nyawanya, sekaligus yang harus ia kejar dan capai. Sungguh proses yang membutuhkan perjuangan bila kita ingin tetap kuat dan stabil di tengah hal-hal yang menerpa kita. Mungkin proses yang terjadi di jalan raya tak sebanding dengan proses kehidupan kita, tetapi melalui gambaran ini, kita bisa jadi kembali bersemangat mengingat, tujuan apa yang sebenarnya kita kejar selama ini.


Tetap semangat dan kuat, dan selalu ingat tujuan utama mengapa kita menjalaninya :).


LATEST POST

 

“Dek, kamu mau gak ikut pelayanan?”“Engga.”Yups, aku yakin bahwa k...
by arthia anada | 17 Aug 2019

Bulan ini, Ignite GKI sedang membahas serba-serbi gereja. Bagiku, seiring dengan beredarnya akun-aku...
by Chintya | 17 Aug 2019

Pagi ini, sebelum ada yang datang, lelaki itu sudah tiba, mendirikan motornya, membuka pagar, mengge...
by Prioutomo | 17 Aug 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER