Cinta-Nya Bertepuk Sebelah Tangan

Going Deeper, God's Words, 28 June 2019
Lewat cinta-Nya, Allah memberikan pada manusia, alam, dan seluruh ciptaan, suatu kebebasan untuk mewujudkan harmoni semesta yang indah.

Dalam salah satu lagunya, Dewa 19 pernah bilang, “Di setiap ada kamu mengapa jantungku berdetak, berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang.” Kalimat inilah yang kerap menggambarkan arti cinta bagi kebanyakan orang. Cinta sering kali didefinisikan sebagai perasaan bergetar yang muncul ketika seseorang mengindra orang lain yang dicintainya. Ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakan seseorang ketika sedang mengalami perasaan cinta ini.

Saat seseorang jatuh cinta, biasanya ia akan selalu ingin memberikan yang terbaik bagi orang yang dicintainya, dan tak jarang sampai rela melakukan pengorbanan tertentu. Semua hal itu akan senantiasa ia lakukan dengan perasaan bahagia – entah apa sebabnya.

Akan tetapi dalam lagu yang lain, Dewa 19 pun pernah melantunkan, “Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan.” Nah, ternyata kebahagiaan yang dirasakan orang yang jatuh cinta dapat berubah menjadi satu kepahitan tersendiri ketika cinta yang ia berikan pada orang lain hanya perasaan yang berjalan searah. Kita tentu tahu atau mungkin pernah merasakan apa yang disebut dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Semua tentu setuju bahwa hal ini tidak menyenangkan, bukan? Namun pernahkah kita berpikir bahwa Allah pun pernah mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan?

Tentu cukup sulit membayangkan bagaimana Allah, Sang Sumber Cinta dan Kasih, merasakan perasaan cinta yang berjalan searah. Bagaimana mungkin Allah, Sang Sumber Cinta dan Kasih itu, tidak bisa mendapatkan balasan dari cinta yang Ia beri – jika Ia bisa dengan mudah membuat siapa pun membalas cinta-Nya? Justru semata-mata karena cinta dan kasih-Nya, Ia memberikan kebebasan bagi siapa pun yang Ia cintai, baik untuk membalas cinta-Nya maupun tidak.

Photo by Viktor Vasicsek on Unsplash 

Kisah tentang Allah yang cinta-Nya bertepuk sebelah tangan dapat kita temukan dalam Yesaya 5 : 1-7. Dalam bacaan ini, diceritakan ada seorang pemilik kebun anggur yang sangat mencintai kebun miliknya. Kecintaan si pemilik kebun ini dapat terlihat dari keseriusan yang ia tunjukan dalam merawat kebun tersebut. Namun sayang, kecintaannya itu berbuah pahit. Buah yang dihasilkan oleh kebun anggur tersebut ternyata anggur yang masam. Alhasil, si pemilik pun akan menghancurkan kebun anggur tersebut.

Merujuk pada tafsiran Christopher O. Schroeder, penulis kitab Yesaya menggambarkan Allah sebagai sang pemilik kebun anggur (lihat Yesaya 5:7). Sedangkan, kebun anggur itu ialah bangsa Israel. Sang pemilik kebun, yaitu Allah, telah memberikan cinta-Nya kepada Bangsa Israel lewat penyertaan yang Ia berikan sepanjang kehidupan bangsa Israel. Akan tetapi, Bangsa Israel justru membalas cinta Allah ini dengan perbuatan-perbuatan yang mendukakan Allah.

Dari bacaan tersebut mari kita berefleksi, mungkinkah kita mendukakan Allah melalui sikap dan respons kita terhadap cinta yang telah Ia berikan? Tentu sangatlah mungkin, salah satu contohnya ialah dengan merusak alam. Kita melihat dan sadari betul bahwa alam merupakan bentuk nyata cinta Allah pada manusia, tetapi toh masih banyak manusia yang tetap saja merusaknya.

Photo by Iswanto Arif on Unsplash Banyak orang mengeksploitasi alam dan berbagai hal lain hanya untuk pemenuhan kebutuhan pribadi. Alih-alih memandang keragaman ciptaan Tuhan sebagai keselarasan yang harus dikelola dan dipelihara, kenyataannya tidaklah demikian. Manusia justru kian menekankan sisi antroposentrisnya, yang mempertahankan pandangan bahwa manusia adalah ciptaan yang paling sempurna. Makhluk lain hanya diciptakan untuk menunjang keberlangsungan dan eksistensi manusia.

Yesaya 5:8 berbunyi, “Celakalah mereka yang menyerobot rumah demi rumah dan mencekau ladang demi ladang, sehingga tidak ada lagi tempat bagi orang lain dan hanya kamu sendiri yang tinggal di dalam negeri!” Melalui ayat ini kita bisa belajar bahwa saat kita menjadi terlalu antroposentris, kita akan berakhir menjadi seorang yang serakah. Waktu kita mendapati diri kita berubah menjadi seorang yang serakah, ketika itulah kita telah mendukakan hati Tuhan.

Lewat cinta-Nya, Allah memberikan pada manusia, alam, dan seluruh ciptaan, suatu kebebasan untuk mewujudkan harmoni semesta yang indah. Namun ego manusia membuat cinta Allah itu bertepuk sebelah tangan. Kita kurang begitu menghargai lingkungan pemberian Allah, sehingga kita pun kurang mampu menikmati anugerah cinta kasih Allah melalui ragam ciptaan yang lain.

Maka dari itu, mari kita berefleksi: Sampai kapan kita akan terus terkungkung oleh sisi antroposentris kita sebagai manusia? Apakah kita akan terus menyia-nyiakan cinta yang telah Ia beri pada kita? Apakah bentuk cinta dan kasih Allah mampu membuat kita tersadar untuk dapat merespons cinta-Nya dengan mencintai sesama dan mencintai alam?

LATEST POST

 

Apa sih perasaannya kala itu?Saya sendiri bahkan tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bahagi...
by Sobat Anonim | 15 Jul 2019

Purwokerto, 9 Juli 2019Shalom,Damai Sejahtera bagi kamu,Halo Nat, lama kita ngga berjumpa. Gima...
by Agustina Endarwanti | 15 Jul 2019

Water covers 70% of our planet and it is easy to think that it will always be plentiful and will not...
by Arum Sekar Ratrie | 15 Jul 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER