Jangan Mencari Kebahagiaan, Melainkan Pertumbuhan!

Best Regards, Live Through This, 19 March 2020
Hal yang aku imani adalah bahwa Tuhan sedang memprosesku, membentukku, dan mengajarkanku. Karena kita hidup bukan untuk mencari kebahagiaan, melainkan pertumbuhan. Selamat terus (bahagia untuk) bertumbuh!

Apakah kebahagiaan itu nyata?

Bagaimana untuk menjadi bahagia?

Apa tujuan bahagia?

Pertanyaan ini terus berkumandang seiring Leslie bertumbuh menjadi seorang toddler.

Kehidupanku sudah cukup berubah sejak menikah, mengandung sebulan kemudian, dan memiliki anak di tahun pertama pernikahan kami.

Sebagian besar orang mengatakan bahwa seharusnya aku bersyukur, dianugerahi anak begitu cepat.

Aku hanya bisa meresponi tersenyum, tanpa tahu apakah sesungguhnya aku bahagia atau tidak.

Hari demi hari berlalu begitu cepat.

Aku melalui proses menyusui, membuat MPASI, hingga akhirnya ia sudah makan makanan keluarga.

Begitu juga melihatnya berproses dari berbaring, merangkak, merambat, berjalan dengan tertatih-tatih, hingga akhirnya kini sudah berlari kian kemari.

Saat ini, kami sedang berpikir untuk mengikutsertakannya dalam kegiatan playgroup atau aktivitas yang membuat kemampuannya terus distimulasi.

Wow, sungguh aku takjub dengan segala tumbuh kembangnya yang begitu cepat, tanpa tahu apakah sesungguhnya aku bahagia atau tidak. Rasanya, aku masih berjalan tertatih-tatih untuk memahami atau memaknai dunia parenting.

Hingga satu ketika,

“Leslie, mandi yuk?”

“Nggak mau!”

“Leslie, mami ambil makanan ya..”

“Nggak mau.”

Tiba-tiba, aku merasa muak dengan kata-kata “NGGAK MAU” yang dia ucapkan, perihal masalah remeh, yaitu mandi dan makan. Ya, ironis bukan? Padahal, ia mandi 2x dan makan 3x setiap hari! Namun rasanya setiap hari frase itu keluar dari mulutnya, dan aku bungkam. Aku clueless menghadapi penolakan itu.

Di lain sisi, ketika aku belajar parenting, tertanam idealis bahwa sedini mungkin anak dilatih untuk taat. Dalam tanda kutip, anak dipaksa atau digiring untuk terus melakukan apa yang kita (orang tua) sudah instruksikan. I did! Aku tetap memaksanya mandi dan makan, hanya saja hatiku semakin gundah dan geram mengetahui fakta bahwa aku ingin Leslie menjadi anak taat, melakukan instruksi (tidak perlu instruksi lain, cukup rutinitas mandi dan makan) dengan ceria, mengatakan “Iya, Mami,” dengan damai sejahtera, namun tidak demikian adanya.

Aku tidak paham apakah ini yang harus dilalui oleh semua orang tua, atau hanya idealisku semata.

Sungguh teramat lelah ketika aku menaruh ekspektasiku terhadap anak berumur 2,5 tahun.

Apa yang terjadi jika aku hanya menerapkan prinsip ‘tidak usah berekspektasi’?

Membiarkan ia tidak mandi dan makan pada waktunya? Tentu aku tidak bisa berpura-pura cuek dan membiarkannya, karena ia belum bisa mengurus dirinya sendiri. Oh, aku frustasi! Seolah idealis berperang dengan realita.

Hingga satu waktu aku pernah kesal sejadi-jadinya, marah sejadi-jadinya, menangis sejadi-jadinya, aku merasa aku hilang kasih, aku meninggalkannya setiap kali ia menolak untuk mandi atau makan, aku benar-benar muak dan tidak tahu harus berbuat apa…

Bahkan aku merasa tiba-tiba badanku drop, aku jatuh sakit dan hanya tertidur sepanjang hari. Aku bangun untuk makan, tidur, lalu aku terbangun lagi untuk muntah, dan terus demikian hingga malam. Entah karena efek kehamilan kedua, atau karena batinku yang teramat lelah.

Aku merasa gagal dan diliputi ketakutan yang amat besar ketika akan melahirkan anak kedua ini. Aku bahkan seperti mengalami regresi dan mengatakan “I am not ready to be a MOM yet.

Hingga dalam sebuah chat, teman sekaligus mentor parentingku menentang kalimat itu dengan berkata, Gak mungkin. Leslie dan dede Leslie Tuhan yang kasih. Jadi pasti semua dimampukan pada waktunya.

Peneguhan itu amat berarti. Seketika aku calm down, sekalipun aku tidak melantunkan doa permohonan panjang selain dengan jujur menyatakan ketidakberdayaanku, “Tuhan, aku sedih, aku tidak tahu harus berbuat apa.

Aku juga tidak banyak berkata dengan suamiku, hanya menangis dalam pelukannya, dan tenggelam dalam lelap.


Jadi, apakah cerita ini berakhir pada kebahagiaan?

Tentu belum bisa dikatakan berakhir, aku masih dalam perjalanan awal mengasuh dan mendidik anak. Ada banyak pertanyaan dan ada banyak tantangan ke depan yang tidak bisa digambarkan, selain dengan dijalankan.

Hal yang aku imani adalah bahwa Tuhan sedang memprosesku, membentukku, dan mengajarkanku.

Aku baru bisa menyatakan ini setelah aku calm down, atau lebih tepatnya ketika aku memiliki perasaan yang lebih bahagia, berusaha (berjuang) meninggalkan perasaan gagal dan frustasi itu. Hari demi hari aku berusaha kembali kepada jalur iman bahwa Tuhan mengasihiku. Setiap ujian adalah cara Tuhan mengasihiku. Dan, Ia yang akan terus memampukanku.

Senada dengan perkataan Pdt. Yakub Susabda, Ph. D, “Kebahagiaan adalah modal untuk bertumbuh.” Jadi, kita hidup bukan untuk mencari kebahagiaan, melainkan pertumbuhan.

Selamat terus (bahagia untuk) bertumbuh!

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER