“You are Enough”: Menilik Apa Arti "Cukup"

Best Regards, Live Through This, 07 September 2019
"Tuhan beserta kita dan itu cukup."

Salah seorang sahabat saya baru saja melangsungkan pernikahan. Tema pernikahan yang dibuatnya adalah “You are Enough”. Sesaat sebelum pemberkatan dimulai, saya mendengar pendeta yang melayani ibadah tersebut berkata kepada sahabat saya dan calon suaminya, “Saya yakin bahwa masih ada banyak hal yang membuat kalian khawatir hari ini. Saya juga yakin bahwa masih ada hal-hal yang berkaitan dengan pernak-pernik pernikahan ini yang belum selesai. Namun saya meminta untuk tinggalkan dan lupakan semua hal yang mengganggu kalian. Pandang pasanganmu, dan ingat bahwa ada dia di sampingmu. Itu cukup.”


Cukup berarti tidak berkekurangan dan tidak berkelebihan.


"Cukup" bukan hanya berbicara mengenai perhitungan harta benda yang kita miliki dan bagaimana orang lain memandang kemampuan kita dalam memenuhi kebutuhan hidup sebagai manusia, namun juga merupakan sebuah pola pikir, sudut pandang, dan usaha melatih diri. "Cukup" juga berarti mengusahakan apa yang Tuhan titipkan dalam hidup kita dengan sedemikian rupa, dan disandingkan dengan kesadaran sepenuh-penuhnya bahwa tidak semua hal dapat kita kendalikan maupun raih. Namun kita perlu mengingat: Cukup tidak sama dengan pasrah. Agar dapat mencapai kata "cukup", kita harus tetap berusaha dengan seluruh talenta dan tenaga—tetapi "cukup" tahu kapan harus berhenti untuk berkata, “Terima kasih, Tuhan... untuk berkat, pelajaran, kegagalan, ajaran, ujian, dan orang-orang yang Engkau tempatkan di sampingku.”



Photo by Hello I'm Nik 🇬🇧 on Unsplash 


Setiap orang (termasuk kita) memiliki hal-hal yang diperjuangkan dalam hidup dengan disertai kegagalan yang berulang kali; tetapi Tuhan selalu ada—entah kita menyadarinya atau tidak... dan itulah "cukup".


Meskipun kita bekerja keras untuk menghasilkan uang, apa yang kita peroleh tidak akan pernah cukup hingga kita sendiri yang berkata, “Terima kasih, Tuhan, ini cukup buat kami.”

Ketika kita belajar dengan keras selama satu semester penuh dan mendapat nilai akhir yang sesuai atau tidak sesuai dengan harapan kita, beranikah kita berkata, “Terima kasih Tuhan, karena aku masih diizinkan belajar di perguruan tinggi"?

Ketika kita terjebak dengan pasangan yang keras kepala untuk seumur hidup, dapatkah kita berhenti sejenak dan kembali mengingat waktu kita mengucapkan janji di hadapan Tuhan dan jemaatnya, lalu menyadari bahwa dia adalah pemberian Tuhan yang cukup bagiku?

Mungkin kita dikelilingi dengan difficult people; bisa jadi mereka adalah orang tua, anak, pasangan, saudara kandung, rekan kerja, atau atasan yang sulit dan menuntut. Jika ya, ada baiknya kita berhenti sejenak dan menilik kembali bahwa keberadaan mereka di hidup kita adalah cukup. Iya, cukup untuk mendewasakan kita (dan jangan lupa bahwa kita pun bisa menjadi pribadi yang menyulitkan orang lain). Ingat, permasalahan hidup kita tidak akan selesai dalam sekejap mata setelah kita menyerahkan hidup dan hati untuk Tuhan Yesus. Justru permasalahan itu adalah proses seumur hidup—yang mungkin tidak juga selesai ketika kita menghembuskan napas terakhir. Namun ada sesuatu yang bisa kita ubah, yaitu cara pandang kita dalam melewati sebuah proses yang sulit serta cara kita menerima diri sendiri. Kita perlu terus mengingat bahwa diri ini tidak sempurna— sekaligus sudah disempurnakan oleh Tuhan.


Photo by Felicia Buitenwerf on Unsplash 


"It is okay to be not okay", demikian kutipan yang sering kita baca. Namun, yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah kita menyadari kalau kita berada dalam kondisi "not okay". Adakah kita berani berkata kepada Tuhan, "Ya, Tuhan, hidup ini pahit, tetapi penyertaan-Mu hingga aku berada di titik sekarang di hidupku, itu cukup"? Tidak mudah, bukan?

Berani berkata "cukup" akan melatih kita untuk tidak hanya berorientasi pada hasil dan keuntungan apa yang kita dapatkan. Berani berkata "cukup" akan membuat kita memiliki cukup waktu untuk memetik pelajaran dari proses yang kita jalani, mencoba memaknai maksud Tuhan yang telah mengizinkan kita melewati hal-hal yang terjadi, dipertemukan dengan orang-orang yang ada di dekat kita saat ini, sekaligus agar selanjutnya kembali melangkah untuk melanjutkan hidup yang mungkin sama saja dengan hari kemarin. Mengutip salah satu kotbah Pdt. Joas Adiprasetya,

Asal Tuhan beserta kita, itu cukup.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER