Bu Tejo dan Problem Masyarakat Kita

Best Regards, Live Through This, 24 August 2020
Karena ketika dua-tiga orang berkumpul, ghibah pun hadir di situ.

"Siapa gerangan Bu Tejo, mengapa ia begitu viral ?"

Ketika Anda mencari di mesin pencari, yang anda temukan adalah cuplikan-cuplikan scene film, atau foto wanita berjilbab hijau dengan tambahan tulisan lucu - lucu karena begitu kocak sekaligus menyebalkannya sosok "Bu Tejo" ini.

Bu Tejo adalah sosok ibu-ibu yang menjadi tokoh sentral pada film berdurasi 32 menit berjudul "Tilik" - berasal dari bahasa Jawa yang artinya "menjenguk". Film yang dikemas sangat singkat nan cerdas, dengan setting pembicaraan ibu-ibu di bak truk yang sedang dalam perjalanan menjenguk Bu Lurah dari desa ke sebuah rumah sakit di kota.

Tilik dan Kedekatan dengan Keseharian

Saya kira, salah satu yang membuat sebuah karya seni begitu disukai, mau itu film atau lagu, adalah kedekatan dengan keseharian. Bagaimana kita "relate" dengan karya tersebut. 

Didi Kempot menjadi populer karena dekat dengan keseharian anak muda yang merasakan lika-liku "ambyar" atau patah hati, dan segala gundah gulana masalah percintaan.

"Tilik" pun, adalah potret keseharian kita. 

Film dimulai dengan serombongan ibu-ibu dari desa yang berencana menjenguk (tilik) bu Lurah dengan menyewa truk.

( https://public.urbanasia.com/images/post/2020/08/19/1597826908-tilik.jpg )

Untuk mencairkan suasana, ada yang mencoba membicarakan sesuatu yang "seru", atau bahasa gaulnya gibah, dan topiknya adalah seorang kembang desa bernama Dian.

Oh tentu saja, sangat aneh bila pembicaraan sejenis tidak pernah kita temui. Bahkan nyaris tidak mungkin bila kita - paling tidak sekali dalam seumur hidup - tidak pernah melakukannya.

Karena itulah, "Tilik" menjadi sangat dekat.


Bagaimana Tilik Mengkritik Kebiasaan Buruk Masyarakat

Beberapa orang mengkritik "Tilik" sebagai film yang justru melanggengkan stereotip ibu-ibu yang suka bergibah dan netizen maha benar.

Yang saya lihat justru sebaliknya.

Aspek kedekatan dengan kebiasaan ini justru adalah sebuah ironi - tentang kebiasaan yang kita jarang sadari. 

Arus informasi yang cepat akibat internet membuat kita mudah menerima informasi, tetapi juga tidak jarang membuat kita mudah percaya terhadap berita yang belum jelas kebenarannya - lebih parahnya: kita sudah mengambil kesimpulan hanya dari berita yang sepotong-sepotong dan menyebarkan ke grup WhatsApp atau media sosial lain.

( https://www.djkn.kemenkeu.go.id/artikel/baca/13206/Jangan-Mudah-Termakan-Hoax-Saring-Sebelum-Sharing.html )

Selain itu, "Tilik" juga mengajak kita "menilik" jauh di dalam diri kita - bahwa kecenderungan kita ngomongin orang lain itu berasal dari sisi insecure terhadap diri sendiri. Ada satu dialog menarik yang menunjukkan, bahwa di balik mulut pedas Bu Tejo, ia sebenarnya insecure, takut suaminya digoda oleh Dian.

( https://reputationtoday.in/manifestations-of-insecurity/  )

“Aku ki ora fitnah, aku gur jogo-jogo wae lho. Yo, jogo-jogo nek Dian ki wedokan ra nggenah. Nggoda-nggodani bojo-bojone dewe”

Terlepas dari apapun profesi, pendidikan, latar belakang masyarakat, kita semua bisa saja adalah bu Tejo. Kita insecure, tetapi untuk menutupinya, kita menjelek-jelekkan orang lain dan memberi stigma-stigma buruk terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat kita.

Nah, kesamaan inilah yang sebenarnya kami tarik dan kami narasikan begitu bahwa perempuan yang punya status single itu sering digunjing, sering diomongin banyak orang. Padahal orang-orang itu enggak tahu sebenarnya background story itu, asal nge-judge, lah.

*Disadur dari wawancara medcom.id dengan sutradara Tilik : Wahyu Agung Prasetyo (https://www.medcom.id/hiburan/montase/Wb70o4Pk-wawancara-eksklusif-sutradara-film-tilik-yang-heboh-di-media-sosial  )

Tilik, dengan sangat baik menggambarkan sebuah problem di masyarakat, dan kompleksitas manusia itu sendiri.

Bahkan di akhir film pun, kita mengerti bahwa Bu Tejo juga adalah pribadi yang kompleks, yang ternyata juga tidak seburuk lambe nya. Ia adalah orang yang pandai memenangkan hati massa dan solutif.

( https://cdn.idntimes.com/content-images/post/20200820/9-8aa28837a715db14f3495ac6d57fca4d.jpg )

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? - Matius 7 : 3

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER