DUSTA

Best Regards, Fiction, 22 August 2020
Ibu tak henti-hentinya mengatakan puji Tuhan. Sementara Tan... sibuk mengompres tangannya yang memar di dapur.

Tan tidak akan pulang sebelum jajanannya habis terjual.

Lalu, seorang pria berlari sangat kencang ke arahnya.

Menabraknya begitu keras hingga keduanya jatuh tersungkur.

Jajanannya porak-poranda.


Pria itu menatapnya dengan sangat garang, pergi tanpa kata.

Tidak menyadari dompetnya terjatuh di antara jajanan yang terinjak-injak.


Pria itu sedang dikejar-kejar oleh dua orang pria lainnya.




Tan mengambil dompet itu. 

Entah milik siapa tapi ia tidak berniat ikut aksi kejar-mengejar. 

Dianggapnya itu berkah.


Tan pulang dengan membawa makan malam, obat untuk adiknya yang sakit demam, dan menyerahkan selembar uang seratus ribuan pada sang ibu.

"Uang dari mana?" tanya ibu dengan berkaca-kaca. Tangannya gemetaran.

"Ada orang yang kasih lebih, Bu."

Jika ibu mengetahui yang sebenarnya, tentu ia akan menyuruh Tan mengembalikan dompet itu.

Ibu tak henti-hentinya mengatakan puji Tuhan. 

Sementara Tan... sibuk mengompres tangannya yang memar di dapur.


LATEST POST

 

Kalimat itu terus terbesit dalam benak saya malam  itu di dalam kesendirian saya di kamar kos s...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 15 May 2021

Tidak ada seseorang yang sempurna untuk dicintai.Kamu akan menemukan orang-orang yang tidak sempurna...
by Monica Petra | 15 May 2021

Tujuh tahun yang lalu, ketika salah seorang sahabat terdekat saya meninggal dunia karena pesawat yan...
by Primaridiana Pradiptasari | 15 May 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER