Karena Cinta Dapat Melampaui Apa Pun, Sudahkah Kamu Mencintai Dengan Tepat?

Going Deeper, God's Words, 21 June 2020
Jika cinta itu bertindak, bertindak lah. Namun jangan biarkan dia bertindak pada tempat yg salah. Biarkan Mata hati mu yang menuntunmu kemana cinta ini bertindak, hati yang melekat dengan Allah akan dapat menuntun mu untuk menilai kemana cinta ini terpaut.

Aku dapat voice call dari Celine, yang kukenal dari salah satu camp dan dia mengabdi di salah satu desa di Indonesia bagian Timur. Sudah berulang kali di setiap percakapan, Celine selalu mendorong aku untuk bertemu dengannya, sudah 4 tahun kami tidak bertatap muka. 

"Ya Celine, kapan-kapan ya," jawabku kadang-kadang.

Mungkin dia tidak begitu puas atau ragu dengan jawabanku yang tak kunjung pasti kapan waktunya. Akhirnya malam ini pertanyaan ini pun kembali kudengar tapi sedikit berbeda.

"Kak kapan kemari? Katanya... cinta bisa membuat orang menyebrangi pulau. Apa harus 'dapat' orang sini, baru kakak bisa ke mari? Mau aku kenalkan kak?" 


Percakapan kami pun panjang membahas kondisi pekerjaan dan pelayanannya di tengah-tengah kondisi Covid-19 ini.

Tapi di sela-sela percakapan kami, dia kembali menyampaikan hal yang sama. "Kak, kapan ya ke mari? Kalo cinta itu pasti menetap, cinta yang bawa kakak ke mari." 

Pernyataannya membuat aku berpikir. Bukan sekadar memikirkan kapan waktunya aku harus ke sana bertemu Celine. Aku berpikir tentang begitu kuatnya cinta yang bisa mengalahkan jarak, melampaui tantangan yang ada di hadapan kita. 

Dalam buku "Love Does", katanya cinta itu harus bertindak, bukan sekadar pernyataan. Pernyataan memang penting, tapi harus dilengkapi dengan tindakan nyata sebagai wujud keseriusan dari kata-kata kita. Kita dapat pelajari hal ini dari yang Yesus lakukan di mana Dia tidak hanya sekadar mengatakan kasih-Nya pada kita, dia juga membuktikannya dengan menebus dosa kita dengan menderita dan mati di Kayu Salib.


Apa yang saat ini sedang kamu cintai?

Uang, jabatan atau kesuksesan, wanita atau laki-laki atau diri sendiri, apa yang kita cintai? Dalam buku "Counterfeit Gods", Timothy keller sangat jelas menyampaikan terkadang banyak allah-allah lain yang sedang menggeser keberadaan Allah itu sendiri. Keberadaan Allah semestinya sama sekali tidak berhak digeser dengan apa dan siapapun, Allah adalah yang terutama.


Kalau benar cinta itu bisa melampaui apapun, sangat bahaya saat kita salah mencintai. Apakah yang saat ini kita cintai justru malah membuat kita semakin menjauh dari pada Allah atau malah menggeser posisi Allah itu sendiri dan menjadikannya berhala bagi kita.

Ketika kita mencintai Allah, kita pasti akan tahu apa yang seharusnya kita kasihi dan tidak. Melekat dengan Allah adalah jalan satu-satunya untuk melepaskan apa yang kita anggap terlalu sulit untuk dilepas. 

Menjadi sukses dengan posisi pekerjaan yang baik, tidaklah masalah, akan sangat baik jika kamu sukses dan dan bisa di level tinggi, kamu bisa memberkati banyak orang lewat karir mu. Namun hal itu menjadi hal yang berbeda kalau posisi dan kesuksesan kita malah merenggut prioritas kita kepada Allah.

Mengasihi diri sendiri pun tidaklah salah. Kita harus mengasihi diri kita sebelum kita bisa mengasihi orang lain. Yang salah ketika rasa cinta kita akan diri kita sendiri lebih besar, kesombongan, menganggap orang lain rendah, bertahan dengan zona nyaman kita karena kita menganggap ini baik buat diriku, menolak untuk dibentuk dan hidup adalah tentang aku bukan orang lain.

Memiliki pasangan hidup adalah hal yang Tuhan juga inginkan buat kita. Menjadikan dia sebagai seorang patner dan teman yang sepadan. Tapi apakah dia saat ini sudah menjadi berhala buat kita, dengan mengatasnamakan cinta? Dengan mencintai Allah terlebih dahulu, kita akan tahu bagaimana seharusnya mencintai seorang pasangan hidupnya. Kita tidak bisa mencintai pasangan hidup kita tanpa mencintai Allah terlebih dahulu. Kar'na cinta dari Allah selalu mengajarkan kita bagaimana untuk mencintai seseorang.


Jika cinta itu bertindak, bertindaklah. Namun jangan biarkan dia bertindak pada tempat yang salah. Biarkan mata hati kita yang menuntun ke mana cinta ini bertindak. Hati yang melekat dengan Allah akan dapat menuntun kita untuk menilai ke mana cinta ini terpaut.

Ketika mata hati kita tertuju kepada Allah kita akan mampu melihat Allah sebagai yang paling sangat bernilai buat kita, tidak ada yang dapat menggantikan posisi-Nya. Mencintai seseorang boleh, mencintai pekerjaan yang sebagai anugerah yang Tuhan kasih juga boleh. Semua itu boleh diperjuangkan dan melakukan sesuatu atas nama cinta. Namun jangan sampai cinta itu menggantikan cinta kita kepada Tuhan yang adalah kasih itu sendiri.

LATEST POST

 

Ada satu ungkapan yang pernah saya baca dan agak cukup nyeleneh  sekaligus menyedihkan. Ungkapa...
by Ryan Richard Rihi | 02 Jul 2020

“Biarkanlah kurasakan Hangatnya sentuhan kasihmu Bawa daku penuhiku Berilah diriku kasih putih...
by Aditya Seto Nugroho | 02 Jul 2020

Memasuki kelas 11, aku mulai dihadapkan dengan berbagai kepengurusan ekstrakurikuler di SMA aku send...
by Jerell Michael Cussoy | 02 Jul 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER