Pencobaan di Tepi Akuarium

Best Regards, Live Through This, 14 September 2022
Batasan dan aturan dari Tuhan itu mengekang atau membebaskan?

Di suatu pagi, seekor ikan yang ada di dalam akuarium dihampiri oleh seekor kucing.

Ikan itu membuka pembicaraan sebab di dalam akuarium itu hidupnya mulai dirasa membosankan, “Bagaimana kehidupan di luar sana?”


“Hmm… aku pikir lebih mengasyikkan daripada di tempatmu sekarang," jawab Si Kucing. "Aku bisa pergi ke mana saja, tanpa ada batasan yang jadi penghalang. Aku bisa melihat dunia yang lebih gemerlapan dibanding lampu yang menerangimu sekarang. Bahkan aku bebas bisa makan apa saja yang aku mau, karena banyak makanan yang bisa aku ambil di sekelilingku. Kamu? Pasti kamu makan makanan yang sama setiap harinya.”


Mendengar jawaban itu, Si Ikan itu merenung sejenak dan akhirnya berkata, “Benar juga apa katamu. Di sini mulai membosankan. Aku gak bisa bebas berenang karena ada kaca di sekelilingku, melihat dunia yang sama setiap harinya. Dan meskipun ada makanan setiap hari, menu makananku hampir selalu monoton gak pernah ganti...”


“Nah, kalau begitu tunggu apa lagi?” kata Si Kucing. “Ayo ke luar dari akuarium sekarang. Nanti aku akan mengajakmu jalan-jalan melihat dunia yang luas dan indah.”


Tanpa pikir panjang lagi, Si Ikan kemudian melompat ke luar akuarium. Kaget. Ternyata dia tidak bisa bernafas dan hanya bisa menggelepar-gelepar. Si Ikan minta tolong kepada Si Kucing yang mendekat, tetapi...


Photo by 蔡 世宏 on Unsplash  



Menurut Ignite People, ikan di dalam akuarium itu hidup terkekang atau malah hidup terpelihara dan merdeka? Untuk yang setuju dengan perspektif si kucing, coba pikirkan tiga poin ini:


  1. Ikan di dalam akuarium tidak akan mengalami perubahan iklim, atau hampir tidak mungkin keracunan karena pencemaran air, seperti yang dialami oleh kebanyakan ikan yang hidup di laut atau sungai. Bahkan ada alat untuk mengatur pH (kadar asam-basa) air di dalam akuarium untuk memastikan ikan-ikan di dalamnya hidup di air yang bersih dan sehat.
  2. Ikan di dalam akuarium tidak mungkin dimangsa predatornya. Meskipun dibatasi area berenangnya—tidak seperti sungai atau lautan yang lebih luas areanya—ikan di laut atau di sungai setiap hari harus was-was dari predator yang siap memangsanya (burung, beruang, atau ikan yang lebih besar).
  3. Pernah lihat orang memancing ikan di dalam akuarium? Mungkin pernah, tapi itu pengecualian; mungkin satu dari sejuta manusia yang melakukannya. Nah, meskipun ikan di akuarium hampir selalu makan menu yang sama setiap harinya, tapi mereka tidak pernah kelaparan atau mati konyol akibat jebakan. Ikan di laut dan di sungai bisa saja sering kelaparan. Lalu ketika melihat cacing atau ikan kecil yang jadi santapannya terapung-apung di permukaan, tanpa pikir panjang langsung disambar... dan hap, mereka ditangkap, lalu kebanyakan berakhir menjadi menu santapan manusia di meja makan.



Apakah perintah dan larangan yang dituliskan dalam Alkitab itu mengekang kebebasan? Tergantung dari mana kita melihatnya (dari perspektif ikan atau kucing?). Memang benar, hidup dalam “akuarium perintah dan aturan Tuhan” itu kadang bisa membosankan, dan kita mungkin melihat dan mendengar cerita mereka yang hidup di luar “akuarium” itu sepertinya menyenangkan. Namun percayalah, hidup di dalam “akuarium” yang sudah Tuhan berikan itu membebaskan kita dari rasa tidak nyaman dan ancaman akan bahaya.


Tuhan Yesus sendiri pernah berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:28-29)


Tuhan Yesus sudah tahu berapa besar kapasitas kita untuk menanggung beban kehidupan ini; dan itulah bukti sekaligus janji, bahwa hidup dengan patuh di dalam aturan-Nya itu tidak memberatkan sama sekali.


“Outside the will of God, there’s nothing I want. Inside the will of God, there’s nothing I fear.”
(A.W. Tozer)


Beberapa dari kita juga pasti tahu perumpamaan Anak yang Hilang. Bisa diibaratkan, anak bungsu di perumpamaan itu, dia ke luar dari akuarium kasih bapanya; dari pemeliharaan dan aturan yang sudah ditetapkan untuknya. Tapi setelah pergi ke luar rumah bapanya, setelah merasakan kebebasan yang sebebas-bebasnya... dia hampir mati kelaparan. Tapi untungnya dia menyadari kesalahannya dan teringat kepada bapanya. “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” (Lukas 15:17-19)


Jadi apakah kita mau mengulangi kesalahan si anak bungsu itu: menukarkan rasa aman dalam aturan dan pemeliharaan Tuhan, dengan kebebasan yang semu dan hanya sementara saja?




Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. — Galatia 5:13


N.B.:

Lanjutan dari cerita di awal tadi: “...tetapi kemudian si empunya ikan melihat peliharaannya melompat ke luar dari akuarium dan hendak dimakan oleh seekor kucing liar. Dalam sekejap, dia mengambil ikan itu dan mengembalikan ke dalam akuariumnya, lalu mengusir si kucing liar ke luar dari rumahnya."

LATEST POST

 

Artikel ini merujuk pada Roma 3:9-12.Akhir-akhir ini, perselingkuhan seolah-olah menjadi “tren...
by Sandra Priskila | 28 Nov 2022

“MANTRAAAA.... AJI!!”Masih ingat dengan tokusatsu fenomenal era 90-an ini? Sebuah tayang...
by Alviedo Yuda | 28 Nov 2022

... namun, apakah dosa hanya sekadar perbuatan jahat saja? bagaimana proses manusia bisa jatuh dalam...
by Samuel Semeion | 25 Nov 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER