Hidup Bagaikan Pesawat Kertas

Best Regards, Live Through This, 11 January 2021
Kutatap langit di pagi hari, kuawali hari dengan doa

Awal tahun 2021, dibuka dengan beberapa kabar duka. Media nasional memberitakan adanya pesawat dari maskapai Sriwijaya Air yang jatuh di sekitar Kepulauan Seribu, tanah longsor di Sumedang, hingga penambahan kasus konfirmasi positif yang tak kunjung menurun di negeri ini. Sulit membayangkan, jika kita harus secara terus menerus diperhadapkan dengan berita buruk seperti ini. Sebagian ada yang menyalahkan situasi, sebagian yang lain terdiam dan mencoba menerima keadaan secara terpaksa, tetapi ada juga sebagian yang lainnya menelaah dari berbagai sudut pandang dan tetap berusaha berpikir secara positif apa maksud dari semua kejadian yang telah terjadi.


Berat? Jelas sekali sangat berat. Pandemi COVID-19 belum berakhir, kita sudah mendapatkan pemaparan berbagai kabar-kabar yang sangat tidak mengenakan hati. Realita seolah “memaksa” kita untuk menerima kenyataan yang telah ternoda ini. Kita sering bingung, apa reaksi yang tepat untuk kita ungkapkan ditengah kepelikan dalam hidup ini. Aku pun ikut bertanya demikian. Dari perubahan masa transisi kegiatan kampus menjadi daring hingga menjadi seorang Covid warrior pada akhir tahun, serta harus berjuang untuk pulih dari keganasan si kecil virus yang sudah tersebar ke segala penjuru dunia.


Hidup bagaikan pesawat kertas

Terbang dan pergi membawa impian

Sekuat tenaga dengan hembusan angin

Terus melaju terbang


Jangan bandingkan jarak terbangnya

Tapi bagaimana dan apa yang dilalui

Karena itulah satu hal yg penting

Selalu sesuai kata hati

Salah satu potongan lagu tersebut, sering dinyanyikan oleh idol group, JKT48. Lagu tersebut memiliki makna bahwa sejatinya hidup manusia dianalogikan seperti sebuah pesawat kertas. Kemampuannya untuk terbang sangat terbatas. Diri kita dinilai bukan seberapa lama hidup kita, melainkan bagaimana kita dalam menjalani kehidupan yang ada. Realita kehidupan kita tak selamanya berjalan dengan mulus, ada sebuah batu sandungan yang sering membuat kita bersedih hati, seperti pemberitaan media yang sedang naik-naiknya saat ini. Penolakan akan sejatinya terjadi dalam diri kita masing-masing, namun sekalipun tak berjalan dengan lancar, kita harus tetap bersemangat dalam menjalani kehidupan setelah berbagai kejadian yang terjadi dalam hidup kita. 


Poin yang terpenting adalah ketika kita dapat berserah kepada Tuhan dan mengikuti kata hati dalam menjalani hidup. Seperti tertulis pada kitab Yesaya 41:13, demikian:

Sebab Aku ini, Tuhan, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: “Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.”

- Yesaya 41:13

Berbagai masalah yang sangat pelik dalam hidup kita sering membuat kita resah, gelisah, bahkan gundah hati. Terkadang ketika kita mengalami permasalahan hidup, kita tak perlu memendamnya sendirian, kita memiliki Allah yang Maha Penyayang, yang kita panggil Bapa. Rasul Paulus berkata dalam suratnya 1 Korintus 10:13,

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

- 1 Korintus 10:13


Kehidupan memang pelik, tapi sejatinya kita memiliki kebebasan individu agar hidup ini mampu menjadi lebih baik lagi. Tinggal kita saja, mau memilih atau tidak. Tuhan akan tetap menggenggam tangan anak-anak-Nya, meskipun berbagai rintangan menghadang. Ia tidak akan melupakan jalan-jalan yang sudah ditetapkan-Nya untuk kita menjalani kehidupan. Memang sulit menebak apa rencana Tuhan untuk kita, tetapi bukan itulah fokus utama kita dalam menjalani hidup. Kita harus tetap berserah apapun keadaan yang diberikan-Nya. 



Aku tahu, kita pasti meluapkan emosi terhadap realita yang terjadi, tetapi janganlah emosi tadi terus bergejolak hingga waktu yang berkepanjangan karena pasti ada sebuah pelangi sehabis badai menerpa kita semua. Tuhan akan tetap berjalan bersama di samping kita, seperti seorang Bapa mendampingi anaknya berjalan menyusuri hutan. Kiranya Tuhan tetap menolong kita menjalani hari lepas hari sehingga kita menjadi semakin berhikmat dalam memaknai apa arti kehidupan yang sudah Tuhan berikan kepada kita.


LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER