Untuk Kita, yang Gagal dan Jadi Pecundang

Going Deeper, God's Words, 10 May 2019
Mungkin jika di akhir tahun kita merasa diri tidak penting, atau pecundang, ya mungkin benar, kita gagal!

Mereka Sang Pemenang, Kita yang Pecundang

Akhir tahun kerap dijadikan momen evaluasi bagi banyak individu, melihat rencana di awal tahun dan realisasi yang sudah dirasakan di penghujung tahun. Tak ayal dalam mengevaluasi, kita sering membandingkan dalam hati, hasil yang kita terima dengan kondisi orang lain. Teman-teman sudah lulus kuliah, sedangkan saya masih berkutat pada tugas akhir; kerabat sudah bekerja di perusahaan dengan posisi yang tinggi ataupun usaha yang mereka buka lancar, saya masih bingung mencari pekerjaan; semua sepupu sudah menikah dan punya anak, saya jomblo, hahaha

Sangat mungkin juga perbandingan yang kita lakukan juga tertuju pada aspek kerohanian, terlebih pada momen Natal kita kerap melihat para pengurus gereja atau majelis yang masih berusia muda dengan aura kerohanian yang melekat pada diri mereka, sedangkan diri ini masih sering bolong saat teduh, malu untuk berdoa dan sebagainya.

 

Something behind Their Success

Menikmati konser orkestra, konser paduan suara ataupun pertandingan olahraga adalah hal yang sebagian besar dari kita minati. Kita tertarik kepada orang-orang yang memainkan Chello dan Flute, kita tertarik kepada penyanyi yang sedang melantukan suaranya pada part solo ataupun para pemain olahraga yang berhasil mencetak poin. Bukan hanya kita, sorotan kamera juga tidak sedikit yang mengambil fokus kepada mereka yang sukses dalam pertandingan. “Kamera” subjektif manusia pun juga sama-sama menyukai menyorot mereka yang sukses, walaupun kita tak sepenuhnya melihat proses yang terjadi pada sang pemenang hingga mencapai keberhasilan, dan juga tak terlalu peduli dengan sosok yang berkontribusi pada kesuksesan mereka.


www.instagram.com/sylviaduckworth


Yap, kelemahan mata manusia ialah tak bisa menjangkau semua proses dan sudut pandang. Kita tidak tahu proses yang terjadi pada setiap anggota orkestra sehingga mereka bisa memainkan alat musiknya, kita tak tahu berapa lama para penyanyi paduan suara berlatih setiap harinya, kita juga tak tahu betapa berat latihan fisik yang dilakukan oleh para olahragawan. Tak terlalu banyak orang yang tertarik kepada dirigen yang membelakangi mata penonton begitu pula dengan pelatih yang berada pada luar lapangan atau di sudut bangku luar. Nyatanya orang-orang yang tak nampak tersebut yang memberikan proses dalam keberhasilan mereka.

 

Lukas 2: 8-20, Gembala-Gembala yang Ga Penting-Penting Amat

Kisah para gembala yang ditemui malaikat dan pada akhirnya mereka menemui bayi Yesus sangat umum kita dengarkan setiap momen natal. Namun perspektif berbeda tentu akan memperluas horizon berpikir kita. Pertama, gembala kerap, oleh kebanyakan orang Kristen, dikonotasikan positif tanpa melihat konteks sosial maupun alur narasi, terlebih Yesus menyatakan ia adalah “Gembala yang baik” ataupun tokoh-tokoh Alkitab seperti Daud dan Musa yang punya pekerjaan lama sebagai gembala.

Gembala dalam Injil Lukas sebenarnya dilekatkan dengan citra negatif, selain tergolong pekerja kelas bawah – budak dari pemilik ternak yang ditugaskan menjaga peliharaan yang banyak – mereka juga adalah pencuri. Memang bukan harta benda yang dicuri, melainkan rumput yang dimiliki oleh gembala atau pemilik tanah lain, bahkan sebagian gembala Indonesia konvensional masa kini pun juga masih melakukannya.


unsplash.com


Kedua, mereka bukan orang-orang yang tergolong penting dalam cara pandang penulis Injil, figuran yang numpang lewat. Kita bisa mengetahui penting tidaknya peran seseorang tentu dari otoritas penulis kitab yang menuliskan atau tidak menuliskan nama mereka. Nampaknya jika menggunakan ukuran ini, maka para gembala pun tidak lebih penting dibandingkan perempuan saksi kebangkitan Yesus yang namanya disebutkan, padahal kesaksian perempuan hanya dihitung setengah dari kesaksian pria. Andaikata kita pernah mendengar nama dari para gembala, percayalah temuan tersebut bukanlah sesuatu yang bersumber dari teks asli.

Lantas mengapa penulis Injil Lukas menaruh cerita tentang kumpulan orang yang ga penting-penting amat ini? Mungkin fokus pandangan bukanlah tentang para gembala, yang menjadi judul perikop dari bacaan, melainkan perjumpaan Sang Ilahi menghampiri mereka, melalui sekumpulan bala malaikat sorga yang dilanjutkan dengan pertemuan dengan bayi mungil Yesus. Perjumpaan yang eksistensial itulah yang membuat para gembala bersukacita, memuji dan memuliakan Allah, serta membuat kesaksian mereka akan kelahiran Mesias sampai hari ini dianggap penting.


unsplash.com


Hari ini Pecundang, Esok?

Mungkin jika di akhir tahun kita merasa diri tidak penting, atau pecundang, ya mungkin benar, kita gagal! Tapi apakah dengan gagal dan membandingkan diri dengan mereka yang telah berhasil dalam studi, karir, percintaan, dan kerohanian akan membuat kita berhasil? Tidak. Setiap kita pada dasarnya punya kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hal yang mungkin perlu kita lakukan terlebih dahulu ialah memberi diri lebih terbuka dan lebih peka untuk mengalami perjumpaan yang eksistensial dengan Sang Ilahi dalam momen kekalahan. Akuilah kelemahan diri kita, karena hanya melalui perkenanan-Nya kita dikuatkan dan dimampukan, sama seperti para gembala yang tak penting dan tak bernama, memberi diri untuk mencari bayi Yesus dan akhirnya diberikan sukacita kehidupan.

 

Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

 

Banda Neira, Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

LATEST POST

 

Apa sih perasaannya kala itu?Saya sendiri bahkan tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bahagi...
by Sobat Anonim | 15 Jul 2019

Purwokerto, 9 Juli 2019Shalom,Damai Sejahtera bagi kamu,Halo Nat, lama kita ngga berjumpa. Gima...
by Agustina Endarwanti | 15 Jul 2019

Water covers 70% of our planet and it is easy to think that it will always be plentiful and will not...
by Arum Sekar Ratrie | 15 Jul 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER