What am I? Krisis Eksistensi dari Kelas Filsafat

Going Deeper, God's Words, 14 October 2019
Temukan jawabannya, meskipun itu mengerikan.

Kata orang, setiap zaman ada masanya dan setiap masa ada orangnya.Bagi sebagian kita, mengingat masa lalu bisa menjadi menyenangkan; atau sebaliknya, mengingat masa lalu justru menyebalkan dan menyedihkan. Entahlah.

Kali ini izinkan saya ajak kita sekalian untuk melintasi masa lalu dan bertemu dengan Heidegger, seorang pencetus Hermeneutika Faktisitas yang mungkin terdengar asing bagi sebagian besar kita. Sebagai seorang pemikir yang dalam, pemikiran Heidegger bisa saja disalahartikan sebagai sikap "tidak percaya Tuhan". Namun tunggu dulu, kita pelan-pelan lihat apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Heidegger.



Pemikiran yang pertama adalah mengenai pengertian "ada". Pemikiran ini pada hakekatnya adalah meniadakan ketiadaan. "Ada menentukan dirinya sendiri," (saya pinjam kata-katanya DKL, dosen saya di kelas Hermeneutika yang sedikit banyak menginspirasi saya untuk berjalan dalam perenungan hidup ini.) 

Inti pengertian "ada" itu misalnya: "ada kursi" berarti memang pada realitanya ada benda berbentuk dan kemudian kita namakan kursi. Sebutan kursi itu ada karena kesepakatan kita memanggilnya kursi, tetapi pada dasarnya benda itu ada dengan atau tanpa sebutan kursi itu sendiri.

Yang kedua—ini yang menarik bagi saya—adalah mempertanyakan "Apa itu?". Misalnya: apa itu meja? Apa itu buku? Apa itu jalan? Filsafat sekali! 

Tunggu dulu, ini belum masuk pada main course-nya. Konstruksi berpikir manusia kemudian mengubah pertanyaan menjadi seperti: Siapa kamu? Di mana rumahmu? Dan lain sebagainya. Kalau kita ingin menggunakan akarnya, tinggalkan dulu konstruksi berpikir kita, dan mulailah bertanya dengan "What?". DKL mengatakan, kita hidup sebenarnya untuk mempertanyakan realitas. Cobalah kita menggunakan filosofi without God atau ketiadaan Tuhan sejenak. Singkirkan dulu teori dan konstruksi berpikir kita. 

Kedua pemikiran ini saya dapatkan di dalam kelas Hermeneutika. Selesai kelas, muncul sebuah pemikiran: "Sebenarnya, siapa saya? Wait, salah! Sebenarnya, apa saya? Bahasa Inggrisnya, 'What am I?'

Dua hari dua malam saya berusaha mencari jawabannya. Saya berjalan kaki dari kampus ke kos dengan menghitung langkah, menatap jarum detik di jam tanganku yang kebetulan masih bergerak, dan hasilnya hanya muncul tanda tanya yang semakin besar. Di kamar kos, membuka laptop, bukannya mencari jurnal atau bacaan ala anak-anak S2 yang siap untuk menulis paper, saya malah duduk merenung di depan tulisan Ibadah Kristen, sambil bertanya, “Lukas, kamu (gunakan i't' bukan 'you') ini apa?” 

Ini penting teman-teman. Terkadang kita lupa, sebenarnya "Apa kita?" Kalau kamu jawab namamu, atau profesimu, itu menjawab “Who am I?”, bukan “What am I?” dan artinya kamu masi dijebak oleh konstruksi berpikirmu.

Sudah mulai pusing? Saya tambah sedikit ya, masih dari buku yang sama hanya beda tokoh. Kali ini saya tambah dengan Dilthey, tokoh Hermeneutika lain yang banyak menyinggung tentang kemanusiaan dan sosial. Ia mengajukan teori yang intinya, carilah maknanya. Pertanyaan saya saat di kelas, "What is the meaning of meaning?" Jadi jika kamu menjawab, “Arti hidupku adalah bla bla bla.” mungkin kamu belum lulus dengan perenungan “Apa kita?”. Karena buat saya, jawaban “What am I?” akan membantu kita untuk menjawab “What is the meaning of meaning on my life?

Saya tidak sedang menulis tentang teori-teori atau tulisan-tulisan filsuf modern, tetapi saya mau mengajak kita bertanya, sama seperti yang saya tanyakan pada diri saya saat itu, "What am I?" Buat saya ini penting, sepenting kalau kita bertanya, "Why am I? Mengapa saya?” walaupun ada konstruksi berpikir dalam pertanyaan itu, yang saya kira masih bisa ditolerir.

Bisakah kamu menjawab pertanyaan itu? "Buat apa?", mungkin kamu akan bertanya seperti itu. Jawab saya singkat, karena mungkin saya bukanlah saya. Maksudnya adalah, mungkin kita bukanlah apa yang kita pikirkan. Mungkin selama ini kita hidup dalam konstruksi berpikir yang salah. Konstruksi yang salah, akan membawa kita pada salah arah dan salah jalan, atau bisa juga salah waktu. Lalu, akhirnya kita duduk di pojokan kamar dan menyesali hidup kita sendiri. Menyesali tindakan kita sendiri. Dan yang kata orang lebih parah (tapi buat saya tidak), menyalahkan Tuhan atas hidup kita. Pertanyaan gampangnya, sudahkah kita tahu apa kita sebenarnya? Apa kita tahu makna hidup kita?

Ambillah waktu merenung dan bertanya, "What am I?" dan cobalah untuk jujur pada diri kita dalam menjawab pertanyaan itu. Niscaya, kita akan mengerti jalan mana yang harus kita ambil. Kalau kamu sudah bisa mengerti jawabannya, bahkan menertawakannya, masih dari DKL,  jawaban atas pertanyaan itu akan memunculkan rasa takjub dan aware di saat yang bersamaan. Selamat bertanya, kawan. Temukan jawabnya, meskipun itu tidak menyenangkan. Temukan jawabannya, meskipun itu mengerikan. Setidaknya kamu akan tahu, "Apakah kita ada di jalan yang sesuai?" Dan akhirnya kita bisa menjawab pertanyaan Dilthey "What is the meaning of me?"

LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER