Selepas Hujan, Lalu Apa?

Best Regards, Live Through This, 20 July 2021
Dari tengah awan hujan, pasti ada langit penuh warna

Pernah enggak kita membayangkan dan bertanya kepada diri sendiri atau orang lain:

Kenapa sih ada pelangi setelah hujan?


https://ignitegki.com/storage/post/202107/pelangi.jpg

Berdasarkan ilmu pengetahuan alam, pelangi terbentuk karena adanya pembiasan antara air hujan dengan cahaya matahari yang bersinar setelah hujan berhenti mengguyur. Pembiasan tersebut membentuk sebuah busur yang ukurannya besar dan menampilkan warna-warna yang sering kita sebut dengan singkatan mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu). Nah, selain pertanyaan pertama di atas, pernah gak sih Ignite People mencoba berpikir apa korelasi pelangi, hujan, dan kehidupan kita? Yuk, kita bahas!


Setelah diri ini menangis

Dibanding tadi ku bisa tersenyum lagi

Di sini ku tak 'kan menyerah

Lakukan yang bisa kulakukan sekarang

Jikalau arah angin berubah

Hujan berhenti langit yang cerah

Hari esok tiba

Lyrics by: JKT48 (After Rain)


Mungkin saat ini sebagian di antara kita sedang didera oleh masalah yang seolah tak tertangani dan tak berujung, seolah-olah kita sedang berada di dalam kapal, dihantam oleh badai lautan yang sangat kuat dan berkecamuk. Secara insting, naluri kita yang merupakan "nahkoda kapal diri" akan mencoba memberikan perintah untuk mempertahankan kapal agar tidak karam. Mati-matian kita mencoba bertahan, tetapi seolah tak ada harapan. Tangisan, kemarahan, perasaan tidak terima dengan keadaan, dan menyalahkan diri sendiri serta situasi, turut menjadi bagian dalam proses pertahanan diri tersebut. Bagaimana tidak? Bukankah kita bisa merasa sangat hancur dengan badai kehidupan yang datang menghampiri tadi? Namun, ketika kita akhirnya disadarkan untuk mencoba berserah kepada Sang Nahkoda yang sesungguhnya, Ia mendengar apa yang menjadi keluh kesah kita. Meskipun sebenarnya sudah tahu tanpa harus kita beritahu terlebih dahulu, Tuhan ingin agar kita jujur di hadapan-Nya dan diri sendiri pada apa yang sedang terjadi. Keterbukaan diri inilah yang juga memampukan kita untuk melihat bahwa secara mendadak, badai itu mulai mereda dan setitik cahaya harapan pun datang.

https://ignitegki.com/storage/post/202107/badai.jpg


Badai yang digambarkan tadi merupakan sebuah gambaran dari masalah yang sedang menghampiri kita. Bagaimana pun, adalah sesuatu yang mustahil jika kitalah yang mencoba menaklukkan badai tersebut dengan kekuatan diri sendiri. Apalah kita dibandingkan badai tersebut? Namun, potongan lirik lagu di atas menjadi pengingat bahwa kehidupan ini akan selalu memiliki lika-liku, dan kita memiliki pilihan untuk bersikap seperti apa:

Lakukan yang bisa kulakukan sekarang.

Selama badai masih menerpa, kita sering berpikir bahwa kita hanya dapat mengandalkan kemampuan yang kita punya sambil berserah kepada Tuhan. Alkitab pun mengungkapkan hal yang sama melalui kitab Amsal:


Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHAN lah yang menentukan arah langkahnya.

Amsal 16:9


Bagaimana pun, selama kita memaksimalkan apa yang kita miliki, ditambah dengan penyerahan diri penuh, Tuhan akan tetap menyertai kita. Oke, harus diakui bahwa kadang-kadang sulit untuk membayangkan bagaimana kita dapat terus-menerus bertahan pada badai yang seolah menerjang tanpa akhir. Badai ini tidak hanya berasal dari faktor lingkungan, tetapi juga dari pikiran negatif dari diri sendiri yang terus menghantui. Walaupun demikian, sebenarnya pikiran-pikiran tersebut merupakan hal yang manusiawi terjadi (selama tidak mengganggu fungsi hidup); contohnya kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, dan lain-lain (atau bahasa yang biasa digunakan kaum muda zaman sekarang adalah overthinking dan insecurity).

Alkitab turut menuliskan bahwa Tuhan juga tak segan memberikan “hujan badai kehidupan” kepada anak-anak-Nya. Hal ini ditujukan ketika kita sudah mulai melenceng dari jalan yang ditentukan-Nya, atau bahkan ketika kehidupan kita sedang baik-baik saja. Tengok saja Yunus yang diberikan badai sungguhan dan secara alegoris saat ia malah berbelok ke arah yang bukan ditujukan oleh Tuhan. Bukannya ke Niniwe, Yunus justru ke Tarsus agar tidak perlu memberitakan kabar tentang hukuman Tuhan kepada mereka (selengkapnya ada di Hostipiltalitas Yunus). Kenapa? Karena Niniwe adalah ibukota Asyur—bangsa yang menjajah negerinya. Kalau saat ini negara kita sedang dijajah dan mendengar bahwa suatu hari nanti ibukota dari negeri lain itu akan dibinasakan, apa yang akan kita lakukan? Mungkin kita juga akan seperti Yunus, sih.

Menariknya, badai itu justru membuat para awak kapal (yang sebelumnya percaya kepada banyak dewa) menjadi percaya kepada Allah yang sesungguhnya, yaitu TUHAN (Yahweh) yang seharusnya diberitakan oleh Yunus. Selain itu, ia juga harus mendekam di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Pada akhirnya, setelah berdoa kepada Tuhan, Yunus keluar dari perut ikan dan bersedia menaati perintah-Nya untuk ke Niniwe. Pertanyaannya, apakah setelah mereka “bertobat”, Yunus pun bertobat? Meskipun tidak diceritakan secara detail, ia masih belum bisa menerima fakta bahwa Tuhan tidak membinasakan ibukota dari bangsa yang telah menjajah bangsanya. Badai yang dialaminya itu tetap tidak mengubah pendiriannya untuk memiliki belas kasihan pada Niniwe. Walaupun demikian, Tuhan tidak kehilangan akal. Dia menyentakkan hati Yunus dengan pohon jarak, ulat, terik matahari, dan ujaran:

“Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” 

Yunus 4:10-11

Kesimpulannya? Kita perlu menyadari bahwa selama badai tersebut terus menderu, kita tidak dapat selalu mengandalkan apa yang kita miliki saat ini. Bahkan sekalipun badai tersebut lewat, ada kemungkinan kita tidak akan mengalami perubahan seperti Yunus. Perubahan di sini maksudnya adalah tentang pengenalan akan Tuhan dan diri sendiri. Adalah percuma jika kita tidak belajar apapun dari badai yang Tuhan izinkan hadir, kawan. Walaupun kita mengeraskan hati, tapi nyatanya kuasa Sang Ilahilah yang mengatasi segala badai tersebut (secara konotatif dan denotatif).

Percayalah, kawan, kuasa Tuhan mampu meredakan apa yang kita anggap selama ini sebagai badai kehidupan. Bagaimana pun, Ia memberikan hal tersebut sesuai dan seturut dengan kehendak-Nya, serta tak lebih besar dari apa yang kita punya. Ketika kita mampu untuk berserah dan mawas diri, cepat atau lambat, bantuan dari-Nya akan datang pada waktu yang tidak kita duga-duga. Memang sulit berpikir secara jernih ketika sedang menghadapi badai tersebut, tetapi apabila kita tetap berpegang teguh pada apa yang kita imani, niscaya Tuhan akan selalu menemani. Ia tetap berjanji seperti pelangi yang tertutup oleh badai, dan tugas kita adalah beriman bahwa ada ujung yang manis dari ketekunan kita melalui setiap badai yang ada.


Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Filipi 4:13

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER