#CariYangKristen dengan Online Dating Apps

Best Regards, Live Through This, 30 June 2020
Situasi pandemi yang mengharuskan semua orang di rumah saja, membuat orang-orang menahan rindu untuk bertemu yang terkasih dan melawan kesepian yang sering hadir tanpa izin. Teknologi internet tercipta untuk melepas sebagian rindu, melawan rasa sepi, dan menambah warna baru dalam petualangan menemukan relasi romantis, yang sering dianggap tidak lazim.

Di awal pandemi banyak akun berlomba membuat tayangan melalui IG TV. Salah satu yang saya ikuti secara tiba-tiba adalah obrolan seorang pendeta perempuan dan temannya yang saat itu membahas singleness. Situasi seperti ini, di mana kita tidak dapat bertemu, membuat orang-orang sulit mendapatkan koneksi baru di luar lingkaran pertemanan yang sudah dimiliki. Siapa tahu ada yang bisa diajak berkolaborasi dalam berkarya atau menjalani hidup bersama. Obrolan seru tersebut, mencetuskan ide tentang online dating apps atau aplikasi kencan online, menghubungkan para lajang yang memiliki visi dan pandangan hidup yang sejalan.

Tayangan di IG TV tersebut mengingatkan saya dengan nasihat (setengah memaksa) salah satu teman kantor untuk menggunakan Tinder, salah satu aplikasi kencan online, agar saya memiliki pasangan. Pada saat itu, saya merasa tidak membutuhkan aplikasi kencan online tersebut. Lingkaran pertemanan saya cukup luas dan saya merasa masih belum siap untuk menjalin hubungan romantis yang baru. Di satu sisi, saya ragu untuk benar-benar mencari pasangan dengan aplikasi. Apa kata orang? Big no no no. Beberapa kali saya tertawa, menganggap teman saya hanya bercanda, dan hanya bersenang-senang saja menggunakan aplikasi kencan online. Sebagian besar dari mereka memang seperti itu. Mereka lebih mempertimbangkan orang yang ditemui langsung di sekitar mereka daripada dari aplikasi kencan online untuk memulai pertemanan serius. Teman saya yang lain, ada yang berhasil menemukan isterinya melalui aplikasi kencan online, tapi itu hanya satu dari beberapa teman yang saya tahu.

Masa pandemi yang menenggelamkan pikiran dalam kesendirian, mempertanyakan respons saya terhadap aplikasi kencan online. Mengapa saya tertawa ketika ada teman yang menggunakan aplikasi? Saya menduga mereka kurang percaya diri untuk menarik perhatian lawan jenis di dunia nyata dan mereka tidak cukup percaya bahwa Tuhan akan mempertemukan mereka dengan pasangan hidup yang tepat. Koran Tempo dan YouGov merilis bahwa sebagian besar orang Indonesia pengguna aplikasi kencan online, merasa malu untuk mengakuinya dan takut dicap “nggak laku.” Salah satu kontributor YMI.today yang berasal dari Amerika juga menuliskan pengalamannya ketika bertemu sepasang kekasih yang malu-malu menyebutkan bahwa mereka bertemu melalui aplikasi kencan online.  Perbincangan mencari pasangan melalui aplikasi memang masih tabu dibahas, khusunya di kalangan gereja. Setelah merenung, akhirnya saya menantang diri sendiri untuk menggunakan aplikasi kencan online.


Sign Up dan Verifikasi Akun

Sebelum memulai, saya mencari tahu aplikasi kencan online apa saja yang tersedia dan membandingkannya satu sama lain. Di satu sisi, saya juga memiliki harapan bisa menemukan pasangan, mau itu berasal dari lingkaran pertemanan yang saya miliki saat ini atau dari pertemuan-pertemuan yang lain. Karena hal tersebut, saya mulai mencari aplikasi kencan online Kristen (uhuk #cariyangkristen) dan membandingkannya satu dengan yang lain. Pilihan jatuh kepada Christian Dating For Free (CDFF) dan Jodoh Kristen. Dua aplikasi ini saya pakai untuk perbandingan signifikan. CDFF dapat mempertemukan para lajang dari seluruh dunia, sedangkan Jodoh Kristen hanya terbatas di Indonesia saja.

Photo by Andrej Lišakov on Unsplash 

Proses registrasinya cukup “ribet” karena ada banyak pertanyaan yang harus dijawab. Selain data pribadi, kedua aplikasi ini juga mempertanyakan denominasi gereja, seberapa sering beribadah di gereja, siapa Yesus dalam hidupmu, dll. Teman-teman saya yang “iseng” menggunakan aplikasi ini merasa bahwa banyaknya pertanyaan, merepotkan mereka, tapi ini jadi tamparan bagi saya. Menurut saya, pertanyaan yang banyak tersebut menunjukkan mereka merancang aplikasi ini dengan serius, terlepas sedewasa apa keimanan orang-orang yang mendaftar. Toh, kita juga bisa menyaring orang seperti apa yang kita harapkan untuk memulai percakapan mulai dari usia, fisik, domisili, hingga denominasi gereja. Saringan lanjutan dapat dilakukan saat memulai obrolan.

Setelah registrasi dan terverifikasi, saya mempelajari cara kerja aplikasi ini. Tidak lama kemudian, ada yang mulai chatting. Saya membalas setiap pesan yang masuk sewajarnya. Minggu-minggu pertama, chat box saya cukup ramai di kedua aplikasi tersebut. Isinya obrolan singkat selayaknya orang berkenalan, tapi beberapa sudah menanyakan kontak pribadi dan tempat tinggal saya. Ada yang menanyakan nomor Whatsapp, akun Instagram, hingga keberadaan saya secara rinci. Pertanyaan yang paling mungkin saya jawab adalah Instagram, itu pun saya yang meminta akun mereka terlebih dahulu sebelum saya follow back. Nomor Whatsapp dan domisili lengkap tempat tinggal, terlalu pribadi untuk dibagikan. Mereka yang tidak mendapatkan nomor Whatsapp dan informasi di mana saya tinggal, tidak melanjutkan obrolan.

Sebelum menggunakan aplikasi ini, saya memahami betul peraturan tentang data pribadi. Rasa khawatir berkenalan dengan orang baru pasti ada. Apakah orang ini cukup baik, bukan penipu, dan bukan catfishing. Bahkan untuk yang berlanjut ke media sosial, saya periksa ulang isi dari akun mereka apakah mereka benar-benar ada atau menggunakan identitas orang lain.

Photo by Pixabay on PexelsMenggunakan aplikasi kencan online, pada awalnya memberikan gairah untuk “mencari”. Fisik jadi pertama yang dilihat dari foto yang mereka upload, setelahnya beberapa data yang mereka tulis di profil, apakah menarik atau tidak. Lama-kelamaan saya melihat aplikasi kencan online, bagaikan katalog kumpulan para lajang. Beberapa Youtuber Kristen dari luar negeri, juga merasakan hal yang sama dan memutuskan untuk tidak menggunakannya lagi dengan alasan yang mereka miliki. Perbedaan mencolok jika berteman dengan orang baru secara tatap muka dan memiliki ketertarikan satu sama lain, paling tidak pernah bertemu, ngobrol, atau pelayanan bersama, sehingga bisa menilai seseorang bukan dari fisik atau isi profil.


Mungkinkah Mendapatkan Jodoh dari Aplikasi?

Setiap orang punya kisah cintanya masing-masing. Ada yang melalui pertemanan, dikenalkan, dijodohkan, dan bisa jadi melalui dunia maya. Alkitab pun menceritakan beberapa tokoh dengan proses yang beragam dalam mendekati dan memilih pasangan hidup. Aplikasi kencan online hanyalah alat atas kemajuan teknologi untuk bisa saling berkenalan. Sebelum marak adanya aplikasi kencan online, jodoh dari dunia online bisa ditemukan dari iseng-iseng berteman dengan temannya teman hanya karena memiliki pertemanan yang sama di Facebook, Instagram, atau komunitas online, seperti IGNITE.

Tirto.id pernah merilis tulisan, aplikasi kencan online, khususnya yang berbasis agama seperti yang saya gunakan, umumnya digunakan orang yang serius mencari pasangan. Sama seperti yang saya jumpai, hampir semua yang mengobrol dengan saya melalui aplikasi kencan online mengaku serius mencari pasangan seiman, walaupun ada juga yang bahkan masih mempertanyakan keimanannya (agak setengah agnostik). Salah satu teman yang saya temui melalui aplikasi ini, mengungkapkan alasan menggunakan aplikasi kencan online karena sulit mendapatkan calon pasangan potensial di negara tempat ia tinggal. Orang Kristen di sana kurang dari 1% saja. Aplikasi kencan online, khususnya aplikasi kencan berbasis agama dapat menjadi jawaban bagi orang-orang yang “terisolasi” dari calon pasangan potensial. 

Photo by Helena Lopes on Unsplash Menggunakan aplikasi kencan online memiliki keunikannya tersendiri. Walaupun ada orang baik di sana, ada juga yang memanfaatkan sebagai pelarian dari hubungan yang sedang tidak baik-baik, mendapatkan FWB (friends with benefit), cinta satu malam, dan modus penipuan. Batasan dan kontrol diri memiliki peranan penting, memahami lingkaran-lingkaran privat dan seberapa jauh orang lain bisa masuk. Sebagai orang yang menghargai privasi, saya membedakan dengan jelas siapa saja teman yang hanya ada di “pekarangan rumah”, dan siapa teman yang bisa saya ajak makan malam bersama di “rumah”. Instagram bagi saya adalah pekarangan rumah. Orang yang saya kenal atau tidak, masih bisa berinteraksi dengan saya tanpa perlu tahu hal-hal yang sifatnya pribadi.

Selain kontrol diri, kedewasaan seseorang, prinsip menemukan dan memilih pasangan hidup juga penting. Pastikan bahwa kita adalah orang yang sudah selesai dengan masalah-masalah pribadi, menghargai diri sendiri, menikmati setiap momen yang Tuhan beri termasuk masa lajang, dan tidak asal menerima sebagai pasangan karena tekanan sosial atau tekanan atas rasa kesepian. Prinsip memilih pasangan hidup, baik bertemu di dunia online atau bertemu langsung tetaplah sama. Bagi saya yang membedakan adalah proses mengenal dan berkomunikasinya. Bahkan saya memberi tambahan atas doa-doa saya karena dunia online lebih rentan dibandingkan pertemuan natural tatap muka.

Penggunaan aplikasi kencan online yang marak tapi tidak lazim, membuat sebagian orang malu mengakuinya. Tidak hanya penggunaan aplikasi kencan online, mengakui bahwa “saya jomblo” juga jadi beban tersendiri bagi beberapa orang. Berita-berita negatif terkait “jodoh online” juga mempengaruhi cara kita berpikir terhadap fenomena ini. Cara mencari pasangan bisa melalui dunia maya, tapi orangnya kan nggak maya. 

Kadangkala cara mengubah pandangan atau melihat sisi lain terhadap sesuatu yang dianggap asing, aneh, tidak lazim adalah dengan berdialog, mengalami dan merasakannya. Jika sebelumnya saya menertawakan dan menganggap remeh teman-teman yang menggunakan aplikasi kencan online, kali ini saya memiliki cara pandang lain terhadap penggunaan aplikasi semacam ini. Menggunakan aplikasi kencan online, bagi saya melatih kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, dan menambah teman (Hi, my new friendtizen on Instagram). Tidak ada yang salah dan tidak perlu malu juga jika memang menemukan pasangan melalui aplikasi. Sikap hati, visi pernikahan, prinsip menemukan pasangan hidup, dan kedewasaan kita adalah pondasi yang perlu dibangun sebelum memulai sign up hingga mempertimbangkan berkomitmen memulai relasi.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER