Sakit Hati Berujung Atestasi

Best Regards, Live Through This, 20 August 2019
Lalu pertanyaannya adalah apakah niatan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan setimpal bila akhirnya harus ada yang tersakiti?

Bicara mengenai Barisan Sakit Hati, mungkin hampir setiap kita pernah mengalaminya; rasanya topik ini tidak tabu lagi untuk dibicarakan. Dari remaja sampai dewasa, ada saja yang bisa dijadikan alasan untuk kita, sesama jemaat Tuhan, saling bersinggungan bahkan menyakiti di dalam gereja yang katanya "Rumah Tuhan" itu. Aku yang dulu hanya bisa mengamati dari jauh fenomena ini, kadang suka merasa kebingungan dengan hal yang biasanya menjadi sumber masalah dalam gereja, seperti: Tidak diajak menjadi panitia sehingga merasa kurang dihargai, pendapatnya tidak diterima di dalam forum sehingga merasa tidak dianggap, jadwal pelayanannya dikurangi lalu merasa tidak dibutuhkan, perkataan–perkataan yang mengucilkan, menyindir, menghakimi masih juga sering terdengar di sudut–sudut gereja sebagai pemicu konflik.


Aku teringat sebuah pertikaian yang pernah terjadi di gereja kami, saat antarjemaat mulai saling adu argumentasi karena beda pilihan antara menggunakan musik secara live atau musik rekaman untuk mengiringi penampilan tarian daerah di suatu acara Klasis, event yang cukup besar, sehingga detailnya dirasa perlu untuk dipersiapkan secara maksimal; yang ukuran maksimalnya menjadi begitu subjektif karena masing – masing orang mulai merasa bahwa pendapatnyalah yang harus diterima baru itu "baik", jika bukan pendapatnya maka itu menjadi "jelek". Alih–alih mencari kesepakatan yang terjadi malah saling tuding, saling mencemooh, menjelekkan satu sama lain, sampai melakukan aksi walkout dengan marahnya dari kegiatan tersebut. Lalu pertanyaannya adalah, apakah niatan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan setimpal bila akhirnya harus ada yang tersakiti?  




Kebingunganku juga tidak berhenti di situ, tapi juga kepada kepada orang–orang yang sampai dijuluki “troublemaker” di dalam gereja, atau sebutan bagi pribadi yang seringkali membuat keributan di gereja. Aku rasa, kalian sudah membayangkan satu orang di benak kalian saat membaca ini; jenis orang yang tidak ada angin, tidak ada hujan tiba–tiba dia bisa membuat orang sakit hati baik dari perilaku, perkataan atau bahkan status di media sosialnya. 


Suatu kali kakakku pernah berkelakar tentang hal ini, dia bilang, “Apakah tidak ada lagi ya tempat untuk cari ribut selain di gereja, padahal di pasar lebih luas, lebih ramai dan bisa lebih seru loh sambil lempar–lemparan bawang.” Pernyataan yang cukup membuatku terkekeh.


Sebagian orang mulai memaklumi perilaku para "troublemaker" ini, mereka dianggap sebagai produk dari proses kepahitan yang dirasakan selama kehidupannya, baik saat masa kecil atau saat ini, sehingga bagi mereka yang sudah menyadari hal ini akan lebih tinggi tingkat toleransinya dalam menghadapi para "troublemaker" karena menganggap mereka jiwa–jiwa yang perlu dikasihani dan dipulihkan. Namun bagi mereka yang belum bisa mengerti "How to handle a troublemaker", responsnya akan sangat mengagetkan.


Aku pernah mendengar kisah tentang seorang majelis yang atestasi keluar dari gereja karena diolok–olok mengenai cara berpakaiannya. Dikarenakan perbuatan menghina satu orang, mengakibatkan gereja sebagai sebuah persekutuan, harus kehilangan anak, mantu, cucu majelis tersebut yang jumlahnya mencapai 8 orang,  karena mereka juga merasa ikut tersakiti. Atau contoh lain, ada seorang remaja dicibir oleh seorang jemaat yang mengatakan, "Keluarga kalian seperti rambutan, hanya terlihat musiman." Satu keluarga tersebut sontak meninggalkan gereja dan tidak pernah datang lagi meski sudah berkali–kali musim berganti. Sebuah kejadian yang cukup mengherankan kenapa bisa terjadi di dalam gereja yang seharusnya menjadi tempat utama kasih Tuhan terpancarkan atau apakah kita malah memberikan cap “lebay” kepada para pihak yang menunjukan sikap perlawanannya dengan cara meninggalkan gereja?


Aku sempat berpikir, “Kan datang ke gereja buat ketemu Tuhan, kan pelayanan buat menyenangkan hati Tuhan, lalu kenapa bisa sakit hati sama manusia? Aneh.” Aku dan idealismeku beranggapan, orang yang meninggalkan gereja karena sakit hati, pasti dari awal tidak pernah melakukan pelayanannya untuk Tuhan.


Namun beberapa bulan lalu aku berada pada suatu situasi di mana pandanganku mulai berubah. Sangat sepele, tapi mampu menggoreskan luka yang begitu dalam di hatiku. Hanya karena tidak mampu membuat pita dari kertas  krep, aku dipermalukan di depan banyak orang, diteriaki dengan wajah yang begitu menakutkan, semua hal yang aku lakukan dinyatakan salah dan tidak berguna, aku bahkan sampai disebut si pemalas dan bodoh - sekali lagi, di depan banyak orang.


Pengalaman tersebut ternyata cukup membuatku mampu untuk berpikir tidak akan kembali lagi ke gereja, sakit sekali rasanya saat itu. Tuhan mengizinkanku merasakan bagaimana rasanya datang dengan hati yang tulus mau melayani, namun mendapat perlakuan mengecewakan. Sedih sekali mendapati sakit hati ini harus disebabkan oleh orang gereja yang sama–sama pelayan Tuhan.



Menyadari bahwa aku tidak akan pernah bisa mengendalikan perilaku orang lain, maka aku memaksa diri untuk mengatur reaksiku terhadap hal tersebut. Setelah puas menangis (tentu saja), aku kemudian teringat ada sebuah catatan kecil yang diberikan seorang pendeta saat meneguhkanku sebagai salah satu pengurus di Komisi Pemuda tiga tahun yang lalu. Setelah menemukannya, aku terpaku membaca setiap kata di dalamnya; dulu rasanya tidak begitu berarti, tapi kini menjadi sangat berarti. Khususnya saat sakit hati masih menyelimutiku.


“Gereja Tuhan adalah tempat penuh kesukaran, kadang bukan malaikat dapat kaujumpai, kadang bukan cinta yang kau temukan, tetapi panggilan Tuhan terasa tepat dalam hatimu, sehingga kau dipanggil untuk menjadikan itu semua ada. Surga Tuhan di dunia adalah tugas dan tanggunganmu, agar mereka yang mau menerima boleh memperoleh kasih Tuhan dari pekerjaan pelayananmu.”


Seakan sudah tahu pasti, aku akan sampai di titik ini, hampir menyerah terhadap panggilan pelayananku. Dia sudah mengantisipasinya lebih dulu. Sehingga aku bahkan tak bisa mengelak untuk sekedar meneruskan amarahku. Kasihnya menyelimuti hati dan pikiranku, sehingga aku mampu untuk mengampuni.


Aku lalu belajar, bahwa konflik di dalam gereja mungkin adalah sesuatu yang tidak akan pernah terhindarkan, yang bisa dihindarkan adalah keinginan untuk meninggalkan gereja apalagi meninggalkan Tuhan.


Seorang anak Sekolah Minggu pernah melontarkan pernyataan yang menurutku sangat logis. “Kak, kalau orang putus (pacaran) di sekolah engga sampai pindah sekolah, kenapa kalau putusnya di gereja malah sampai pindah gereja?” Berapa banyak kita juga menjumpai kasus remaja dan pemuda, yang pindah–pindah gereja karena putus cinta?


Tapi sesederhana pemikiran anak–anak, dan semurni ketulusan anak–anak, kita mau kembali kepada sikap hati yang benar dalam melayani Tuhan. Tidak terpaku kepada apakah gereja tersebut memberikan kita kenyamanan atau tidak, tapi di manapun kita ditetapkan Tuhan, kita mau melakukan yang terbaik untuk Tuhan di sana.


Mari kita renungkan kembali, apakah sakit hati yang kita simpan dan rasakan selama ini, belum terlampaui oleh kebaikan hati Tuhan yang kita tetap rasakan hari demi hari? Apakah masih sanggup kita menyimpan kesalahan orang lain sampai sekarang, di saat Tuhan saja mengampuni semua dosa dan pelanggaran kita dan tidak pernah mengingatnya lagi?


Dengarlah, sayup dari lubuk hati terdengar “Dengan apa kan ku balas.. segala kebaikanMu…

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER