Mengenal Rabu Abu

Going Deeper, God's Words, 18 February 2020
Pertobatan selalu mengandaikan perbaikan diri, namun tidak dengan penyesalan. Penyesalan bisa diikuti dengan pertobatan, tetapi penyesalan itu sendiri bukanlah pertobatan. Abu yang tertera di dahi menyimbolkan suatu ratapan keberdosaan dan niatan pertobatan.

Penyesalan itu selalu datang di akhir dan terlambat, kalau di awal namanya pendaftaran” menjadi kalimat yang tak asing bagi kita. Lebih dari sekedar humor, kalimat itu setidaknya membawa kita pada sebuah perenungan batin yang mendalam yakni tentang penyesalan. Mari kita mulai dari pertanyaan sederhana: Apa itu menyesal? 

Banyak peristiwa keseharian yang kita alami dapat menjawab pertanyaan sederhana itu. Misalnya ketika seorang mahasiswa sering bolos dan lebih memilih titip absen pada masa perkuliahan, hingga berdampak pada nilai ujiannya yang tidak maksimal. Atau pun seorang pemimpin yang salah dalam mengambil keputusan sehingga berdampak pada seluruh elemen yang dipimpinnya. 

Dari kedua peristiwa tersebut, kita bisa sepakat bahwa keduanya memunculkan sebuah penyesalan. Akan ada sebuah masa di mana mahasiswa tersebut menyesal karena ia sering bolos dan lebih memilih titip absen dibandingkan belajar. Ataupun penyesalan seorang pemimpin karena telah memilih sebuah keputusan yang salah.

Hal tersebut membawa sebuah pengertian bahwa penyesalan muncul setelah kita memilih dan kemudian menjalankan suatu keputusan. Kata ‘telah’ digunakan untuk menyatakan perbuatan atau keadaan yang lampau. Sehingga, secara tak langsung, kata ‘setelah’ sebenarnya sudah memperkuat tesis bahwa tidak mungkin penyesalan datang pada pada awal peristiwa. Ia selalu datang terlambat, mengandung hal yang negatif (maksudnya mengandung perasaan tidak senang dan kecewa) serta tidak kita harapkan untuk terjadi. 


Penyesalan dan Pertobatan

Lantas, apa yang membedakan penyesalan dan pertobatan?

Hal esensial yang membedakan penyesalan dan pertobatan yakni adanya perbaikan. Pertobatan selalu mengandaikan perbaikan diri, namun tidak dengan penyesalan. Penyesalan bisa diikuti dengan pertobatan, tetapi penyesalan itu sendiri bukanlah pertobatan. Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan jelas menerangkan bahwa bertobat merupakan sikap menyesal dan berniat hendak memperbaiki (perbuatan yang salah dan sebagainya). 

Perbedaan itu tergambar ketika peristiwa di mana Yudas menghianati Yesus (Mat 27:1-10) dan peristiwa Petrus yang menyangkal Yesus (Mat 26:69-75). Lihatlah bagaimana kecongkakan Petrus disajikan dalam bacaan Injil tersebut. Petrus berkata, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau” (Mat 26:35). Nyatanya, tidak butuh waktu yang lama untuk mematahkan perkataan itu. Ayam yang berkokok telah membuktikan kemunafikannya; Petrus menyangkal-Nya sebanyak tiga kali. 

Kokok ayam itu jugalah yang telah menyadarkan Petrus. Karena itu pula, Injil mencatat bahwa Petrus mengalami penyesalan yang amat mendalam. 

Ia menangis dengan sedihnya
(Mat 26:75)

Dia sadar akan sikapnya yang tidak tahu berterima kasih kepada Kristus, dan akan kecerobohannya dengan tidak mengindahkan peringatan tulus yang telah Kristus berikan kepadanya. 

Tak cukup dengan penyesalan dan dukacita yang mendalam, ia memutuskan untuk bertobat. Petrus, yang menangis sedih karena telah menyangkal Kristus, berniat untuk tidak pernah menyangkal-Nya lagi. Dia bukan hanya tidak berkata "Aku tidak kenal orang itu." (Mat 26:74) lagi, namun Ia justru bersaksi tentang Kristus. Ia berniat membuat seluruh kaum Israel tahu dengan pasti, bahwa Yesus itu adalah Kristus dan Tuhan. 

Hal berbeda justru ditampilkan oleh Yudas. Ia bergumul akan penyesalannya karena ia telah menyerahkan Yesus untuk dihukum mati (Mat 27:3). Karena itu, ia melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri (Mat 27:5). Berbeda dengan sikap hidup Petrus, perikop ini justru tidak mencatat adanya pertobatan dalam diri Yudas. Ia telah mati dalam penyesalan, namun tanpa pertobatan.

Rabu Abu, Penyesalan, dan Pertobatan

Ketika mengaku bahwa manusia sejatinya terbatas dan berdosa, maka seharusnya kita juga hidup dalam sikap penyesalan dan pertobatan. Secara khusus, gereja memperingati hal tersebut dalam masa yang disebut Prapaskah. Sebuah masa 40 hari di mana mempersiapkan umat dalam sikap penyesalan dan pertobatan melalui doa, latihan rohani, mengingkari diri, berpuasa, berpantang, dan lain-lainl. 

Kemudian pada puncaknya, kita menghayati bersama peristiwa detik-detik terakhir kehidupan Yesus hingga kematian dan kebangkitan-Nya. Itu terjadi dalam rangkaian Pekan Suci (Holy Week) dari Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan Minggu Paskah. Hal tersebut terus berlanjut sampai kenaikan-Nya ke surga dan peristiwa Pentakosta. 

Rabu Abu menjadi penanda dimulainya masa Prapaskah. Ia selalu jatuh tepat 40 hari (minus setiap Minggu Prapaskah dan Minggu Paskah yang tidak masuk penghitungan) sebelum kita merayakan Minggu Paskah. Karena pada tahun ini Paskah jatuh pada Minggu (12/4), maka perayaan Rabu Abu dan masa Prapaskah dimulai pada Rabu (26/2). 


Mengapa Abu?

Pertanyaan ini kerap kita lontarkan. Namun, sebelum masuk ke dalam penjelasan mengenai abu, ada baiknya kita mengerti pula pemaknaan simbol dalam ibadah yang sebenarnya sudah dihayati sejak lama.

Ketika merambah pada area Allah, menurut Barry dan Doherty, SJ dalam artikel yang bertajuk “Studies in Spirituality of Jesuits”, maka kita tidak lepas dari dua kata yang sangat lekat dengan upaya manusia untuk mengenal Allah. Hal itu terdiri dari: kataphatik, yakni sebuah upaya pengenalan tentang Allah dengan menggunakan gambaran, sarana dan doktrin. Yang kedua yakni apophatik, yaitu sebuah upaya yang menekankan pada kesunyian, ketidaktahuan, dan keabsenan. Keduanya merupakan jalan yang telah ditempuh berabad-abad dalam rangka mengembangkan (formation) spiritualitas orang percaya. 

Simbol dalam ibadah, salah satunya, menjadi praktik dari spiritualitas kataphatik. Simbol (yun: simbolon) dimaknai sebagai sarana untuk menghayati sesuatu melebihi apa yang dapat diungkap secara deskriptif, sehingga simbol memiliki dimensi yang mendalam dan kaya akan makna. Gereja mengadopsi simbol-simbol iman untuk membantu manusia yang terbatas dalam menghayati ketidakterbatasan Allah, salah satunya dengan abu. 

Dalam Perjanjian Lama, abu digunakan untuk melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan penyesalam/pertobatan. Misalnya saja Mordhekai yang mengoyakkan pakaiannya dan memakai kain kabung dan abu (Ester 4:1) sebagai simbol kesedihan yang mendalam. Abu bahkan terus digunakan oleh Ayub dalam Daniel 9:3 dan tercatat pula dalam Ayub 2:12. Begitu juga yang dilakukan Raja dari Kota Niniwe. Ia menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6).

Yesus juga tercatat pernah menyinggung tentang penggunaan abu. Dalam Matius 11:21, Ia mengecam beberapa kota dan menekankan pentingnya perkabungan dan pertobatan. Dalam bahasa aslinya, Injil Matius menggunakan kata ‘spodos’ untuk kata ‘berkabung’. ‘spodos’ bisa diterjemahkan juga sebagai ‘abu’ (ashes). Jika diterjemahkan secara literal, maka Matius 11:21b menjadi “Berkabung dengan abu pertobatan” (sakkoo kai spodooi metenoesan). 

Sebagaimana yang dihayati dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, abu yang akan ditorehkan pada setiap dahi jemaat di Rabu Abu juga bermakna demikian. Karena dosa, kita menjadi manusia yang terbatas. Karena dosa-dosa itulah, abu yang tertera di dahi kita menyimbolkan suatu ratapan keterbatasan dan keberdosaan kita. Namun simbol tetaplah simbol jika tidak ada gerak konkrit untuk memperbaiki diri. Karenanya usaha penyesalan dan pertobatan tidak berhenti ketika Rabu Abu selesai, ataupun hanya dalam Masa Prapaskah saja, namun kita terus menghayati itu sebagai bagian dalam praktik kehidupan spiritualitas kita, hari demi hari, dan terwujud juga dalam relasi kita dengan yang lain. 


Doa

Allah yang pengasih, kami berkomitmen di masa Prapaskah yang akan kami jalani ke depan. Tunjukkanlah apa yang harus kami hindari, juga yang kami butuhkan untuk berbalik kepada-Mu. Bersinarlah, ya Allah, terang cinta-Mu di relung gelap hati kami dan bawalah kami ke dalam kehidupan serta pengharapan yang baru. Tolonglah kami, untuk dapat berjalan lebih dekat dengan Yesus, Putra-Mu, dan mengetahui dengan pasti bahwa kami adalah pribadi yang dicintai-Nya dan terdorong terus untuk membagikan cinta itu kepada sesama. Amin.

Diterjemahkan dari “A Prayer For Lent” oleh Archbishop Justin Welby            

LATEST POST

 

“How Can I Keep From Singing” Merupakan sebuah himne yang kemungkinan besar dikarang ole...
by Eka Gilroy Kharis | 26 Sep 2020

"Play with Life" merupakan tagline yang saya baru tahu dari life simulation game kesu...
by Eveline Meilinda | 26 Sep 2020

Family Drama – tidak dipungkiri bahwa ini merupakan hal yang sudah pasti ada dalam setiap kelu...
by Monica Petra | 26 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER