Dearest My Normal & Abnormal Friends, …

Best Regards, Live Through This, 20 May 2024
“I like your Christ, I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ.” ― Mahatma Gandhi

Pernah saya bertemu dengan seorang remaja yang jarang ke gereja. Ketika bertemu, ternyata ia berumur 17 tahun. Mungkin tinggi 160 cm, kurus, perokok, tapi sejak kecil Kristen. Setelah berbincang lebih lanjut, ternyata ia seorang mantan narapidana. Mungkin kisaran dua tahun silam ia dipenjara akibat membunuh dalam suatu tawuran bersama teman-temannya. Setelah direnungkan, saya berpikir, “Tak heran ia tidak nyaman ke gereja." Tapi, lho, kenapa?

Pernah juga saya bertemu dengan seorang bapak berusia 70an tahun. Ia telah menjadi jemaat gereja kisaran 15 tahun, tetapi gereja tersebut bukanlah gereja masa kecilnya. Usut punya usut, ia pernah ditangkap dua kali akibat narkoba bersama temannya. Ketika kembali ke gereja asalnya, banyak orang memandang beda dan akhirnya ia pindah. Saya berpikir, “Tak heran gereja seperti demikian.” Lho, kenapa?


Mungkin sebagian kita juga berpikir hal yang sama: terkadang gereja tidak butuh orang-orang gagal! Kelihatannya, para pendeta dituntut kerja banyak, WL berkarisma disukai, pemusik lihai dicari, jemaat kaya lebih diperhatikan, dan “orang Kristen baik-baik saja”-lah yang gereja lebih doakan kehidupannya (pekerjaan, kesehatan, anak, dll.). Kesannya, komunitas Kristen ini memberitakan kabar baik bagi kaum tertentu, sehingga yang tidak dapat menjangkaunya akan tergolong orang-orang “abnormal”. Namun, saya ajak kita merenungkan bersama, apakah ada di dunia ini orang yang “tidak abnormal”?



Apa arti “normal”?

Alkitab menyatakan bahwa “kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri” (Yes. 53:6). Belum lagi, “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom. 3:23). Dalam berkomunitas, orang-orang demikian jatuh dalam dua ekspresi dosa: menyerang dan menarik diri.[1] Menyerang, ibarat Kain yang membunuh Habel akibat kesalahannya dalam persembahan korban (Kej. 4:3-4). Menarik diri, ibarat Adam dan Hawa yang bersembunyi terhadap Allah atas kesalahan mereka (Kej. 3:6; 1 Tim. 2:14). Tidak heran, dalam komunitas “orang Kristen normal” bisa tercetus kompetisi yang tidak sehat hingga memecahkan jemaat, melahirkan denominasi baru, dll. Dengan kata lain, jika semua “orang Kristen normal” pun masih bernatur dosa, masih berani kita seolah-olah hidup mengakui pemberlakuan strata dosa? Bahkan Paulus yang mungkin kita anggap “lebih suci” sekaligus “paling berdosa” (1 Tim. 1:15) dari pada kita mengatakan, “pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain” (Ef. 2:1-3). Apakah orang berdosa “normal” di dunia ini? Atau hanya sebagian saja yang dianggap “abnormal”?

Siapa pun kita, normal/abnormal, ingatlah kembali terhadap apa yang Yesus lakukan. Selaku friend of sinners, Yesus sering kali menjangkau sampah-sampah masyarakat yang dihiraukan: pemungut cukai, pelacur, orang sakit kusta, dll. Tetapi, Ia juga menjangkau “orang Yahudi baik-baik saja” yang terpandang zaman itu: pemuda saleh yang kaya, para ahli agama hingga disebut “peti busuk yang dilabur putih”, dll. Yesus menjangkau semua kategori dan ada hasilnya: Matius si pemungut cukai, Nikodemus si Farisi, dll. Belum lagi dua belas murid-Nya yang penuh dengan “abnormalitas”: berasal dari latar belakang keluarga, aliran agama, kepribadian, pendidikan yang berbeda (Mat. 10:1-4), hingga semua meninggalkan Yesus. Namun, hasilnya adalah sebelas dari mereka menjadi rasul-rasul yang mendorong lahirnya komunitas jemaat mula-mula. Di dalam karya Kristus, ada harapan bagi yang “abnormal” (Mat. 5:3-12).

Memang kita tidak boleh sembrono masuk ke dalam ekstrem: terima semua orang hingga diri sendiri/jemaat lain ikut menjadi “abnormal”. Tetapi, ini bukanlah alasan untuk ke ekstrem satunya: tidak terus-menerus menjaga kesucian diri, menyelamatkan orang lain dari api, dan tetap benci pakaian yang dicemarkan keinginan daging (Yud. 19-23). Bahkan jika Yesus mencari 1 domba yang hilang, yang “abnormal” itu, bukankah itu berarti selaku pengikut-Nya, segala Firman yang tampak dari mulut/perilaku kita harus mengingat 1 domba yang hilang, yang "abnormal" itu juga? Jika kita berani menyebut diri kita Kristen (pengikut “Jalan Tuhan”, Kis. 9:22, 24:14; Kis. 11:26), sungguh jalan hidup kita mencerminkan “Jalan Tuhan”? 


Apa arti mencerminkan “Jalan Tuhan” dalam komunitas?

Terkadang, saya yang sejak kecil dibaptis maupun yang sudah SIDI, dengan enteng berani mengkategorikan diri sebagai “yang dilimpahkan rahmat Allah”. Gimana tidak? Dari ibadah di gereja, ditanya supir grab, ataupun ke kantor imigrasi, saya perlu mengaku “saya orang Kristen”. Tetapi, berat bagi saya hidup dalam “Jalan Tuhan”. Enteng kah hidup saya dalam komunitas menyatakan harapan kebangkitan bagi orang lain “yang telah mati dan patut dimurkai atas kesalahannya”, sama seperti Paulus? (Ef. 2:4-5) Barang kali saya lebih cinta AI yang mati dibanding cinta Firman Allah yang hidup.

Saya akui, Allah memang mempunyai another level of kindness. Ia masih menyediakan matahari untuk orang baik maupun jahat. Manusia berdosa secara universal masih menjunjung kebaikan, oleh karena itu negara masih berhukum dan tidak semua alami perang. “Keberuntungan hidup” juga tidak memandang muka, dari pengemis yang beruntung mendapat makanan untuk satu hari, pekerja yang beruntung tidak tertangkap basah mencuci uang, hingga pimpinan/calon pimpinan rohani yang beruntung tidak tersingkap kelakuannya yang tidak berintegritas. Semuanya menyangkut anugerah umum-Nya yang terus menopang dunia yang bobrok, hingga seolah-olah dunia itu berjalan sendiri dengan baik tanpa Tuhan. 

Menyadari saya yang masih bisa tidak berperilaku amoral di tengah menghidupi dosa, itu sudah membuat saya mengakui kebaikan-Nya. Apalagi, jika ditambah dengan anugerah khusus-Nya, yakni "di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga an memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan anugerah-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus! (Ef. 2:6-7) Kepada siapa kabar ini diberitakan? Kepada semua orang yang percaya, yang menerima-Nya (Ef. 2:8; Yoh. 1:12). Dan mereka yang menerima kabar ini akan menjalani uatu transformasi selaras kehendak-Nya (Ef. 2:10). Jujur, saya yang dianggap “normal” saja, sulit untuk menerima kabar ini di dalam kehidupan saya. Namun, masa saya dan anda mau menyulitkan orang lain yang lebih membutuhkan pertolongan, pesimis, lebih “abnormal” untuk menerima kabar ini? (Ef. 2:9)

Bagi kita yang “abnormal”, ingin menerima kabar transformatif ini tetapi terus ditolak komunitas: ingatlah bahwa ada pengikut Jalan Tuhan yang bertemu seorang budak yang kabur dari tuannya (patut dihukum mati), namun menerimanya serta menempatkannya kembali ke dalam komunitas tuannya (Filemon 11-12). 

Bagi kita yang “normal”, telah menerima kabar transformatif ini (padahal dulu mantan pembohong, peraup keuntungan, narsistik, penghasut, pendendam, pemabuk, pezinah, pecandu, dan “abnormalitas” lainnya) tetapi terus menaruh balok di depan mata: Tuhan menyatakan kita inilah orang-orang yang menolak Anak Manusia dan patut masuk ke tempat hukuman yang kekal (Mat. 25:45-46).

[1] John Ortberg, Everybody’s Normal Till You Get To Know Them, ed. Tim Literatur Perkantas Jatim, terj. Stevy Tilaar (Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2022), 20-22.

LATEST POST

 

Surakarta, 17 Juni 2024 - Musik hymn adalah suatu keragaman karya dalam musik gerejawi yang dic...
by Oliver Kurniawan Tamzil | 12 Jul 2024

⚠️WARNING SPOILER ALERT⚠️Pada film "Inside Out 2", terdapat plot cerita yang menggambarkan...
by Jonathan Joel Krisnawan | 27 Jun 2024

Catatan editor: artikel ini merupakan bagian kelima dari seri refleksi "This is Us" oleh&n...
by Sandra Priskila | 26 Jun 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER