Minggu Palma: Hari ini Hosana, Besok Salibkan Dia!

Going Deeper, God's Words, 23 March 2021
Hosana, Hosana, Hosana! Hosana! Lihat Rajamu berjalan dengan gah Khalayak ramai berseru: “Ikutlah menyembah!” [NKB 74 : 2]

Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Hosana di tempat yang maha tinggi!

Begitulah kalimat yang diserukan khalayak ramai menyambut Yesus saat memasuki kota Yerusalem. Dengan diiringi oleh lambaian ranting daun palma serta pakaian mereka yang mereka letakkan di tanah. Sebuah penggambaran yang sangat megah ketika akhirnya saya mencoba membayangkannya di dalam benak saya betapa ramainya situasi kala itu. Yesus disambut oleh khalayak ramai dengan menunggangi seekor keledai muda tergambar begitu megah di dalam imajinasi saya saat mencoba berefleksi mengenai peristiwa Minggu Palmarum ini.
 


Minggu Prapaskah ke-6 ini disebut juga sebagai Minggu Palmarum. Momen di mana kita mengenang saat-saat Yesus disambut oleh khalayak ramai saat memasuki Yerusalem. Seolah-olah Yesus adalah ratu adil yang diharapkan membawa keadilan dan kebebasan bagi bangsa Israel yang kala itu sedang tertindas oleh jajahan bangsa Romawi. Minggu Palmarum ini juga menandakan sudah semakin dekatnya Yesus pada tujuan utamaNya datang ke dunia yaitu dalam peristiwa penyaliban dan kebangkitanNya. Minggu Palmarum adalah gerbang bagi kita untuk memasuki Tri Hari Suci [Kamis Putih, Jumat Agung, dan Paskah] maka dari itu umat Kristen biasanya diajak dan dihimbau untuk lebih menyelami peristiwa paskah di dalam Pekan Suci ini. Biasanya dalam ibadah, jemaat juga diajak untuk mendemonstrasikan suasana khalayak ramai yang menyambut Yesus dengan ikut serta melambai-lambaikan daun palma pada saat prosesi pembukaan dalam ibadah. Hal yang lazim kita temukan ketika gereja merayakan Minggu Palmarum ini.
 


Yesus mendapatkan perlakuan yang begitu spesial di momentum kali ini. Penyambutan yang megah ini digambarkan dalam Markus 11 : 1-11. Masyarakat ramai kala itu bak menyongsong dan menyambut seorang raja yang selama ini rasanya mereka impikan dan rindukan. Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang (Markus 11 : 8). Mereka memperlakukan Yesus layaknya seorang raja yang telah melesaikan peperangan. Namun mereka lupa, bahwa tujuan utama Yesus datang ke Yerusalem adalah untuk pergi menghadapi kematianNya. Yesus datang bukan untuk berperang dengan bangsa Romawi dan juga bukan datang untuk menobatkan diri sebagai Raja namun Yesus harus menghadapi kematianNya sendiri. Khalayak kala itu akhirnya "berekspektasi" besar pada Yesus dengan segala hal yang selama ini Yesus lakukan (mujizatNya, karyaNya, dan pengajaranNya). Namun dalam hari selanjutnya, pada akhirnya mereka menemui Yesus yang mereka sambut semula dengan gagah sudah menjadi buruk rupa di hadapan mereka semua dengan penuh luka dan peluh. Pada akhirnya Hosana tersebut kemudian berubah menjadi sebuah seruan kekesalan: Salibkan DIA!


Sebuah hal yang sangat cepat terjadi, khalayak ramai itu sebelumnya dengan lantang mengatakan Hosana! sambil bersukacita namun dengan begitu cepat juga mereka meneriakkan: Salibkan Dia! kepada Yesus yang mereka sambut sebagai raja itu. Bercermin dari khalayak ramai tersebut kemudian saya mencoba berefleksi panjang mengenai perjalanan iman saya bersamaNya. Kerap kali saya sama seperti khalayak ramai tersebut. Cepat sekali bagi saya untuk bersyukur di saat hidup saya diberkati, di saat harap dan doa permohonan saya dijawab dan di saat hidup sedang "baik-baik" saja. Namun, secepat itu juga untuk saya kemudian menyalahkan Tuhan, marah terhadap Tuhan dan kecewa terhadapNya ketika hidup saya rasanya sedang berbeban berat. Sedang dalam perasaan sedih, sedang terluka, atau ketika rasanya Tuhan tidak mendengar doa saya dan tidak mengabulkan permohonan saya. Acapkali saya menaruh diri saya dan ekspektasi saya yang berlebihan dibanding mengikuti kemauan Tuhan dan rencana Tuhan dalam kehidupan saya. Saya sama halnya seperti khalayak ramai tersebut, saya ikut meneriakkan: "Salibkan Dia!" dengan begitu lantang, padahal sebelumnya "Hosana!" keluar dari mulut saya.
 


Sebuah pengharapan yang pada akhirnya berubah menjadi sebuah kekecewaan. Seruan, “Hosana” kemudian berganti menjadi, "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" (Yoh 19:15b). Begitu kecewa karena Yesus yang diharapkan menjadi raja nyatanya tidak bertindak sesuai keinginan mereka. Yesus pun ternyata tidak tidak melawan saat ditangkap dan diadili. Kemudian mulai meragukan Mesias yang seharusnya tersebut. Kerapkali akhirnya saya merasa sama seperti khalayak ramai tersebut. Meragukan Yesus hanya karena saya tidak melihat apa yang saya impikan terjadi. Yakobus 3:10 juga mengatakan bahwa dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Manusia terkadang begitu cepat untuk berpindah hati. Manusia juga kerap kali melakukan hal yang sangat ekstrim dalam kondisi yang bersamaan. Ketika Yesus datang memasuki Yerusalem sejatinya IA bukan senang meninggikan diriNya malah lebih besar dari itu sebetulnya IA sedang melakukan karya yang begitu dahsyat untuk diri kita, yaitu menebus dosa setiap kita. Ketika kerap kali kemauan Tuhan bukanlah yang kita inginkan, cobalah kembali koreksi. Apakah sebetulnya ini betul-betul apa yang Tuhan mau saya lakukan dalam kehidupan? Atau sebenarnya saya sedang terjebak pada pemikiran sempit saya belaka? Mari kita coba kembali menilik kembali, apakah kekecewaan saya akhirnya membuat saya jadi juga meneriakkan "Salibkan Dia" dengan begitu lantang?


Memasuki Pekan Suci dengan Minggu Palmarum ini, mari selidiki batin kita. Belajar dari khalayak ramai, apakah kita bisa terus meneriakkan Hosana! di tengah segala situasi kehidupan kita?


Hosana berkumandanglah, dengarkan suaranya!
Hai putra-putri, nyanyilah bersama malakNya!
Hai putra-putri, nyanyilah, suaramu angkatlah!
Hai putra-putri, nyanyilah bersama malakNya!


Mari menerima undanganNya untuk masuk ke dalam misteri suci Paskah. Marilah tenggelam bersama khalayak ramai dengan terus bersorak "Hosana!"


Soli Deo Gloria 

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER