Hai, Bolehkah Kupinjam Telingamu ?

Best Regards, Fiction, 25 June 2019
Hari ini Selasa, dan Luna berada di bagian atap sebuah gedung besar milik kedua orang tuanya, menunggu tengah malam sambil menghisap rokok kretek yang kata temannya terlalu berat untuk perempuan seperti dirinya.


Hari ini Selasa, biasanya ketika jam 12 malam atau lewat tengah malam, handphone-nya akan berbunyi. Telepon dari orang yang sama, dengan cerita yang sama, dan keluhan yang sama, yang selalu terulang setiap minggunya.

“Kringg..” 

Handphone Luna berbunyi, Ia mengangkat, lalu menempelkan pada telinga kanannya. Di ujung telepon, terdengar suara isak tangis perempuan. Tangisan yang sama, yang terjadi setiap minggunya di hari Selasa. Rima kembali bercerita, kalau malam ini ayah tirinya, yang berat badannya 2 kali darinya, kembali datang menemuinya, memaksanya ikut ke hotel dan memperkosanya. Tidak ada yang berubah. Ceritanya, tangisannya, ataupun intonasinya ketika ia bercerita kepada Luna.

Luna ingat pertama kali Rima menceritakan hal tersebut, Rima mengatakan kalau rasanya ia ingin bunuh diri saja. Sepanjang malam itu Luna mencoba menenangkan temannya tersebut hingga akhirnya Rima mengurungkan niatnya untuk mati dan berterima kasih kepada Luna karena mau mendengarkan ceritanya.

Minggu pertama..

Kedua..

Ketiga..

Dan begitu terus setiap minggunya hingga Luna hafal dengan kata-kata dan suara tangisan yang akan Rima keluarkan ketika ia menelpon Luna setiap Selasa di tengah malamnya.

Tidak ada yang berubah..

Membuat Luna semakin lama semakin tidak banyak bicara setiap minggunya ketika Rima menelponnya. Hanya sekedar berdehem, atau mungkin mengatakan “iya”.

Luna tahu yang dibutuhkan Rima hanyalah telinganya, bukan mulutnya.

Terkadang Luna bertanya-tanya dalam benak, "Bagaimana telinga bisa membuat orang lain yang sedang dalam keadaan tertekan merasa lega dan orang lain menutup cerita dengan ucapan terima kasih karena mau mendengarkannya?" Ia juga ingin merasakannya.

Dulu Luna pernah melakukan hal yang sama, ketika ia menceritakan masalah keluarganya -yang selalu terlihat baik-baik saja di mata orang- kepada seorang teman di gerejanya yang justu berakhir menjadi konsumsi orang banyak.

“Belajar sharing… “ Begitu kata temannya kala itu.

Luna tidak mengerti, apa perbedaan antara sharing dan menjadikan hidup seseorang sebagai perbincangan. Yap, perbincangan yang hanya berakhir dengan pertanyaan dan pernyataan yang kadang menyudutkan dan memunculkan ragam persepsi yang terus dibuat oleh berbagai macam kepala yang mendengarnya. Perbincangan yang terus terjadi hingga yang terjadi hanyalah penghakiman atau pembunuhan karakter seseorang.

Luna ingat, setelah ia menceritakan masalah itu, banyak orang di gereja yang mulai bertanya kepadanya mengenai masalah yang dihadapi Luna dan keluarganya. Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. 

“Mereka peduli.. “ begitu kata temannya.

Luna tidak mengerti apa arti peduli ketika mereka hanya bertanya dan berbicara sekenanya dengan mulutnya, lalu pergi.

“Mereka hanya ingin tahu, bukan peduli.. “ sahut Luna ketus kepada temannya.

Luna pernah menceritakan masalahnya pada Rima, tapi Rima terlalu banyak bicara. Ia lebih suka menjawab cerita Luna dibanding mendengarkannya, padahal Luna hanya ingin merasakan apa yang dirasakan Rima. Berbicara, lalu menutup perbincangan dengan ucapan “"Terima kasih mau mendengar cerita saya" dan membawa pulang kelegaan.

Hari ini hari Selasa. Suara tangis masih terdengar di ujung telepon sana…

Luna tidak ingin menjadi seperti Rima, yang tidak pernah mencoba mengubah keadaannya dan hanya bisa menangis pasrah. Luna tidak ingin Selasa depan menjadi Selasa yang sama bagi dia. Jika memang di Bumi ini orang lebih suka menggunakan mulut dibanding telinganya, Luna berharap di angkasa sana ia bisa menemukan orang atau mungkin makhluk lain yang mau meminjamkan telinganya untuk menjadi tempat Luna berkeluh-kesah, membiarkannya mulutnya bercerita hingga bisa membawa pulang kelegaan seperti yang mungkin Rima rasakan ketika meneleponnya.

Luna lalu memutuskan telinga kanannya dan membiarkannya menempel pada telepon genggamnya, ia tahu Rima membutuhkan telinganya.

Ia lalu melompat ke atas langit berharap bisa menemukan telinga yang mau mendengarkannya di angkasa sana. Sayang, gravitasi datang dan dengan jahatnya menarik dan Luna ke bawah dengan keras, membuatnya terhempas dan semakin jauh dari telinga yang dicarinya.

Di ujung telepon sana, tangis Rima mulai berhenti, entah karena lega atau lelah.

“Terima kasih sudah mau mendengar cerita saya..” ujar Rima sambil menutup teleponnya.



LATEST POST

 

Kita semua tentu tidak asing dengan DC Comics—salah satu perusahaan komik terbesar di Amerika...
by Febrian Eka Sandi Nugroho | 09 Oct 2019

Beberapa tahun lalu, saya mengerjakan penulisan untuk sebuah majalah ‘untuk kalangan Kris...
by Sobat Anonim | 09 Oct 2019

Kekacauan di Indonesia yang terjadi beberapa pekan terakhir melukai hati saya. Bisa dibilang, setiap...
by Eleazar Evan Moeljono | 05 Oct 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER