Merasa Bijak tapi Bodoh

Going Deeper, God's Words, 26 August 2020
Transformasi hidup kemuridan dimulai dari keseriusan dalam menghidupi nilai-nilai kerajaan Allah, bukan hanya dalam kata-kata.

Tong kosong nyaring bunyinya. Tentu kita semua sudah sering mendengar peribahasa ini. Peribahasa ini memilik makna tersirat. Tong kosong berarti pandai berbicara, pandai menyampaikan ide atau pendapat, sedangkan nyaring bunyinya berarti tidak mau melakukan apa yang dibicarakan atau dikatakannya. Dengan demikian dapat diartikan "Tong kosong, nyaring bunyinya" sebagai berikut:  hanya pandai berpendapat namun tidak mau melakukannya. Orang seperti ini bisa juga disebut orang yang merasa bijak namun bodoh.

Sumber: https://www.renungankristiani.com/tong-kosong-nyaring-bunyinya/


Perumpamaan yang Yesus ajarkan dalam Lukas 16:1-15 berbicara tentang seorang bendahara yang tidak jujur, namun hal menarik adalah Yesus memberikan nilai positif kepada sang bendahara. Pemberian nilai positif kepada bendahara ini bukan karena kesalahannya melainkan karena kecerdikannya. Kata “cerdik” dalam bahasa Yunani adalah phronimos, yang berarti bijaksana dan memperhatikan kepentingan seseorang. Yesus memuji sikap dari bendahara yang bijaksana ini, karena ia dapat mempergunakan hal-hal di dalam dunia yang dia miliki bukan untuk kepuasan dan nafsunya saja. Tuhan Yesus juga ingin murid-murid dapat memanfaatkan segala sumber daya yang kita miliki sebaik mungkin dan menginvestasikannya bagi kekekalan agar siap mempertanggungjawabkan kepada Tuhan kelak (ay. 9).  Bukan untuk memenuhi keinginan, kemewahan, atau kesenangan kita semata, apalagi sampai tidak mengindahkan orang miskin di sekitar kita. Tetapi, lebih dari itu, kita diminta untuk mengelola sumber daya yang berasal dari Tuhan tersebut bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. 

Murid Kristus harus belajar untuk tidak terjebak dalam pemikiran diri sendiri yang merasa bijaksana. Seperti orang Farisi berusaha menutupi keadaan rohani mereka yang sebenarnya dengan berbagai ritual dan praktik keagamaan. Namun, mereka gagal mengelola berkat Tuhan. Orang Farisi ini dapat diibaratkan sebagai orang yang NATO (No Action Talk Only), maka dari hal tersebut Tuhan Yesus mencemooh mereka dengan memberi teguran yang tajam terhadap mereka (ay. 15). Murid Kristus harus lebih berhikmat dalam memaksimalkan segala berkat yang diberikan Tuhan kepadanya. Jangan hanya menyimpan berkat dari Tuhan, baik itu pengetahuan, hikmat, materi hanya untuk diri sendiri, melainkan juga dibagikan kepada sesama. Jadilah murid Kristus yang tidak hanya tahu dan fasih mengatakan berkat dari Tuhan, namun juga mau melatih diri berbagi berkat Tuhan kepada orang lain demi terciptanya kebaikan bersama yang memuliakan Tuhan. 

LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

TAGS

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER