Menertawakan Depresi: Sara pun Tertawa

Going Deeper, God's Words, 23 November 2023
“Sarah’s laughter is faith’s constant companion” - Ernst Käsemann

Disclaimer:

Penulis pernah memiliki depresi klinis. Hingga kini, penulis masih mengonsumsi antidepresan maupun antipsikotik sesuai preskripsi dokter spesialis kesehatan jiwa. Penulis menertawakan depresi dalam konteks menyadari depresi sebagai bagian dirinya. 


KESADARAN KESEHATAN MENTAL: EMANG BOLEH SEPEKA ITU? 

Kesadaran soal kesehatan mental cukup membaik dalam satu dekade terakhir ini.[1] Banyak orang semakin menyadari pentingnya mengelola kondisi mental, mengakui kerapuhan, bahkan merayakan pentingnya keberanian terbuka dan support system untuk menolong yang bergumul dengan kondisi kejiwaannya.[2]

Efeknya, kecemasan, serangan panik, depresi, Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), sampai gangguan bipolar maupun skizofrenia lebih mendapat tempat dalam pembicaraan. Ada kesadaran bahwa kepekaan dan empati begitu penting, juga bahwa selama ini kita memperlakukan kondisi-kondisi kesehatan mental secara bermasalah, menganggapnya karena kurang iman, kurang berdoa, kurang piknik, kurang bersyukur, kurang berjuang, dan kurang lainnya. Kepekaan yang diharapkan tidak selalu terwujud[3], tapi minimal semakin banyak yang menyuarakan bahwa isu kesehatan mental tidaklah sepele.

Apakah ini semua patut disyukuri? Ya, dengan catatan. Angka depresi dan bunuh diri meningkat[4], angka pemakaian antidepresan pun melejit[5]. Sistem ekonomi yang menuntut pertumbuhan tiada henti, masyarakat yang menuntut kesuksesan, ketimpangan sosial yang menjadi-jadi, hingga keterasingan antarindividu karena penyalahgunaan teknologi merupakan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan agar masalah kesehatan mental tak sebatas dipandang sebagai isu medis pribadi belaka.[6]


MENGHADAPI ABSURDITAS: EMANG BOLEH SESADAR ITU? 

Menghadapi absurditas isu kesehatan mental terkadang menghadirkan perasaan buntu. Rasa ketidakberdayaan bisa menjadi-jadi. Benar, terus kelola dan akui emosi diri, terus konsultasi kepada profesional bila diperlukan, terus meminum obat bila membutuhkan intervensi medis. Namun stigma juga akan terus ada, tuntutan sukses dan produktif akan terus mengalir, permasalahan hidup akan terus hadir, dan penderitaan akan terus menjadi bagian hidup bila tak memiliki privilese selangit.

Lalu bagaimana iman Kristen menjawab pergumulan ini?

Seiring berjalannya waktu, banyak inisiatif untuk menggaungkan bagian-bagian Alkitab yang mengafirmasi berbagai macam emosi. Alkitab mencatat kewajaran hadirnya respons yang selama ini dianggap negatif, dan dari situ kita belajar berempati bahkan mengambil aplikasinya ketika bergumul. 

Kita bisa dan boleh marah, berperkara, meratap, maupun berkabung. Kita bisa menarik aplikasi dari Elia yang mengakui keputusasaannya, Ayub yang mengakui keluhan, kemarahan, dan perkabungannya, Daud yang mengakui amarahnya, bahkan Yesus yang mengakui kecemasan-Nya. Singkatnya, peluklah kerapuhan dan serahkanlah kepada Allah yang Maha Rahim.

Namun, bagaimana dengan respons yang agak berbeda menghadapi kecemasan, depresi, kekhawatiran, dan ketakutan? Bagaimana dengan……. tawa, seperti Sara?


Photo by Emily Underworld on Unsplash

PERGUMULAN SARA: EMANG BOLEH SESUSAH ITU?

Sara dan Abraham adalah pasangan yang berada dalam pusaran janji dan penantian yang melelahkan. Mereka mengalami proses bergumul, menderita, dan menahan rasa sakit menunggu yang hampir tak tertahankan. Allah berjanji kepada Abraham bahwa dia akan menjadi bapak dari keturunan yang berlimpah-limpah. Pasangan ini terus menunggu tapi tidak kunjung ada anak yang hadir.

Sara dan Abraham awalnya disebut Sarai dan Abram. Walaupun Allah menjanjikan keturunan, Sarai sudah berusia 90 tahun dan Abram 100 tahun. Anak itu tak kunjung datang. Mereka semakin cemas. Bahkan Sarai “merelakan” Abram mempunyai anak dengan pembantu mereka dari Mesir bernama Hagar. 

Sarai menyadari tindakannya adalah untuk menyelamatkan Abram dari nihil keturunan, tapi itu tidak bisa mencegah Sarai untuk begitu membenci Hagar, sang pengandung keturunan Abram. Bahkan Hagar sempat diusir sampai malaikat menghentikan Hagar dan menjanjikannya keturunan berlimpah pula. Hagar pun kembali dan melahirkan Ismail, yang Abram besarkan sebagai anaknya.

Janji keturunan bagi Sarai terasa begitu jauh. Ada tegangan kuat di rumah tangganya. Tekanan untuk memiliki anak sesuai standar patriarkis, janji Allah akan keturunan melimpah-limpah, usia yang memasuki masa kemandulan, hingga rasa cemburu kepada pembantunya yang malah bisa melahirkan anak bagi suaminya. Khawatir, tertekan, malu, marah, iri, cemburu, sedih, dengki, bercampur menjadi satu. Sarai mengalami pergumulan yang saya sebagai laki-laki tak bisa bayangkan kedalamannya. Konteks Sarai bukan konteks yang subur untuk tawa lepas ceria.


JANJI ALLAH: EMANG BOLEH SELUCU ITU?

Allah berjanji lagi. Dia mengubah nama Abram menjadi Abraham dan Sarai menjadi Sara sebagai tanda janji Allah bagi Abraham dan keturunannya. Respons Abraham? Tawa, tapi bukan tawa lepas ceria, melainkan tawa tidak percaya dan heran atas absurditas janji Allah (Kejadian 17:17). Abraham mengira mungkin maksud Allah adalah Ismail, tapi Allah bersikeras bahwa seorang anak akan lahir dari Sara. Namanya Ishak, dalam Bahasa Ibrani berarti “dia akan tertawa”.

“Komedi” ini berlanjut dengan Sara yang ikut tertawa juga. Tawa tidak percaya, heran, bahkan pahit. Tiga laki-laki (mewakili Allah) mengunjungi Abraham dan Sarah, meyakinkan bahwa Sarah akan segera memiliki anak laki-laki. Sedemikian absurdnya penekanan janji itu sampai Sara ikut tertawa walaupun kemudian Sara agak menyangkali tawanya karena ketakutan dianggap tidak percaya (Kejadian 18:9-15). Kelahiran anak di usianya begitu mustahil. Tawa miris adalah hal yang wajar. 

Kenyataannya, komedi absurd bertransisi menjadi komedi sukacita. Tidak ada yang tak mungkin bagi Allah. Sara mengandung dan melahirkan Ishak. Tawa kini hadir dalam sukacita. Allah telah membuat Sara tertawa. Siapapun yang mendengarkannya akan ikut tertawa bersama Sara juga (Kejadian 21:1-7).


Photo by Brett Jordan on Unsplash


DEPRESI: EMANG BOLEH SEKETAWA ITU?

Sara bergumul dengan depresi. Dia tertekan, malu, iri, bahkan marah. Wajar ketika semuanya terasa begitu absurd dan memuakkan, sehingga batas antara tragedi dan komedi sungguh kabur. Lalu, apa yang menyebabkan Sara berani tertawa?

Menurut Catherine Conybeare[7], tawa Sara begitu aneh sehingga para bapa gereja yang menafsirkannya di abad awal pun kebingungan bagaimana menerjemahkan tawa tersebut. Tawa bisa tampak merendahkan, menganggap remeh, atau malah tidak serius. Namun sesungguhnya bisa jadi penulis Kejadian dengan yakin menulis tawa itu karena tawa menantang apa yang seharusnya tampak wajar.

Tawa selalu muncul dari refleks, datang tiba-tiba tak diundang, Ketika tertawa, seringkali kita tak bisa menguasainya. Tawa memaksa kita menghargai keterbukaan radikal yang terarah kepada dunia di suatu momen. Tawa Sara di Alkitab bisa jadi adalah undangan Allah untuk mengapresiasi tawa bahkan dalam situasi aneh. Tawa biasanya tidak memiliki tujuan, dan untuk itulah tawa menantang cara pandang bahwa segala sesuatu harus ada “gunanya". Tawa mengundang kita merayakan “yang kini dan di sini,” yang tidak bisa ditangkap media perekam apapun.

Kita bisa saja memandang sinis tawa Sara yang pertama dan menganggap remeh tawa Sara yang kedua. Namun bagaimana jika tawa itu adalah interupsi Allah akan hidup Sara yang penuh rundungan eksternal dan internal, kemarahan, depresi, dan keputusasaan? Bagaimana jika sejak tawa pertama pun Allah melihat segala sesuatunya baik dalam waktunya, sesuai tujuan yang dijanjikan Allah?

Tawa Sara bisa jadi adalah tanda permulaan perwujudan janji Allah. Ada tantangan terhadap narasi sebelumnya, digantikan dengan narasi baru yang indah dan melahirkan sukacita tak terkira walau awalnya tampak kelam.


MENYINTAS DAN BERPULIH: EMANG BOLEH SECERIA ITU?

Saya pun merefleksikan pergumulan Sara dalam konteks pribadi. Proses saya untuk pulih seringkali begitu jauh dari keceriaan, bahkan penuh konflik internal maupun eksternal. Pergumulan saya tidak sedahsyat pergumulan menahun Sara. Saya pun belum yakin akan mendapat resolusi seindah kisah Sara melahirkan Ishak. Namun, saya belajar melihat ke belakang. Ternyata proses menyintas dan berpulih sejak awal punya keinginan bunuh diri (masa SMA), pertama kali didiagnosis punya depresi klinis (masa akhir kuliah, Desember 2013), hingga kini ketika diagnosis sudah jauh lebih ringan, semuanya berada dalam bingkai sukacita tak terkira yang dari Tuhan saja.

Tawa pertama dan kedua Sara juga hadir dalam pengalaman-pengalaman saya. Baik pengalaman gelap yang melahirkan tawa ironi, pahit, bahkan putus asa, sampai pengalaman terobosan yang melahirkan tawa yang menyebabkan saya berkata, “oh ternyata begini ya maksud-Mu, Tuhan.”

Vinoth Ramachandra[8] mengutip perspektif Ernst Käsemann atas tawa Sara, “Sarah’s laughter is faith’s constant companion.” Tawa Sara adalah kawan setia iman. Tawa itu hadir baik ketika Sara tertawa karena tidak percaya saat dia mendengar janji Allah bahwa dia akan mengandung anak biarpun sudah berusia senja (Kejadian 18:12) dan ketika Sara tertawa setelah kelahiran Ishak, kini dalam sukacita. Bahkan lebih jauh, menyatakan bahwa setiap orang yang mendengar tentang mukjizat ini akan tertawa pula (Kejadian 22:6)

Tawa Sara menunjukkan potensi manusia untuk meragu maupun merasakan sukacita yang tak tergambarkan. Sukacita itu hanya bisa datang setelah pergumulan serius dan jujur. Sukacita hadir jika kita berani meragu, meratap, menangis, bahkan marah.

Laughter is the closest thing to the grace of God.Karl Barth

Maka tertawalah, bahkan dalam kepahitan, keputusasaan, depresi, pun kekelamanmu. Bisa jadi tawa itu adalah langkah iman untuk meyakini interupsi anugerah Allah, yang pada akhirnya akan menghapus segala air mata dan menghadirkan tawa di langit dan bumi baru.



Referensi:

[1] Lindsay Holmes, "This Was The Decade That Changed The Way We Think About Mental Health," HuffPost, 20 Februari 2020: https://www.huffpost.com/entry/decade-defined-mental-health_l_5dfbb32fe4b01834791d713c 

[2] Nicole Spector, “Mental health: How we've improved and where we need to do better in 2020,” NBC News, 11 Januari 2020: https://www.nbcnews.com/better/lifestyle/mental-health-how-we-ve-improved-where-we-need-do-ncna1108721 

[3] Reina Gattuso, “The Conversation on Mental Health Changed for the Better in the Last Decade,” Talkspace, 6 Januari 2020: https://www.talkspace.com/blog/mental-health-stigma-through-decade/ 

[4] Lisa Shea, MD, "The Rise in Suicide," Lifespan, 8 Juni 2023: https://www.lifespan.org/lifespan-living/rise-suicide 

[5] Corrinne Burns, "Antidepressant prescribing increases by 35% in six years," The Pharmaceutical Journal, 8 Juli 2022: https://pharmaceutical-journal.com/article/news/antidepressant-prescribing-increases-by-35-in-six-years 

[6] James Davies, Sedated: How Modern Capitalism Created our Mental Health Crisis, (London: Atlantic Books, 2021)

[7] Catherine Conybeare, The Laughter of Sarah: Biblical Exegesis, Feminist Theory, and the Concept of Delight (New York: Palgrave Macmillan, 2013)

[8] Vinoth Ramachandra, Sarah’s Laughter: Doubt, Tears, and Christian Hope (Carlisle: Langham Global Publishing, 2020)


LATEST POST

 

Pemerintahan di dunia ini dilaksanakan dalam berbagai metode, namun pada intinya adalah mengatur sec...
by Oliver Kurniawan Tamzil | 29 Feb 2024

Image on PexelsMarilah kita membayangkan diri kita sendiri ketika kita sudah tua nanti? Apakah kita...
by Samuel wangsa | 18 Feb 2024

Lagu Kidung Jemaat no. 249 berjudul "Serikat Persaudaraan" mungkin sudah tidak asing lagi...
by Alviedo Yuda | 14 Feb 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER