Anugerah: Ayam Goreng dan Nasi Putih yang Melalui Lima Jam Perjalanan

Best Regards, Live Through This, 15 May 2019
Satu yang paling berharga dan mungkin unsur besar dalam keseluruhan konsep Anugerah: diinginkan.

Ketika membaca editorial letter bulan ini, saya teringat satu kisah pada masa lampau. Bukan ingatan yang menyenangkan untuk di-recall, sebenarnya. Namun, saya coba membaginya.

Peristiwa ini terjadi saat saya kuliah. Sebagai mahasiswa perantau nan misqueen alias kere—dalam arti sesungguhnya, pengaturan keuangan penuh penghematan adalah hal mutlak yang harus dilakukan. Suatu hari, Jumat malam tepatnya, saya membuka dompet dan menyadari bahwa kartu ATM saya raib. Saya baru sadar mungkin saya lupa menariknya dari mesin ATM beberapa hari lalu. Saat itu di dompet saya tersisa lima ribu rupiah, dan saya berpikir keras bagaimana harus bertahan hidup di hari Sabtu dan Minggu. Masalahnya, mengurus kartu ATM atau tarik tunai di Bank juga tidak memungkinkan sebab sedang akhir pekan dan bagi saya, meminjam uang juga pantang sekali secara prinsip.

“Ah, aman. Masih ada Cece,” kata saya dalam hati sembari mencoba menghubungi kakak perempuan saya. Dia adalah orang yang saat itu saya anggap selalu bisa diandalkan, dan hari itu pun saya memperhitungkannya sebagai solusi dari ancaman kelaparan-seharian. Sayangnya, entah mengapa dia merespons saya dengan jengkel dan penuh kemarahan. Mungkin dia sudah lelah dengan kecerobohan adik semata wayangnya ini, atau mungkin dia sedang berkutat dengan masalahnya sendiri.

Sabtu pagi itu menjadi sangat emosional buat saya. Ada perasaan jengkel ke diri sendiri, ada sedih luar biasa terhadap sosok kakak saya saat itu, dan banyak perasaan marah ke orang tua sebab memberikan saya hidup dengan penuh keterbatasan.

Tepat pada saat itu, telepon rutin akhir pekan masuk. Mama dan papa saya menelpon dari sebuah desa kecil di Jawa Timur. Tanpa berlama-lama, saya ungkapkan keluh kesah saya. Saya marah, dan agak membentak. Lalu saya menutup telepon. Saya bergegas membeli mie instan dengan sisa uang lima ribu untuk mengisi perut. Saya memakannya dengan sedih, meratapi hidup dan segala keterbatasan.

Saya rasa, momen macam itu akan atau pernah singgah. Ketika kita merasa berhak untuk menyalahkan kondisi bahkan diri sendiri. Di saat itu, saya menyadari bahwa bukan hidup yang sulit yang menjadi pokok utama kemarahan saya, namun perasaan tidak berdaya dan perasaan ditinggalkan. Kedua hal ini, lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri.


Cerita belum usai

Saat hari agak siang, mama saya kembali menelepon. Saya coba untuk merespons dengan lebih tenang namun tetap dingin.

“Mama di luar.”

Saya bingung mengolah kalimat ini. Apakah mama saya sedang salah menelepon, atau meracau, atau apa.

“Mama di depan kost-mu.”

Hati saya mulai gentar sambil terus mencoba mencerna. Pasalnya, tempat tinggal orang tua saya berjarak 4-5 jam untuk menuju ke Surabaya. Lalu, bagaimana mungkin ada di depan kost? Tanpa berlama-lama dengan segala asumsi, saya turun dari kamar saya yang letaknya di lantai dua, dan membuka pagar.

Seakan petir di siang bolong, mama saya dengan bajunya yang sederhana sudah ada di depan. Dengan singkat dan sangat tegar, mama saya menjelaskan bahwa mereka—mama dan papa saya—minta maaf atas hidup sulit yang harus saya tanggung. Terlihat sekali mereka menangkap kekecewaan yang saya lempar saat di telepon.

Saya berkuliah memang bukan dengan dana mereka, tapi dengan beasiswa ditambah bantuan seadanya dari seorang saudara yang saya anggap sebagai papa angkat saya sendiri. Saat itu, papa saya baru saja kecelakaan dan menjadi pengangguran sedangkan mama saya terlilit banyak kesulitan ekonomi karena hutang dan kebutuhan sehari-hari. Tanpa sadar, saya diam-diam menyimpan kekecewaan ke mereka. Momen hilangnya kartu ATM itu kemudian menjadi sebuah stimulus meletusnya tumpukan amarah.

Mama saya di depan pagar, memberi saya ayam goreng asin kesukaan saya. Dengan satu bungkus nasi putih. Dan uang lima puluh ribu. Saya ingat betul, di depan pagar saya menahan tangis dan sesal luar biasa. Mama saya kemudian pergi. Kembali melanjutkan perjalanan lima jam yang saya tahu itu melelahkan.

Bisa dibilang hari itu, adalah hari paling penuh air mata. Tuhan sedang mengajarkan saya habis-habisan bahwa anugerah tidak selalu datang dalam bentuk yang mewah, dan seperti kata Dewi Lestari, kadang malaikat memang tidak bersayap. Saya terus menangis saat saya ke kantor polisi mengurus kartu ATM yang hilang. Saya masih menangis saat kakak saya merasa bersalah dan menraktir saya ice cream malam harinya.

Peristiwa sembilan tahun lalu ini bagi saya adalah contoh lantang tentang apa itu anugerah:sebuah penerimaan yang nihil penghakiman untuk manusia yang kerap durhaka.

Ada satu film, selain The Blind Side tentunya, yang membuat saya kadang heran, dibuat dari apa sebenarnya hati para orang tua dalam mengasihi anaknya.

October Baby. Film in diangkat dari kisah nyata seorang gadis perempuan yang mendapati dirinya adalah anak adopsi. Setelah menemukan serangkai fakta, dia menjadi begitu marah kepada orang tua yang mengadopsinya. Di sebuah adegan, sang ayah merespons kemarahan si gadis dengan menjelaskan bahwa untuk adopsi itu dia harus menunda lulus kuliah kedokteran, dia dan istrinya juga kehilangan rumah, dan menjadi bangkrut untuk membiayai segala kebutuhan dan biaya pengobatan. Anaknya terdiam. Di adegan penghujung film, sang anak berlari memeluk sang ayah dengan potongan percakapan sederhana:

“Thank you.”

“For what?”

“For wanting me”

Dicari, diampuni, dan diterima kembali. Pada dasarnya itulah anugerah, yang kita hayati di rangkaian momen Paska; yang kita syukuri atas kehadiran manusia-manusia yang memberi penerimaan penuh kasih melampaui kelayakan kita; dan dalam versi saya, yang saya nikmati melalui ayam goreng dan nasi putih terenak yang saya makan sembilan tahun lalu. Namun jangan lupa, satu yang paling berharga dan mungkin unsur besar dalam keseluruhan konsep Anugerah: diinginkan.

Dan dengan segala kebejatan kita, masih ada yang menginginkan kita. Bukankah layak dalam hati kita bertanya: “Bagaimana mungkin ada kasih yang seperti ini?”

LATEST POST

 

*in collaboration with Olivia Elena HakimSepanjang tahun 2016-2019, kita kerap membaca berita t...
by Ari Setiawan | 18 Sep 2019

Sebagian besar di antara kita menginginkan bisa berada di tempat yang kita inginkan atau kita impika...
by Aditya Seto Nugroho | 18 Sep 2019

Hai Gereja, bagaimana kabarnya? Kulihat wajahmu semakin banyak rupa Masihkah engkau setia membawa su...
by radith trinanda | 18 Sep 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER