Terganggu dengan Bullying

Best Regards, Live Through This, 27 April 2020
“Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” - Matius 23:12

Dulu saya sering sekali mendapati diri saya dibully di sekolah baik itu masa SD, SMP, ataupun SMA. Merasa terganggu dengan banyaknya bully-an yang saya terima membuat saya minder seketika. Hal itu menurunkan rasa optimisme saya untuk bersaing menjadi yang terbaik di kelas. Namun, saya menyadari bahwa tidak baik untuk menjadi orang yang terus-menerus berada di balik bayang-bayang “monster” bully. Tentu, saya dulu sering izin ke UKS, ke perpustakaan sendirian, atau bahkan tidak masuk sekolah hanya untuk kabur dari celotehan, makian, atau perlakuan fisik teman-teman saya yang ada di sekolah. Sungguh sedih.


Terkadang rasanya ingin melawan dan keluar dari sekolah untuk lepas dari bully-an teman-teman saya. Bahkan lebih dari itu, teman-teman saya ada yang mengejek dengan nada mencibir “Rick, memang lo bisa masuk UI?”, “Memangnya lo pantas masuk UI, Rick?”, “Lo jangan sok kepinteran dah, Rick” dan berbagai macam bully-an bernada mengejek. Saya bersyukur hingga hari ini dengan semua kebaikan Tuhan, saya dimampukan untuk meraih berbagai prestasi termasuk di sekolah dulu. Dari mulai SD saya cukup sering menjadi juara kelas, SMP dan SMA menjadi salah satu lulusan terbaik atau istilah kerennya  “Top Five Class Honours.”



Beruntungnya, di kampus saya tidak mengalami perlakuan seperti ketika duduk di bangku sekolah. Akan tetapi, prestasi yang saya torehkan tidak hanya di situ aja. Saya terus mendulang prestasi, meski di tengah banyak tertawaan di luar sana bahwa saya aktivis kampus yang kelamaan kuliah. Meski begitu, saya tidak menggubris bahkan tidak peduli lagi terhadap tertawaan mereka. Toh, tidak ada untung-ruginya ditanggapi. Saya berpikir buat apa memikirkan orang lain lebih baik memikirkan yang lebih penting. Perasaan itu seakan-akan membuat saya agak sombong mungkin karena ingin membuktikan juga pada orang bahwa saya bisa.


Lepas dari itu semua, saya bersyukur bahwa Tuhan selalu menuntun, membimbing, dan menyertai saya dalam segala talenta yang diberikan-NYA kepada saya. Saya pun banyak belajar di Komsel tempat saya bernaung di JPCC. Saya menjadi pribadi yang belajar untuk rendah hati dan tidak mudah membalas orang lain dengan pembuktian. Terkadang, itu suatu  hal yang lumrah, tetapi Tuhan tidak pernah mengajarkan saya untuk selalu membuktikan dengan membalas perlakuan mereka terhadap saya. Saya teringat   kutipan salah satu Injil Alkitab dalam Yeremia 17:7  “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, terlebih yang menaruh harapannya pada Tuhan!”. Justru ketika kita direndahkan oleh orang, maka kita akan ditinggikan.


 “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat” - Lukas 6:22


Ketika kita mendapat perlakuan tidak baik dari orang-orang di sekitar kita maka Tuhan memampukan kita untuk tetap tabah dan tegar menghadapi rintangan yang ada. Seperti kisah Yusuf yang dipandang hanya sebagai seorang budak   ketika dijual ke Mesir, dengan ketetapan-ketetapan Tuhan, ia dimampukan untuk menjadi seorang terpandang di tanah Mesir. Begitu pula dalam kehidupan kita, seberapa sering kita mendapatkan diri diejek, dicibir, bahkan menerima perlakuan buruk dari keluarga maupun teman-teman kita?  Kita harus bangkit dari keterpurukan dan kita harus yakin bahwa kita dimampukan oleh Tuhan untuk menjadi pemenang di dalam kehidupan kita. 


Dan pelajaran juga bagi kita, janganlah memandang seseorang dari kemasan diri saja, tetapi kita harus memandang dari sudut yang positif. Jangan sedikit-sedikit menjustifikasi orang saja, padahal kita tidak melihat diri kita. Karena kita semua adalah gambar dan rupa Allah. Kita diciptakan satu dengan yang lain untuk saling hidup berdampingan tanpa memandang buruk orang saja. Kita perlu melihat sejenak dan merefleksikan kehidupan kita masing-masing agar setiap kita dimampukan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang positif. Tuhan juga mengajarkan untuk berbuat baik, meskipun terkadang kita tidak sadar bahwa kita seakan mempersepsikan buruk seseorang yang terlihat dikucilkan karena kurang pergaulan atau bersikap tidak gaul, dalam bahasa sehari-hari anak muda. 



Saya teringat ayat emas Alkitab yang sangat menginspirasi di dalam kehidupan saya secara rohani. 


Matius 23:12  berkata “Dan barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” 

Suatu kutipan yang luar biasa di mana Tuhan sangat mengasihi kita, orang-orang yang direndahkan oleh orang lain. Kita akan terus belajar di mana kehidupan pribadi yang benar di mata Tuhan akan selalu keluar sebagai pemenang. Jadi, jangan pernah takut untuk bermimpi, berprestasi, dan meraih cita-cita kalian selama tuntunan Roh Kudus bersama di dalam kehidupan kita. Selamat belajar untuk meraih cita-cita yang lebih untuk masa depan yang cerah. Ingat...andalkan Tuhan selalu. DIA-lah sahabat terbaik untuk menolong kita di manapun kita berada. Enjoy the process and walk by faith!


LATEST POST

 

"Kala kucari damaihanya kudapat dalam Yesuskala kucari ketenanganhanya kutemui di dalam Yesusta...
by Grifith Mercia | 25 Nov 2020

Kalau saja namanya bisa ditukar dan menjadi keadaan ibunya, Gia akan senang hati menukarnya walau mu...
by Surya Hadi | 25 Nov 2020

Pagi itu, aku hendak berangkat ke gereja dan melihat ada yang berbeda dari helm papaku. Ada stiker b...
by Emmanuela Angela | 25 Nov 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER