Apakah Alkitab cukup?

Going Deeper, God's Words, 27 August 2022
“Alkitab cukup untuk membingkai keseluruhan pengalaman manusia dan konteks di mana pengalaman itu terjadi sesuai dengan tujuan esensial Allah bagi manusia untuk mencerminkan kepribadian-Nya melalui Injil Yesus Kristus.” - Jeremy Pierre

Rasanya bukan hal yang asing jika kita menjadi skeptis dengan hal-hal yang bersifat doktrinal. Benar, kebanyakan dari kita cenderung untuk mengutamakan logika. Jawaban yang bersifat akali sering dijadikan alasan kita menolak hal-hal yang sebenarnya tanpa kita sadari, kita telah membatasi diri untuk menerima kebenaran. Kita sering bertanya ini dan itu. Begitu pun aku.   

Dalam lamunanku yang ditemani dengan secangkir teh panas di suatu sore, tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan: “Apa benar Alkitab saja sudah cukup untuk menuntun kehidupan orang percaya? Dan apakah Alkitab juga cukup untuk memahami kehidupan manusia?” Seketika itu aku merasa pertanyaan ini tidak etis, tapi jika dipikir ulang, aku yakin keraguan tentang Alkitab dan pertanyaan seperti ini setidaknya pernah singgah sebentar di benak kita sebagai orang percaya. Faktanya, Alkitab sangat diperlukan dan cukup untuk memberi manusia kerangka kerja untuk memahami setiap aspek kehidupannya selama ia hidup.

Allah merancang manusia untuk membutuhkan Dia. Oleh karena itu, Allah juga menghendaki kita untuk mengenal-Nya melalui Alkitab. Hal ini bertujuan untuk memberi tahu diri kita tentang dunia-Nya sehingga kita juga dapat memahami bagaimana pandangan kita sendiri tentang hal itu. 

Dalam pencarianku mengenai pertanyaan tentang kecukupan Alkitab, akhirnya aku menemukan beberapa alasan penting mengapa Alkitab cukup untuk memahami kehidupan manusia:

  1. Alkitab cukup untuk mengajarkan sesuatu; yaitu, segala sesuatu yang diperlukan sebagai doktrin dan pemahaman tentang keselamatan; dan tidak membutuhkan hal lain untuk mengajarkan segala sesuatu. Fungsi kecukupan ini sejalan dengan kesaksian Alkitab tentang dirinya sendiri (2 Tim. 3:15 – 17; 2 Petrus 1:3 – 4).
  2. Alkitab cukup untuk melakukan sesuatu; yaitu segala sesuatu yang diperlukan bagi manusia untuk menerima dan mengenal Allah melalui Injil Yesus Kristus. Fungsi kecukupan ini juga sejalan dengan kesaksian Alkitab tentang dirinya sendiri (Yes. 55:10-11; Yakobus 1:18; 1 Petrus 1:23). 
  3. Alkitab cukup untuk melihat sesuatu; yaitu melihat semua ciptaan dari sudut pandang Allah. Alkitab adalah sarana yang cukup yang dengannya kita memahami informasi di luar Alkitab dalam arti yang sesungguhnya. Allah telah memberi kita semua yang kita butuhkan untuk membentuk perspektif yang berorientasi pada-Nya.

Allah adalah pemilik otoritas tertinggi, oleh karena itu Allah berbicara kepada kita dengan cara yang menuntut penyerahan kita pada perspektif-Nya. Alkitab memiliki lebih dari sekedar otoritas ensiklopedis, yang berarti bahwa setiap topik yang dibahas dalam Alkitab, Firman Tuhan melakukannya dengan otoritas tertinggi dari Allah sendiri. Selain itu, Alkitab juga memiliki otoritas empatik, yang berarti bahwa apa pun yang Allah tarik sebagai hal yang penting atau perhatian yang utama, maka hal itu juga harus menjadi perhatian utama kita. Dengan demikian, jelas bahwa segala sesuatu dalam Alkitab datang kepada kita sebagai sebuah komunikasi yang otoritatif. 

Singkatnya, kecukupan Alkitab bukan hanya soal informasi spesifik yang terkandung dalam Alkitab (ensiklopedis), tetapi bagaimana kata-kata ilahi itu menuntut prioritas perspektif pada informasi yang tidak terkandung dalam Alkitab (empatik). Dengan kata lain, hanya Alkitab yang kita butuhkan untuk memahami rancangan dan tujuan akhir Allah bagi manusia. Semua informasi lain yang kita peroleh tentang kehidupan manusia, baik itu perkembangan, kognitif, neurologis, atau lainnya, harus ditafsirkan berdasarkan perhatian utama Allah (sudut pandang-Nya).

            Jadi, bagaimana setelah kita belajar dan mengetahui hal di atas? Luar biasa, bukan? Apakah kita masih bertanya-tanya mengenai fungsi dan kecukupan Alkitab? 

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER