Matius Sang Pemungut Cukai: Sebuah Inspirasi dari Serial "The Chosen"

Best Regards, Live Through This, 01 September 2020
Mengikut Yesus keputusanku, Mengikut Yesus keputusanku, Mengikut Yesus keputusanku. ‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

Tentu kita mengenal nama Matius. Nama ini tidaklah asing pada cerita-cerita Perjanjian Baru, utamanya cerita Injil. Ia adalah seorang mantan pemungut cukai yang kemudian mengikut Yesus,  menjadi muridNya. Kisahnya dicatat di dalam Injil Matius 9 : 9-13. Tentu sebagian dari kita juga sudah sering membacanya. Namun kali ini, saya mendapatkan sebuah hal baru, ketika saya menonton sebuah TV Series berjudul "The Chosen". TV Series yang disutradarai oleh Dallas Jenkins dari Amerika ini mengisahkan kisah Yesus dan pelayanan-Nya di dunia. Menurut saya, TV Series ini sangat berbeda karena mengangkat kisah Yesus dari sudut pandang yang juga sangat berbeda. Termasuk dalam adegan  "Matius, Sang Pemungut Cukai" yang mengikut Yesus sungguh - sungguh. Bagian tersebut menggugah emosi dan perasaan saya, sehingga saya mampu menikmati TV Series tersebut. 

Saya akan mncoba untuk menggambarkan kisah pamanggilan Matius 9: 10-13, dari sudut pandang sutradara film "The Chosenini. Matius digambarkan sebagai seorang pemungut cukai. Ia digambarkan sebagai pribadi yang cerdas serta memiliki rasa keingintahuan yang besar akan Yesus. Sayangnya, masyarakat kala itu sangat membenci pekerjaannya sebagai seorang pemungut cukai karena dianggap sebagai penghianat bangsa karna bekerja untuk kaum penjajah (Bangsa Romawi pada saat itu ) Ia yang digambarkan begitu lugu dan baik, terpaksa harus menjadi seorang yang tegas ketika sedang menjalankan tugasnya. Ia sangat penasaran dengan sosok Yesus yang kala itu sudah begitu populer dan terkenal. Matius diam-diam sering membuntuti pergerakan Yesus dan murid-muridnya yang sering mengadakan mujizat dan keajaiban.  Bahkan, ia terkesima saat melihat Yesus menyembuhkan seorang yang lumpuh sejak kecil, yang diturunkan dari sebuah atap rumah saat Yesus sedang mengajar. 

Sampai suatu ketika, saat Ia sedang bekerja, Yesus sendiri datang kepadanya. Yesus melewati pasar dimana Matius bekerja, lalu berhenti dan memanggilnya dengan lembut untuk mengikutiNya. Matius mulai bingung ketika bertatapan langsung dengan Yesus yang selama ini hanya dilihatnya dari jauh. Ketika itu juga, Yesus memanggilnya untuk mengikuti-Nya bersama murid-murid-Nya yang lain. Matius kemudian salah tingkah Ia pun berkata "Apakah engkau benar benar mengajakku?". Namun tak lama kemudian, ia menjadi senang dan kemudian mengikuti panggilan Tuhan untuk menjadi murid-Nya. Namun, pada tulisan ini, saya mendapatan visualisasi baru. 

Dalam TV Series ini, sang sutradara  menggambarkan: Pertama, bagaimana Petrus (Murid Yesus yang paling vokal) mengeluarkan reaksi penolakan kepada Yesus saat Ia memanggil Matius "Si Pemungut Cukai" itu. Petrus merasa Matius tidak layak untuk menjadi Murid Yesus karena Ia adalah seorang pemungut cukai. Seorang pengkhianat  bangsa Yahudi kala itu karena  ia bekerja sama dengan Bangsa Romawi dan berkerja untuk mereka.  Namun, Yesus hanya menatap Matius dengan penuh cinta kasih seolah Ia telah menemukan seseorang yang selama ini Ia cari, tanpa menghiraukan Petrus. Dan kemudian memberikan pengertian pada Petrus tentang perbedaan.

Kedua, sebuah penggambaran yang sangat indah terjadi, ketika Matius pun tanpa basa-basi dan pikir panjang langsung meninggalkan kantor di mana ia bekerja selama ini (yang tentu saja diawasi oleh tentara Romawi) untuk mengikut Yesus. Ia pun berani melawan tentara  yang sempat mencegahnya untuk tidak pergi dan tetap melaksanakan tugas sebagai pemungut cukai. Ia sempat dihasut oleh tentara tersebut, jika ia pergi, Ia akan kehilangan uang, rumah, dan barang-barng lain yang sudah dimiliki olehnya. Tetapi, dengan berani, Matius melepaskan cincinnya dan memberikan kuncinya kepada  tentara tersebut, lalu memlih untuk mengikut Yesus. Matius yang lugu tersebut disambut hangat dengan rangkulan erat oleh Yesus dan, Yesus pun mengajaknya makan malam, dan Matius adalah Tuan rumahnya. Saya tidak akan membahas lebih detail, Ignite People mungkin bisa menyaksikan kelanjutan cerita Matius dengan lebih lengkap dalam TV Series tersebut.

Dalam Matius 9 : 11 juga dikisahkan   bagaimana orang Farisi yang melihat-Yesus yang memanggil Matius- juga mengkritik tindakan Yesus yang makan dengan Matius si Pemungut Cukai. Kata mereka, ""Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Kemudian Yesus pun berkata demikian:

Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" ( Matius 9 : 12-13).  

Setelah merenungkan perikop ini, dan setelah menonton visualisasi Injil Matius  dalam TV series "The Chosen" saya pun berefleksi terhadap kehidupan saya sekarang ini. Saya menemukan setidaknya ada dua pokok perenungan yang sangat menyentuh untuk saya secara pribadi.


1. Bagaimana saya, ketika saya mengetahui ada orang orang yang dikucilkan  maupun dianggap berbeda dari aturan dunia?  Saya pun berkaca seperti Simon Petrus dan para Farisi yang memandang Matius sebagai seorang pribadi yang berdosa dan patut dijauhi menurut aturan Agama. Terkadang kita tanpa sadar sering menjauhi, memusuhi, dan bahkan memandang sebelah mata mereka yang terkucilkan atau berbeda dengan aturan yang ditetapkan dunia, dan agama. Tanpa mengetahui lebih jauh bahwa, ternyata pribadi tersebut sudah lama merindukan sapaan Tuhan melalui kita yang telah mengenal Tuhan. Terkadang kita diam, tidak berani merangkul seperti Yesus yang merangkul erat Matius dengan cinta kasih.

Sering kali, kita malah menjadi seperti Petrus yang mengkritik mereka tanpa mencoba melihat mereka dari Kacamata Allah yang pemurah dan Mahakasih itu, dan malah asyik  terjebak seperti para Farisi yang hanya mengetahui hukum-hukum keagamaan sehingga kehilangan kemanusiaannya.

"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan." , bukankah ini yang dikatakan oleh Yesus? Perkataan tersebut menyadarkan kita bahwa pengadilan bukanlah bagian kita. Tugas kita adalah mencintai semua orang terlepas dari bagaimana dia dan latar belakangnya sama seperti Yesus menyambut Matius si pemungut cukai itu, dan tidak terjebak pada tindakan "membandingkan" taraf kesalehan tiap tiap orang sebagai alasan kita untuk membenarkan diri dan menganggap diri lebih saleh dari orang lain. 


2. Sekarang, di manakah saya ketika Yesus memanggil saya untuk mengikuti-Nya dan menjadi murid-Nya ?   Kita semua berdosa, betul ? Ya, tidak ada satupun diantara kita yang tidak berdosa. Sekecil apapun dosa yang kita lakukan, kita tetaplah berdosa, karena bagi Tuhan dosa tetaplah dosa. Sering kali, karena kita tahu kita berdosa, justru kita memilih untuk menjadi seperti Adam dan Hawa. Kita sering kali takut untuk menghampiri Allah yang Maha Pengasih itu, dan terjebak dalam sebuah pemikiran bahwa, "Karena kita berdosa, lalu kita tidak layak di hadapan Tuhan". Alasan tersebut  seringkali membuat kita lari dari Allah yang penuh cinta tersebut dan mencari cinta semu yang diberikan oleh dunia. 

Matius, dalam penggambaran TV series ini dan dalam Matius 9 : 9-13 mengajarkan kepada kita bagaimana respon terbaik ketika Tuhan memanggil kita.  Matius rela meninggalkan semua kekayaan, jabatan dan apapun yang sudah dimilikinya, lalu "membayar harga" untuk mengikut Yesus, walau tidak mudah.  Allah yang penuh cinta itu, tidak pernah meninggalkan kita. Jika kita seringkali terjebak dengan pemikiran yang rancu. Seringkali kita berpikir bahwa Allah telah meninggalkan kita, sesungguhnya  bukan IA yang meninggalkan kita, namun kitalah yang meninggalkan Allah. Sebenarnya, IA masih setia menunggu kita, mengharapkan kita berbalik kembali kepada IA.  Jauh sebelum kita ada, IA telah rela memberikan nyawanya di atas salib untuk menebus segala dosa kita. 

Tuhan tetap ada, menanti kita walaupun kita berdosa. Sejauh apapun kita berlari dari Allah, sejauh itu juga usaha Dia untuk mencari dan menemukan kita yang berdosa, jauh sebelum kita menyadarinya. Ia sudah menyerahkan diri-Nya kepada maut diatas salib untuk menebus setiap kita.

Bagaimana kita sekarang? Apakah seperti Matius, yang tanpa pikir panjang memutuskan untuk berjalan bersama dengan Sang Cinta Kasih atau malah seperti Petrus dan para Farisi yang sibuk terjebak di dalam segala macam pemikiran, aturan dan stigma? 


Menutup tulisan ini, saya coba mengajak Ignite People sekalian merenungkan sebuah lagu Penyembahan Rohani yang dibawakan oleh Franky Kuncoro berjudul "Mengikut Yesus"  yang liriknya begitu menguatkan kita tentang bagaimana panggilan kita sebagai pengikut Tuhan. Pada salah satu liriknya berkata demikian : 


Mengikut Yesus, itulah kesukaan hatiku

'Ku lepas semua hak 'ku untuk mengenal kehendak-Nya di hidupku

Mengiring Yesus, itulah kekuatan hidupku

'Ku yakin Anugerah-Nya mampu jadikanku hamba yang berkenan selalu 


Soli Deo Gloria



LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER