Hati yang Hancur: Persembahan Majus Masa Kini

Best Regards, Live Through This, 11 May 2019
Take this fainted heart, take these tainted hands.Wash me in your love, come like grace again… -Even When It Hurts, Hillsong

Jakarta, Agustus 2018

Ada yang banyak alasan orang putus – dan gue orang yang sering banget kena nasib mendapat alasan putus yang nggak bermutu. Gue pernah putus gara-gara keluarga mantan nggak bisa terima gue punya sakit lupus (yang mana cukup bisa dipahami sih, karena keluarganya dokter semua; tapi #monmaap ni, tetep aje ngilu).

courtesy of @budesumiyati

Gue pernah putus gara-gara secara horoskop gue dan dia dianggap nggak cocok.

courtesy of me.me

Gue pernah putus gara-gara dijadikan pelarian dia dari mantannya.

courtesy of me.me2

Bener banget kata Raditya Dika di salah satu bukunya: Gue pengen pacaran sama orang yang gue nggak kebayang bakal gimana putusnya.

 

Yogyakarta, September 2018

Geram, layaknya anak kecil – inilah yang terjadi pada diriku ketika ia pergi. Menyalahkan ia yang berlalu, menuding orang-orang di sekitarku, menggugat kebodohan dalam diriku sendiri, dan juga menuntut Tuhan. Depresi rasa ini ketika harus menerima realita yang bertolak belakang dengan egoku.

Jakarta, Oktober 2018

Gue masih ‘asyik’ berkubang dalam air mata gue sendiri ketika kabar mengenai bayi itu datang. Gue belum selesai menangisi nasib gue sendiri, ketika dua teman gue bilang: Ada bayi yang harus kita tengokin. Gue geram. Ya elah, gue masih berduka nih – dan lo pada minta gue ‘nolongin’ orang lain, di saat darah masih netes-netes di hati gue?

courtesy of meme generator

“Gue juga abis putus, Liv. Setelah pacaran tujuh tahun,” ujar teman gue. “Masih inget esai beasiswa yang gue ajukan itu, Liv? Gue ditolak – padahal gue udah urus berkas-berkasnya sampai ke Indonesia timur,” sahut teman yang lain. Oh, oke. Ternyata gue nggak apes sendiri.

 

Yogyakarta, November 2018

Ketika membalikkan lembaran kalender bulan November, seluruh ingatanku mengajak kembali di awal tahun, saat banyak hal yang kurencanakan dan memasang target dalam beragam aspek, termasuk percintaan. Well, mengingat usiaku sudah di atas 25, tentu aku berharap bisa memiliki kekasih (lagi) dan memaknai kasih walaupun tak harus menikah di tahun ini – mengingat kantong masih tipis – pikirku di Januari lalu. Tentu harapan tersebut tak luput dalam doaku.

Pertengahan tahun, nampak harapanku tercerahkan ketika bisa mengenal sosok yang kurasa tepat. Berkenalan, membangun cinta, dan berkomitmen untuk relasi yang lebih dalam, nampak sempurna sebagai klaim jawaban Tuhan atas doaku. Mataku pun terpesona akan sosok yang elok itu, seolah aku terlena, lupa bahwa ia adalah pemberian-Nya, dan abai akan sang Pemberi. Mungkin Tuhan marah aku lalai pada-Nya dan Ia memisahkan aku dengan dirinya.

Jakarta, November 2018

Namanya Haikal, bayi yang tergolek tak berdaya di sebuah rumah sederhana di pinggiran luar Kelapa Gading. Ia didera malnutrisi yang cukup parah. Ayahnya seorang juru parkir di depan salah satu restoran sushi yang terkenal di Kelapa Gading. Ya, Kelapa Gading. ‘Ibukota kuliner’ di Jakarta Utara. Kami bertiga datang membawa susu, vitamin, dan obat.

Dari lampu temaram rumahnya malam itu, gue memandang mata teman-teman gue. Mata-mata itu sama kayak gue, mata yang di dalamnya bertengger luka hati dan beban hidup masing-masing. Kenapa di tengah semua permasalahan pribadi yang belum mampu kami bereskan, kami malah memberanikan diri melayani Haikal, sampai sekarang masih jadi misteri.

 

Yogyakarta, Desember 2018

Memasuki bulan Desember mungkin bagi sebagian orang sangat menyenangkan, mendengar musik Natal, merencanakan liburan bersama keluarga atau sahabat atau menikmati diskon belanja di akhir tahun. Gereja-gereja mempersiapkan seluruh acara dengan sigap agar umat menghayati masa Natal, begitu pula umat Kristen mempersiapkan hati mereka untuk mengenang kasih Allah yang menjadi manusia.

Berbeda dengan diriku, yang sejak awal tahun merencanakan yang terbaik, justru harus memasuki masa adven dengan rasa yang jauh dari syukur dan sukacita. Diriku membawa hati yang hancur.

courtesy of quick meme

Dan hal ini berlangsung hingga berbulan-bulan bahkan aku pergi ke psikolog demi mengobati diriku.

 

Jakarta, Desember 2018

Kami mulai mengumpulkan amplop Persembahan Natal di gereja. Gue memasukkan lembaran uang ke dalamnya. Tapi gue belum pernah merasa “semiskin” ini. Suasana Natal kadang “memaksa” kita untuk bersukacita – tapi gue belum bisa. Gue belum bisa jadi orang “Kristen baik-baik” yang memaafkan pria-pria yang nggak memperlakukan hati gue dengan pantas. Di sisi pelayanan, gue merasa buntu karena belum menemukan solusi untuk Haikal, di tengah kemiskinan terstruktur yang menghimpit keluarga itu.

Di hari-hari ini, mungkin teman-teman gue hanya bisa membatin.

courtesy of memecrunch

Masih dihantui perasaan “kotor” dan tidak berharga, hasil “oleh-oleh” dari relasi-relasi gue yang lalu, ditambah dengan hantu ketidakberhasilan hal-hal yang gue tangani saat ini, gue membolak-balik sebuah komik karya Kurnia Harta Winata (yeee, bahkan di saat frustrasi, gue bukannya baca Alkitab, malah baca komik). Salah satu dialognya membuat gue tertegun.

 

“Kamu datang padaku saat aku merasa berdosa, aku kehilanganMu saat aku merasa suci.”

 

Yogyakarta, Desember 2018

Entah hanya diriku saja, atau mungkin ini juga menjadi pertanyaan banyak anak muda lain: Apakah layak diri ini membawa hati yang hancur sebagai hadiah Natal bagi Yesus? Apakah layak diri yang berdosa ini hadir dan berdiri di depan Ia yang kudus?

Aku mulai membandingkan diri dengan orang-orang Majus dalam kisah Injil Matius pasalnya yang kedua. Mereka bukanlah orang-orang penyembah YHWH, bukan berasal dari Israel, justru lebih tepat dianggap sebagai kafir karena mereka adalah ahli sihir yang mempelajari astronomi dan astrologi. Namun tak disangka justru tokoh para Majus inilah yang berkesempatan merasakan perjumpaan yang eksistensial akan sosok Ilahi dalam bayi Yesus yang mungil.

Diriku pun berkhayal, bagaimana jika orang orang Majus tersebut hanya memiliki harta seadanya atau justru tidak membawa apapun? Apakah Yesus dan keluarga-Nya akan menolak orang-orang yang hadir tanpa sesuatu yang berharga?

Rasanya tidak, tentu kita bisa memahami Yesus memberikan kasih-Nya bagi siapapun, bahkan yang kotor, berdosa dan hina sekalipun. Aku dan setiap kita yang memang tak pantas, namun Ia senantiasa menerima persembahan kita walaupun dalam bentuk hati dan diri yang hancur.

LATEST POST

 

“Swing low, sweet chariotComing for to carry me homeSwing low, sweet chariotComing for to carr...
by Christan Reksa | 18 May 2019

Belakangan ini sering terjadi perdebatan, bahkan perpecahan dari kedua kubu politik dimana para pend...
by Priska Aprilia | 18 May 2019

“Untuk beli bibit.. ““Untuk beli obat, Neng...”“Kemarin harga jatuh. P...
by Surya Hadi | 18 May 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER