Perspektif Baru "Anak yang Hilang": Menyelami Isi hati Si Sulung

Going Deeper, God's Words, 26 July 2021
Walau tentu saja bapanya tidak jahat. Tapi kasih perlu dirasakan secara nyata.

Kisah anak bungsu yang berfoya-foya dengan warisan ayahnya, tentu bukan kisah yang asing bagi kita. Sering kita dengar bagaimana si bungsu disambut dan semua orang bersukacita karena “orang berdosa” telah kembali.

Tetapi sangat jarang yang membahas tentang si sulung. Apa dan bagaimana perasaan si sulung? Kita selalu hanya dijejali dengan penjelasan bahwa si sulung adalah orang yang jelek pribadinya karena iri terhadap adiknya. Padahal kita tahu bahwa si sulung senantiasa berada di rumah tapi seolah dia tidak pernah merasa cukup.

Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia (Lukas 15: 29-30)

Dari ayat di atas, mari sejenak kita berusaha memahami perasaan si sulung. Bayangin kita adalah si sulung. Kita sudah taat, kita sudah melakukan bagian kita, kita melayani bertahun-tahun tapi kita tidak pernah mendapat reward. Lalu saat ada si bungsu yang balik dari perberbuatan maksiat, dia dibikinkan pesta. Secara manusiawi, saya pribadi pun akan merasa iri.

Menurut saya, si sulung adalah anak baik. Tidak hanya karena dia sudah taat dari mula, tetapi ketika dia mengalami kekecewaan dia tidak mengambil keputusan nekat seperti si bungsu. Melainkan dia memilih untuk speak up pada bapanya tentang kekecewaan. Sampai di sini, bisa dilihat bahwa si sulung sebenarnya adalah seorang yang sangat berhati besar. Adalah hal yang tidak mudah untuk bicara pada orang tentang perasaan marah dan kecewa kita. Tetapi si sulung melakukannya. Dan itu bisa dilakukan jika kita merasa orang yang mengecewakan kita adalah orang yang berarti. Karena kita berharap mereka mau mendengar dan bisa berubah. Dalam hal ini, si sulung jelas mengasihi bapanya dan sangat berharap pada bapanya.

Jika kita berefleksi lebih jauh, mungkin di lingkungan pelayanan di mana pun, bisa jadi ada peristiwa yang serupa. Kita ditekankan untuk menyambut semua orang tanpa pandang buluh, terutama mereka yang “terhilang” atau lama tidak datang ke persekutuan pemuda misalnya. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Tapi di saat menyambut si bungsu terkadang kita melupakan si sulung. Orang-orang yang sudah giat sejak mulanya. Kita lupa bahwa mereka juga butuh apresiasi. Dalam kisah anak hilang ini, si sulung tidak pernah dipestakan. Sebenarnya jelas banget bahwa hal itu pasti sangat membuat kecewa. Dan jujur, berapa banyak di antara kita yang nggak bakal kecewa seperti si sulung? Ingat lho, di saat setiap hari dia harus bekerja, adiknya hambur-hambur uang, tapi si sulung tidak mendapat reward.

Saya pun pernah merasa menjadi si sulung. Rasanya tentu saja kecewa. Sudah melakukan yang terbaik tapi seringkali diabaikan. Di satu sisi juga ada rasa ga enak. Aneh kan? Karena ajaran kristen ya, yang sering kali menekankan untuk kita melakukan segala sesuatu tanpa pamrih. Lalu ketika kita merasa kurang diapresiasi dan kecewa, kita merasa bersalah. Namun benarkah seperti itu kenyataannya? Saya hanya diingatkan tentang kisah si sulung ini sih. Jadi pelajaran untuk diri sendiri dan reminder, bahwa saya tidak boleh membuat seseorang di sekitar saya merasakan apa yang dirasakan oleh si sulung. Walau tentu saja bapanya tidak jahat. Tapi kasih perlu dirasakan secara nyata.

Menjadi si sulung maupun si bungsu tentu sama-sama tidak mengenakkan. Masing-masing memiliki pergumulan tersendiri. Jika kalian adalah si bungsu, cepatlah bangkit karena masih banyak yang harus dikerjakan. Jika kalian ada si sulung, yuk move on

Karena di atas segalanya Tuhan Allah tentu melihat jerih lelah kita lebih dari orang-orang lain yang terkadang lupa tentang keberadaan kita.

Mungkin kita pribadi yang mudah kecewa seperti si sulung, yuk kita belajar untuk menyerahkan kepingan hati kita ke dalam tangan Tuhan. Karena Dia yang sanggup memulihkan dan Dia pasti tahu yang terbaik. Jika kita berada di tempat yang tidak baik maka Tuhan pasti akan bawa kita keluar.

Terakhir, jika kita adalah orang-orang yang memiliki capability untuk mengapresiasi (MJ, ketua, rekan pelayanan), kiranya Tuhan memberi kita hati yang lembut dan mau ditegur. Kiranya kita mau selalu belajar setiap hari memahami orang lain sebaik-baiknya.

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER