The Story of Peter Pan: a Kid Who Had Never Grown Up

Best Regards, Live Through This, 10 June 2021
Saya kesel gitu. Karena saya juga tidak bisa mengatakan kekecewaan saya, saya langsung pergi dari studio. Saya angkat tas, saya keluar ke jalan. .....

Waktu saya SMA, saya pernah terlibat dalam sebuah pelayanan kristen. Waktu itu kita ada acara retreat. Saya ikut pelayanan mimbar tapi lupa apakah jadi Worship Leader atau singer, sepertinya Worship Leader karena saya ingat saya pilih lagu.

Nah, dari kecil saya orang yang tertutup, sulit bahkan cenderung tidak bias mengungkapkan apa yang saya rasa atau pikirkan. Mungkin ada yang bertanya-tanya, masa sih ada orang / anak kecil yang seperti itu? Katakanlah anak kecil cenderung ekspresif ya, nangis ya nangis aja mau sesuatu teriak minta. Tapi nyatanya ada lho. Jadi gimana itu waktu kecil? Ya DIEM AJA. Apapun yang terjadi diem aja. Ga ngomong, jarang nangis, nggak pernah minta apa-apa kalo diajak ke toko. 

https://unsplash.com/photos/x4jryuLEdzM

Balik lagi, waktu latihan band untuk pelayanan mimbar itu, ada satu peristiwa yang menggegerkan. Saya tidak deket dengan temen-temen, saya jarang ngomong. Dan mereka mungkin juga bingung berkomunikasi sama saya. Jadi mereka cenderung ribut sendiri (di antara mereka), tapi saya tahu mereka tidak benci, itu yang bikin saya tidak masalah ada di lingkungan mereka. Nah, waktu itu di salah satu latihan, ternyata (saya lupa) atau suatu kendala teknis sepertinya jam sewa studio (kami sewa studio untuk latihan) tidak memungkinkan untuk latihan 2 sesi sekaligus. Jadinya yang bagian pas saya WL-nya mau diskip dulu. Saya tidak masalah dengan itu tapi yang bikin saya kecewa adalah temen-temen tidak ngomongin itu ke saya. Jadi mereka ngomong-ngomong sendiri. Saya dengerin. Saya kesel gitu. Karena saya juga tidak bisa mengatakan kekecewaan saya, saya langsung pergi dari studio. Saya angkat tas, saya keluar ke jalan. Pada saat itu baru pada ngeh dan panggil-panggil saya. Padahal saya nggak tahu jalan tapi saya udah keluar aja jalan tapi saya inget ini studio deket rumah saya.

Terus, salah seorang temen (yang dia bagian drummer), kejar saya pake motor. Ikutin pelan-pelan di belakang sambal panggil,”Mon, Mon. Kamu kenapa? Ayo balik.” Kayaknya kurang lebih gitu. Saya bener-bener nggak bisa ngomong akhirnya nangis aja (sedih dan terharu, karena saya tahu kok mereka nggak jahat, cuma kita nggak bisa berkomunikasi dengan baik). Terus kujawab,”Aku mau pulang, anterin aku pulang.” Ya udah dianter pulang.

Jadi waktu itu, saya awkward untuk ikut nimbrung dan hanya sekedar bilang,”Yah kok nggak jadi sih?” Sebenarnya gitu aja kan inti permasalahannya. Tapi nggak bisa. Kalau sekarang mau ngomong apa aja ke orang udah bisa. Bertahun-tahun setelah itu, sekarang kita pada dewasa, saat saya ingat kembali, kayak Tuhan tu mau bilang, sejauh ini lho Dia sertai saya. Yang dari kecil nggak pernah ngomong, sampe sekolah, SMP SMA, masih sulit berkomunikasi sama orang sampe akhirnya bisa jadi diri saya yang sekarang. Walau bukan orang yang ahli speaking tapi udah jauuuh sangat banyak kemajuannya. Dari yang nggak tahu harus gimana ngomong ke orang (lebih suka lewat surat, menulis) sampai akhirnya bisa ngomong apa yang ada di pikiran. 


https://unsplash.com/photos/oToeIG_3G6E

Dan jika banyak yang bilang UMUR HANYA ANGKA. Itu sebenarnya tepat banget. Kamu bisa bertambah usia tapi kamu tetap punya sisi kanak-kanak, kamu bisa berumur 70 tapi kamu tetap merasa berjiwa muda. Walau saya udah bukan pemuda di usia awal 20-an tapi entah kenapa (mungkin banyak juga yang ngalamin) saya merasa entah sejak kapan, saya merasa usia saya masih 20-an awal aja. Kadang jiwa kita terlambat menua. Sampe baru beberapa waktu terakhir, saya nyadar dan segera berusaha memiliki pemikiran layaknya orang-orang seusia saya.

Di situ saya ingat tentang Peter Pan, tokoh kartun yang menolak menjadi dewasa dan konon terinspirasi dari bocah yang sudah meninggal dunia. Mungkin tanpa sadar saya pun pernah menjadi ‘Peter Pan’. Bahkan sampai sekarang mungkin saya masih seperti itu. Karena ada masa saya terlambat untuk bisa berkomunikasi dan ‘merasa’.

Tapi bagi saya pribadi, mau gimanapun keberadaan saya dulu atau sekarang saya tidak pernah lagi kecewa atau menyesal. Bukankah Tuhan sudah menyertai saya? Jadi kalau Tuhan sudah sertai pasti semuanya baik. Dan inilah identitas saya. Kita tidak perlu menjadi orang lain.

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

TAGS

 

#ignite

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER