Menemukan Orang Yang Tepat: Bukan Mencari Tetapi Menjadi

Best Regards, Live Through This, 17 September 2021
Berfokuslah dahulu kepada "menjadi" bukan "mencari". Berfokuslah untuk menjadi pribadi yang lebih baik sesuai dengan firman Tuhan dan pada nantinya kita akan menemukan orang yang tepat sesuai dengan rencana Tuhan.

Di berbagai media online, kita bisa menemukan pembahasan tentang mencari jodoh atau bahasa kerennya adalah searching for the right one (baik melalui tulisan maupun video inspiratif). Bahkan sekitar 15 tahun yang lalu, kita juga sering menjumpai acara mencari jodoh di televisi. Seiring perkembangan zaman di masa kini, tak sedikit kita menemukan aplikasi-aplikasi untuk mencari jodoh yang dengan mudah bisa diunduh di ponsel kita. Banyak dari kita pula yang sudah membaca sekian artikel dan menonton video dengan tema pencarian jodoh itu hingga saat ini, tetapi tampaknya status single itu tak kunjung berganti. Pada kenyataannya, banyak dari kita yang terlalu fokus kepada "mencari", bukan "menjadi". 

Tak sedikit dari kita yang masih single hingga mengamuk karena belum mendapat pasangan hingga menitip kenalan ke sana kemari, tapi kalau dikenalkan tidak pernah mendapat yang cocok. Dalam posisi seperti itu, kita lupa bahwa kita terlalu sibuk mencari hingga lupa esensi dari "menjadi". Menjadi apa? Being the best version of ourselves, atau menjadi diri kita yang lebih baik lagi. Kita harus berfokus untuk menjadi pribadi yang lebih baik, setelah itu barulah kita fokus untuk mencari dan mendapatkan yang terbaik (yang tentunya sesuai dengan kehendak Tuhan). Semuanya dimulai dari diri sendiri. Ingat, hormatilah orang lain terlebih dahulu sebelum pada akhirnya orang lain pun menghormati kita. Hal ini pun juga sama dengan pencarian jodoh ini. Jadilah orang yang lebih baik dahulu, jadilah orang yang tepat dahulu, barulah orang yang tepat untukmu akan kamu temukan. 


Photo by Paris Karsh Photography on https://pariskarshphoto.com/anna-and-harrison-engagement-at-balboa-park/


Sesuai dengan yang sudah disajikan di atas, kalau begitu bagaiamana caranya agar kita semakin menjadi pribadi yang lebih baik? Pribadi yang lebih baik di sini tentunya memiliki definisi menjadi pribadi dengan kualitas-kualitas yang Tuhan kehendaki untuk ada dalam diri kita sebagai orang percaya:

1. Menjadi seseorang yang lebih beriman. Di dalam Amsal 3:5, kita diajarkan agar percaya kepada Tuhan dengan segenap hati kita. Kata "segenap" di sini menunjukkan bahwa kita harus betul-betul percaya, kita harus 100% percaya kepada Tuhan. Mungkin kita jadi teringat dengan lagu berjudul God Will Make A Way yang ditulis oleh penulis lagu sekaligus penyanyi asal Amerika, Don Moen. Di dalam lirik lagu tersebut, tertulis sebuah kalimat He works in ways we cannot see. Maka dari itu, memang kuncinya adalah percaya, khususnya percaya sebelum beriman, karena iman sendiri adalah percaya sebelum melihat. Di dalam 1 Petrus 5:7, ada sebuah kalimat yang sangat menarik, serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya. Kalimat ini menunjukkan bahwa yang namanya manusia memang wajar jika merasa kuatir. Namun, lagi-lagi, kita sebagai orang percaya diminta untuk menyerahkan segala kekuatiran kita yang ujung-ujungnya adalah agar percaya sepenuh hati kepada Tuhan karena Tuhan yang tahu jalan di depan kita.

2. Menjadi seseorang yang menghidupi buah-buah roh. Sudah tidak asing lagi bagi kita bahwa menurut Galatia 5:22-23, buah Roh terdiri dari kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Memang betul tidak ada manusia yang sempurna yang bisa menerapkan keseluruhan buah Roh. Namun, sebagai orang percaya, sudah seharusnya kita menghidupi buah Roh tersebut dan terus belajar untuk meningkatkan setiap karakter di dalamnya.

3. Menjadi seseorang yang menjalankan WPO (work-pray-obey). Work (Kolose 3:23) di sini berarti melakukan segala hal dengan maksimal dan memiliki daya juang (tidak cepat menyerah). Pray (1 Tesalonika 5:17) yang dimaksud adalah senantiasa berdoa, melibatkan Tuhan di dalam setiap hal yang kita lakukan dan juga berserah kepada-Nya. Lalu yang terakhir, obey (Matius 6:33) berarti taat kepada Firman Tuhan dan menjalankan Firman itu pula di dalam kehidupan kita. Singkatnya, berusaha dengan maksimal (mengerjakan bagian kita) dan berserah kepada Tuhan (biarlah Tuhan mengerjakan bagianNya) serta hidup sesuai Firman-Nya. 


Photo by Paris Karsh Photography on https://pariskarshphoto.com/judy-rui/


Tulisan ini akan ditutup oleh sebuah kesaksian. Saat itu, tepatnya di tahun 2011 saat mulai duduk di bangku SMA, aku bertekad kepada diriku sendiri untuk berhenti bermain-main. Aku bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saat itu aku menjadi lebih rajin belajar dan selalu berperilaku jujur di dalam studi hingga juara kelas dan sering membaca kata-kata dan artikel-artikel inspiratif. Sejak saat itu pula, aku mulai lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan belajar untuk selalu melakukan Firman Tuhan meskipun aku dikelilingi oleh banyak orang yang (masih) tidak menghidupi Firman-Nya itu. Dari situlah aku sadar bahwa tiga kata yang menjadi prinsip hidupku, WPO (work-pray-obey), memang benar-benar membuat hari-hariku lebih menjadi berkat dan diberkati. Sambil menjalankan WPO setiap hari, melakukan buah Roh dan menjadi orang yang lebih beriman juga sangatlah penting. Aku yang dahulu mudah marah, akhirnya mulai belajar untuk melihat segala sesuatu dari berbagai macam sisi dan itu membuatku sadar bahwa apa yang aku dengar dan lihat belum tentu benar. Aku pun belajar untuk menjadi orang yang murah hati dan helpful karena itu bisa memberkati orang lain. Belajar untuk selalu percaya bahkan mungkin di saat keadaan sudah terhimpit pun juga selalu aku lakukan dan semuanya memang membuktikkan bahwa yang aku kuatirkan tidak terjadi. 

Semua itu dapat aku rasakan bahwa benar bagiku untuk berfokus untuk "menjadi" lebih dulu pada saat aku bertemu orang yang tepat di tahun 2019. Dia bercerita bahwa tak sedikit hubungan yang dia jalani berakhir kandas dan dia pun sempat berpikir bahwa mungkin orang yang tepat tidak akan pernah datang. Namun, semuanya telah diukur oleh Tuhan dengan pas. Ketika Tuhan tahu kita sudah sampai pada titik tertentu dalam menjadi diri kita yang terbaik, Tuhan akan mempertemukan kita dengan orang yang tepat. Terakhir, biarlah semua teman-teman yang membaca tulisan ini bisa berfokus dahulu kepada "menjadi" bukan "mencari" dan pada nantinya teman-teman pun juga bisa menemukan orang yang tepat sesuai dengan rencana Tuhan.

LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER