5 Menit: Memandu Diri Menulis Menyintas Hari

Art, The Works, 14 May 2021
5 hal sederhana, untuk memacu diri, menjadi seseorang.

Menit 1: Pembuka (Menulis dengan rangkaian kalimat-kalimat sederhana, dan mengalir)

Bila saya ditanya cara berhitung yang paling sederhana adalah hitungan 1 sampai 5. Ini mengingatkan pada cara kita semua belajar berhitung, yakni dengan menegakkan satu persatu jari jemari di tangan kiri, satu demi satu, dan jari telunjuk kanan kita memandu, memastikan jari-jari kiri kita terhitung dengan benar, satu.. dua.. tiga .. dari jari jempol hingga kelingking.

Langkah pertama, selalu menjadi kenangan kekanak-kanakan kita, bahkan itupun diawali dengan berguling, mendongak, mencoba merangkak dan langkah-langkah sulit lainnya, sebelum seorang kanak-kanak bisa berjalan dengan tegak dan riang bahagia.

Menulis itu semacam menjejakkan kebahagiaan, maka mari memulai dengan keriang-riaan seperti pada waktu kita kanak-kanak. Menulis itu cara sederhana untuk berbahagia, bila kita menemukan cerianya masing-masing.

Menit 2: Satu batu satu kaki (Memilih satu poin pandangan untuk diperdalam)

Seorang siswa yang ingin berguru pada Guru Agung. Dia diterima dan mulai diberi pelajaran pertama, yakni harus mendorong dengan segenap tenaga sebuah batu besar. Atas perintah sang guru, sang siswa dengan tekun mengarakah setiap tenaganya untuk menjalankan tugas, dengan usaha keras, pagi siang dan senja hari. Esok harinya kembali dia melakukan dengan tekun. Namun batu besar itu tak juga beranjak. Hingga suatu hari dia merasa kelelahan dan bertanya kepada Sang Guru Agung, mengapa batu besar tak juga bisa dia pindahkan.

Maka sang Gurupun menerangkan, makna pelajaran mendorong batu besar, bukanlah untuk menggulingkan batu, tetapi pada tangan, kaki dan tubuh yang berlatih, berupaya dan menjalani pekerjaan. Bukan seberapa bergeser batu yang diharapkan sang guru, tetapi perubahan atas tugas yang diberikan. Sang murid pun terdiam, merenungkannya.

Menit 3: Pertanyaan teka-teki (Menemukan makna kisah dari berbagai arah)

Cerita ini juga menjadi batu tapak kaki kita, apakah tujuan dan hasil kita menulis hanya satu hal saja, seperti sang murid yang ingin menjadi digdaya dan kuat. Mungkin tidak ada salahnya, seorang murid yang memandang guru, lalu mempunyai satu kesan "sakti". Guru saya sakti karena bisa dengan mudah memindahkan batu, air dan awan. Andai saja aku dapat memiliki ilmu yang serupa, aku akan bisa memindahkan apa saja dalam hidupku. Lalu apa yang didapati sang murid, ternyata sesuatu hal yang tak diduganya.

Satu poin dalam hidup, yang sederhana sekalipun, dapat menjelaskan banyak hal. Bagi sang murid yang belajar menjadi "seseorang", kini dia menemukan jawaban atas apa yang ada dibenaknya, dan apa pendapat lain yang diperolehnya. Murid belajar dari apa yang dilakukannya sendiri, bertekun melatih kekuatannya sendiri.


Menit 4: Tantangan hari ini (Doronglah batu besarmu hari ini)

Menulis satu tulisan, perlu berlatih. Untuk membuat satu kalimat yang bermakna, dari apa yang kita ingin sampaikan, setidaknya perlu lima kali waktu dan pilihan yang diulang-ulang, hapus - tulis, tulis lagi - hapus lagi, dan tulis. 

Perlu satu tekat untuk menyeselaikan, dan memilih hitungan waktu penandanya. Misalnya menyediakan 5 menit setiap pagi untuk menulis, dan mempublikasikannya. Ignitegki.com, salah satu tempat yang bisa dipakai.

Banyak buku yang ditulis dengan cara yang unik. Pendeta Andar, selalu bangun di jam empat pagi, untuk menulis, berapa buku yang diterbitkannya? 1 buku setiap tahun. Seorang bertekat menulis, selama 40 hari untuk memulai menulis buku setiap hari satu bab, di usianya yang ke 40.


Menit 5: Menginjak batu dengan keriangan

Menulis itu lebih dari upaya mengisi buku diary, menulis bisa jadi penanda perjalanan diri seiring keceriaan akan waktu yang kita miliki. Salah satu kuncinya konon adalah, temukan keceriaannya. Temukan keceriaan hidup, bahkan dibalik kejadian yang kita hadapi, pasti ada titik dimana kita bisa melihat dan menemukan maknanya.

Upayakan sejenak melihat diri sendiri dari jarak dan pandangan yang berbeda, agar kita bisa menemukan keajaibannya, seperti seorang murid yang berlatih menggulingkan batu besar, kini dia melihat otot tangan, lengan dan badannya tumbuh. Keceriaan kecil sekalipun layak untuk kita tulis dan bagikan, karena itulah misteri kehidupan yang memberikan kita tetap ingin melangkah.

Selamat melatih menulis dan berbahagialah. 

 

RELATED TOPIC

LATEST POST

 

SAAT GEREJA “DILARANG” MENGURUSI POLITIKKetika menemukan berita Persekutuan Gereja-Gerej...
by Christan Reksa | 13 Jun 2021

            Di dalam buku nyanyian Kidung Jemaat pada nomor 26 terdapa...
by Christyana Elizabeth Huwae | 13 Jun 2021

Ada orang yang habiskan seumur hidupnyahanya untuk berbuat baik.Lalu khilaf satu kali dan berbuat ke...
by Primaridiana Pradiptasari | 13 Jun 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER