Broken Home yang Harus #Stayathome

Best Regards, Live Through This, 22 May 2020
Melepaskan pengampunan memang mengubah kita, dari yang tersiksa dalam kebencian menjadi bebas dalam sukacita tapi tidak ikut mengubah sifat orang yang kita benci.


Seorang anak perempuan berumur 3 tahun harus menerima kenyataan bahwa ayahnya meninggal dunia karena penyakit paru-paru. Belum 40 hari kematian ayahnya, sang ibu telah bersama dengan lelaki lain dan harus menyebutnya dengan panggilan “papa”. Ayah kandungnya meninggal di usia yang sangat muda sekitar 25 tahun (mereka menikah muda), di usia yang masih muda juga ibunya memutuskan sebagai wanita karir dan menitipkan anak ini kepada kakek dan neneknya. Tidak hanya itu, sang anak bahkan sempat ingin diberi kepada saudara untuk diadopsi, tapi sayangnya anak ini terus merengek minta pulang tinggal bersama kakek dan neneknya saja. Singkat cerita anak ini mulai beranjak dewasa. Ketika berumur 9 tahun mulai sering diajak untuk pergi bermain dengan sang ayah tirinya ke rumahnya (rumah yang ia dan ibu tinggali). 


Pada suatu waktu ketika anak ini diajak untuk bermain ke rumahnya hal yang tidak terkira terjadi. Ayah tirinya ini ingin mencoba memperkosa anak berusia 9 tahun ini. Pada moment itu anak ini berteriak sekencang-kencangnya (maaf) saat celananya mulai coba dibuka oleh ayah tirinya tersebut. Saat teriakan itu semakin kencang ayah tirinya mengurungkan niat bejatnya tersebut. Tuhan begitu baik. Percobaan itu tidak hanya dia lakukan sekali tetapi 2 kali, dan semua percobaan itu digagalkan oleh Tuhan. Anak ini tidak pernah memberitahu kepada siapapun kejadian ini, bahkan kepada kakek, nenek atau ibunya sekalipun. Dia menyimpan semuanya itu sampai dia beranjak dewasa. Bagaimana dengan mentalnya? Bagaimana dengan psikisnya ketika harus bertemu dengan ayah tirinya tersebut? Wajar bukan ketika harus merasakan kemarahan, kebencian bahkan rasa ingin membunuhnya karena telah membuat trauma dalam kehidupannya di masa kecil.


Memasuki masa remaja (SMP) anak ini mulai aktif dalam kegiatan gereja. Aktif melayani, ikut seminar, retret dan sampai pada titik di mana dia bertemu dengan Pribadi yang mengasihinya lebih dari orang lain. Dia merasa ditangkap oleh Pribadi yang penuh kasih ini, dia juga tahu bahwa Pribadi ini yang paling mengerti isinya, yaitu Yesus Kristus. Anak ini memutuskan untuk menerima Yesus sebagai Juru S’lamatnya. Tetapi ada hal yang sulit untuk dijalani olehnya dalam konsep kasih. Anak ini berpikir “Oh okelah untuk mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, tapi kalau mengasihi sesama… terutama orang itu… (ayah tirinya) bagaimana?” 

Sungguh bukan hal yang mudah. Setiap kali mendengar kata “pengampunan” anak ini selalu teringat dengan ayah tirinya, tapi bukan hanya itu anak ini juga teringat akan kasih pengampunan yang telah Kristus berikan kepadanya. Merefleksikan diri sampai di mana anak ini berpikir “penderitaan Yesus lebih sulit dan kejam untuk dijalani dibanding penderitaanku saat ini”, saat itulah menjadi titik di mana anak ini mengampuni ayah tirinya itu. Anak ini bangkit dan merasakan kehidupan yang lebih plonggg karena telah melepas pengampunan tersebut. Singkat cerita anak ini memutuskan untuk tinggal bersama ayah tirinya dan ibunya ini bersama kedua adiknya (beda ayah).

Ada seorang yang mengumpamakan kebencian itu seperti sampah, yang jika terus menerus kita (dalam hati) akan membusuk dan tercium baunya. Makanya kebencian itu lebih baik dibuang daripada membusuk di dalam hati.

Melepaskan pengampunan memang mengubah kita, dari yang tersiksa dalam kebencian menjadi bebas dalam sukacita tapi tidak ikut mengubah sifat orang yang kita benci. 

Itulah yang dirasakan anak ini setelah tinggal bersama keluarganya, yang dianggap akan lebih bahagia ketika ikut mama dan berharap ayah tirinya berubah. Nyatanya, ayah tirinya ini terus memiliki sifat yang tidak pantas dikategorikan sebagai seorang ayah. Perilaku yang dia lakukan kepada kedua anaknya sendiri mungkin bisa membuat anaknya membenci dia. Dari memaki dengan kata-kata kasar bahkan memukul mereka. Lagi-lagi anak perempuan itu bergumul akan pengampunan yang telah ia lepaskan kepada ayah tirinya. 

Kejadian ini telah lama terjadi, anak perempuan itu kini menjawab panggilan Tuhan sebagai Hamba Tuhan penuh waktu dan sedang berkuliah di salah satu sekolah tinggi teologi di Indonesia. Alih-alih untuk menghindar tidak berada di rumah dalam waktu yang lama anak ini memilih sekolah teologi yang beda kota dengan tempat tinggalnya. Tapi siapa sangka COVID-19 menyerang dan menghancurkan harapan untuk memperbaiki proses pengampunan dalam jangka panjang itu.

Anak ini harus pulang ke rumah dan #stayathome selama berbulan-bulan. Tidak hanya melawan sifat ekstrovert yang cepat bosan, perasaan yang ingin keluar rumah bertemu dengan orang, tapi juga menghadapi tekanan di rumah karena bertemu dengan ayah tirinya. Situasi di rumah tidak mendukung sama sekali untuk bisa tenang, tapi apa lagi yang bisa dilakukan selain berdiam di rumah agar wabah ini cepat berlalu?

Mungkin situasi yang lalu kita selalu punya cara untuk menghindar tapi sekarang kalau waktunya Tuhan bilang “hadapi..” apa lagi yang perlu kita sangkal? Ceritamu dengan ceritaku mungkin berbeda, mungkin ada yang lebih berat lagi dan rasanya lebih gak kuat untuk ada di rumah menghadapi situasi tersebut. Pikiran-pikiran jahat sampai ingin mengakhiri hidup juga mungkin ada. 

Tapi bolehkah saya mengutip ayat yang sudah biasa dalam situasi terpuruk ini? (1 Kor. 10:13) 

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan yang biasa.” Kesel gak sih ketika permasalahan yang kita alami dan rasakan itu berat banget dibilang pencobaan BIASA? Tenang, karena ada alasannya kok kenapa bisa dibilang biasa. Karena “(pencobaan tersebut) yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu.” Karena pencobaan itu tidak melebihi kekuatan kita sebagai manusia, tapi Allah juga tidak membiarkan kita jatuh terpuruk dalam menjalaninya. Masih ada lanjuttannya nih, “..Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” Dia bakal kasih jalan keluar kok sampe kita bisa menghadapi itu semua.

Dalam masa hidup yang up and down Tuhan s’lalu bersama kita, ya sampai sekarang juga loh. Menurutku, “hadapi” gak harus bergerak, bukankah “bertahan” juga bagian dari kita menghadapi sesuatu? Yuk, refleksikan kembali hidup kita di masa ini. Mari berjuang sama karena kita tahu ada kekuatan dari Tuhan yang s’lalu siap Dia berikan kepada kita.

Note : ingin tahu sih bagaimana cerita teman-teman yang sedang bergumul di masa ini. Maukah teman-teman berbagi dengan saya? Setidaknya tahu kalo kita gak sendirian dan bisa saling menguatkan. Feel free to contact me on IG @christynatalie2 thank you, God bless you!

LATEST POST

 

Hai Ignite People!Sebagian dari kita mungkin ada yang masih belajar di sekolah atau di kampus, dan s...
by Verry Yovelin | 02 Aug 2022

Beberapa kali orang tuaku pernah bercerita waktu masih balita, aku pernah hampir kejatuhan vas belin...
by Regina Megumi | 02 Aug 2022

Doa memang cukup kita ucapkan, namun terkabul atau tidaknya kita tidak ada yang tahu. Yang jelas, da...
by Willi Bordus Bayu Setiawan | 23 Jul 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER