Di Kala Netizen Mengetik: Short Film “Tilik” dan Hoax

Best Regards, Live Through This, 01 September 2020
“Jenenganne internet ki gaweanne wong pinter je! Yo, ra bakal kleru tho yo” (Namanya internet itu buatannya orang pinter lah! Ya nggak mungkin salah ya) “Nek bodho yo raiso gawe internet tho yo” (Kalau bodoh ya nggak bisa bikin internet, ya)

Kolaborasi bersama Mathew Joseph Susanto

Tahun 2018, sebuah film pendek berjudul Tilik resmi dirilis. Film berdurasi 32 menit itu tiba-tiba menjadi viral karena ceritanya yang lucu dan menggelitik, namun juga cukup relevan dengan konteks media sosial saat ini.

Saat ini, informasi sangat mudah dan cepat didapat. Selain itu, kita pun dengan mudah dapat menyebarkan informasi tersebut. Di era internet seperti saat ini rasanya kita disuguhkan dengan berbagai macam informasi, ada yang berguna dan bermanfaat, ada pula yang tidak bermanfaat, atau bahkan  hoax (kebohongan publik).

Sisi positifnya kita tidak perlu susah payah mencari sebuah informasi. Sebagai contoh, untuk mencari resep makanan yang kita suka, kita bisa mendapatkannya melalui platform YouTube atau mesin pencari Google. Pada era seperti ini, kita memiliki kemudahan untuk mengakses informasi dan pengetahuan dari A sampai Z.

Namun, kemudahan informasi ini juga memiliki sisi negatif, seperti berita hoax yang viral di Facebook atau tersebar di grup WhatsApp. Bisa juga, sebuah kasus yang belum jelas kebenarannya (simpang siur) yang viral di media sosial sehingga terjadi kehebohan yang berpotensi untuk menggiring opini publik. 

Pada film Tilik (untuk Ignite people yang belum menonton filmnya dapat dilihat di sini), kita tentu mengenal dua tokoh yang terkenal ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah Bu Tejo dan Yu Ning. Dalam perjalanan ibu-ibu desa menengok bu Lurah, terjadi gosip antara sesama ibu-ibu disini, termasuk juga Bu Tejo dan Yu Ning. Bu Tejo bergosip tentang Dian dengan sumber dari Facebook yang belum jelas kebenarannya, seolah internet akan selalu benar. 

“Karena Internet dibuat oleh orang pintar, sehingga tidak mungkin salah”

Yu Ning membantahnya sehingga dia berkonfrontasi bahkan cenderung berdebat dengan Bu Tejo. Perdebatan itu ditambah juga dengan pembicaraan Yu Ning  tentang Pak Tejo. Akibatnya terjadi kehebohan dan penggiringan opini di dalam mobil truk milik Gotrek tersebut. 

Source: Google.com

Kisah di film Tilik  sangat relevan dalam  kehidupan masyarakat kita saat ini. Masyarakat kita sangat familiar sekali dengan berita hoax. Seperti yang terjadi pada masa pandemi COVID-19, banyak dari sesama kita yang telah "salah" menyikapi pandemi ini baik  menganggapnya enteng hingga paranoid. Sehingga, muncullah berita-berita konspirasi terkait pandemi ini dan tersebar di banyak media. Menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kominfo) per 7 Agustus 2020, saat ini terdapat 1016 berita hoax yang sudah dilaporkan. 

Dampak dari persebaran berita hoax ini dapat menggiring opini publik, yang diawali oleh prasangka dan dipercaya menjadi sebuah kebenaran. Melalui opini publik ini, timbullah berbagai persepsi dan asumsi yang berkembang menjadi informasi publik lainnya.

Dalam film Tilik, ibu-ibu dalam truk tersebut percaya bahwa, Dian adalah perempuan nakal dan Pak Tejo terindikasi telah melakukan money politik dalam pilkades. 

Kisah penggiringan opini juga terdapat dalam Alkitab. Kisah Yeremia yang melawan nabi Hananya (Yeremia 28) menjadi contohnya. Hananya bernubuat, bahwa Tuhan akan mengusir bangsa Babel dari tanah Israel dan menyelamatkan bangsa Israel (Yer 28 : 2-3) di depan bangsa itu. Lalu, Yeremia menantang Hananya akan nubuatannya dan Hananya mematahkan gandar (=kuk) milik Yeremia. Lalu, akhirnya Yeremia menubuatkan kematian kematian Hananya karena Hananya telah berdusta di hadapan Tuhan dan rakyat Israel (Yer 28: 15-17).

Kalau kita kembali ke kitab Keluaran, Tuhan melarang kita untuk berdusta seperti sebutkan ayat dibawah ini.

"Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. ..." (Keluaran 23:1)

Dalam ayat tersebut, Tuhan melarang bangsa Israel untuk menyebarkan kabar bohong tentang apapun dan kepada siapapun. Bahkan, Tuhan juga melarang bangsa Israel untuk menjadi saksi yang memberi keterangan yang tidak benar. Ayat ini juga mengajar kita untuk tidak berbohong dalam bentuk apapun, termasuk menyebarkan berita yang tidak jelas kebenarannya.

Sebagai seorang Kristen, kita harus kritis terhadap segala sesuatu termasuk dalam menerima dan mengolah berbagai macam informasi. Informasi yang ada sekarang sulit untuk kita bedakan, mana yang benar dan  salah. Oleh karena itu, kita perlu meminta hikmat dari Roh Kudus untuk memilih informasi yang kita dapat dan memverifikasinya. 

Lalu, jangan membuat atau menyebarkan berita bohong kepada orang lain. Berita bohong hanya merugikan diri sendiri dan orang lain, seperti mencemarkan nama baik, memperkeruh suasana yang sedang tidak kondusif dan sebagainya. 

Marilah kita menjadi generasi yang cerdas dalam menanggapi dan mengolah informasi yang beredar saat ini. Beritakanlah kebenaran dan jadilah pelopor anti hoax di tengah masyarakat kita!



LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER