Menjaga Lingkungan: Perspektif Studio Ghibli dan Alkitab

Best Regards, Live Through This, 29 April 2020
“What I want is for the humans and the forest to live in peace!” – Ashitaka, Princess Mononoke (1997)

Berita yang disampaikan akhir-akhir ini lebih banyak berfokus pada berita penyebaran COVID-19 yang saat ini mencapai lebih dari 3 juta kasus. Tidak jauh dari topik itu, beberapa media memberikan gambaran mengenai keadaan lingkungan yang “membaik”, seperti menurunnya tingkat polusi di kota-kota besar dunia. Banyak orang yang beranggapan bahwa wabah ini muncul akibat kegagalan manusia menjaga alam dan merasa bahwa wabah ini menjadi cara untuk mengembalikan ekosistem seperti semula.

Beberapa tahun terakhir, kita sering mendengar berita mengenai perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, seperti kebakaran hutan di Amazon dan Kalimantan. Terdapat banyak pihak yang memperkirakan kapan dunia kiamat akibat kerusakan alam berdasarkan perhitungan ramalan yang dapat mereka temukan, baik dari kitab suci maupun penanggalan suku Maya, tetapi tidak ada ramalan yang terbukti kebenarannya.

Menanggapi masalah ini, beberapa pihak menganggap bahwa perubahan iklim hanyalah propaganda atau hoax semata. Sementara, terdapat beberapa orang yang sangat mendukung usaha perbaikan alam melalui rehabilitasi dan edukasi melalui media.


Studio Ghibli dan Environmentalism

Akibat wabah ini, banyak orang harus melakukan self-quarantine, dan hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang-orang yang baru lulus kuliah dan belum bekerja. Sebagai salah satu dari kaum ini, salah satu aktivitas baru yang saya lakukan binge watching film-film dari salah satu studio favoritku, Studio Ghibli.

Banyak yang mengetahui studio ini dari 2 film ikonik mereka, My Neighbor Totoro dan Spirited Away. Jika kalian merupakan penggemar Studio Ghibli, kalian dapat menyadari adanya ciri khas yang pasti muncul pada film-film mereka: tokoh perempuan yang kuat, tidak jelasnya garis antara jahat dan baik di antara para tokoh, propaganda anti-perang, serta dinamika manusia dan lingkungan.

Dua film yang menurutku sangat kuat menceritakan dinamika manusia dan lingkungan adalah Nausicaä of the Valley of the Wind dan Princess Mononoke. Konflik utama kedua film ini menggambarkan bagaimana manusia terus menerus merusak lingkungan demi kepentingan mereka sendiri dan mengakibatkan alam untuk berbalik melawan mereka. Dengan konflik yang terjadi, tokoh utama di kedua film berusaha menjadi penengah dari kedua belah pihak yang saling berseteru.

“Modern life is so thin and shallow and fake. I look forward to when developers go bankrupt, Japan gets poorer and wild grasses take over.” (Kehidupan modern sangatlah tipis, dangkal, dan palsu. Saya menunggu masa ketika penanggung jawab pembangunan bangkrut, Jepang menjadi miskin, dan tanaman liar mengambil alih.) – Hayao Miyazaki

Hayao Miyazaki, salah satu pendiri Studio Ghibli, adalah orang yang sangat ekstrim dalam hal menjaga lingkungan, yang terinspirasi dari ajaran Shinto, kepercayaan asli Jepang. Berdasarkan ajaran ini, manusia diajak untuk hidup harmonis dengan lingkungan, dan jika manusia merusaknya, alam akan melawan manusia dalam bentuk bencana atau kutukan, karena mereka menganggap setiap benda memiliki roh atau dewa yang dapat mendukung atau menyerang manusia. Pada konteks wabah yang terjadi saat ini, orang menganggap hal ini terjadi akibat amarah alam kepada manusia yang tidak bisa menjaga bumi.

Sebagai penggemar film-film Ghibli, saya mendapatkan pesan yang cukup ekstrim mengenai lingkungan melalui film yang ia produksi. Hal ini merupakan hal yang positif, namun saya menyadari ada beberapa nilai yang bertentangan dengan Alkitab, dan mendorongku untuk berpikir kritis.

Apa Kata Alkitab?              

“Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” – Kejadian 1:28 (TB)

Ayat di atas menjadi ayat yang sangat diingat oleh kalangan orang Kristen ketika membicarakan mengenai pengelolaan alam, dan sayangnya, sering disalahartikan. Orang sering menggunakan ayat ini sebagai “alasan” untuk mengeksploitasi bumi demi keuntungan mereka sendiri.

Berbeda dengan ajaran Shinto dan apa yang disampaikan melalui film Studio Ghibli, orang Kristen tidak mengakui adanya dewa dalam bentuk benda hidup maupun benda mati. Jadi, anggapan bahwa alam menyerang manusia akibat kegiatan manusia yang merusak tidak sepenuhnya benar. Yang dapat kita percaya adalah keadaan manusia yang berdosa telah merusak hubungan manusia dengan sekitarnya, termasuk dengan alam, dan Allah ingin manusia kembali kepada-Nya. Jika dikatikan dengan kondisi dunia saat ini, Tuhan, bukan alam itu sendiri, sedang menggunakan alam untuk memberikan manusia pelajaran. Terdapat beberapa contoh ini di Alkitab, seperti 10 wabah yang terjadi di Mesir (Keluaran 7-12) dan wabah sampar akibat dosa Daud (2 Samuel 24).

Photo by Henry Be on Unsplash 

Mengapa kita harus menjaga bumi? Pertama, tentunya, karena kita tinggal di dunia ini. Tanpa dunia yang baik kita akan susah untuk menjalankan kegiatan kita dan, secara khusus, panggilan kita. Kedua, Tuhan tidak hanya meminta kita untuk mengelola bumi, kita diminta untuk menjaganya sebagai bagian dari ciptaan Allah. Dan terakhir, mengelola bumi merupakan usaha yang dikerjakan oleh manusia sebagai mitra Allah.

Bagaimana caranya?

“Hanya Engkau adalah Tuhan! Engkau telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah kepada-Mu.” – Nehemia 9:6 (TB)

Pertama-tama, ingat bahwa bumi yang kita tinggali dan kita kelola adalah ciptaan Allah, dan Allah menciptakan semuanya baik. Dengan itu, kita yang juga merupakan ciptaan Allah sebenarnya tidak berhak memiliki bumi, tapi dengan kepercayaan yang Allah berikan, kita diberi wewenang untuk mengelolanya.

Kita bisa menjaga bumi dengan mengelolanya sesuai dengan kemampuan kita. Tidak masalah jika panggilanmu adalah menjadi aktivis lingkungan atau bekerja di pertambangan. Yang harus dihindari adalah memiliki sikap yang ekstrim, misalnya menjadi orang yang menentang pengelolaan alam sama sekali, maupun mengeksploitasi secara berlebihan. Nilai ini adalah salah satu nilai positif yang saya dapatkan setelah menonton beberapa film dari Studio Ghibli. Pada akhir dari kedua film yang saya bahas di atas, manusia tetap mengelola alam tempat mereka tinggal dan mengembangkan kota untuk mereka bertahan hidup, tapi tidak melupakan aspek lingkungan yang harus tetap mereka jaga.

Hutan di Pulau Yakushima yang menjadi inspirasi latar Princess MononokeMari menjaga bumi, dan stay safe!

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER