Dear New Year, I am Ready!

Going Deeper, God's Words, 21 December 2021
Untuk menjadi dewasa, kita harus banyak membaca. Kalau mau siap dalam segala, hal belajarlah berbicara. Apabila ingin menjadi orang yang tepat, banyaklah menulis. -Petrus Oktavianus

Pergantian tahun menjadi momen bagi kita untuk kilas balik semua yang telah dilalui selama satu tahun. Tiga ratus enam puluh lima hari rasanya berlalu dengan cepat dari bulan Januari, Februari, Maret hingga tiba pada bulan dengan akhiran '-ber' (September, Oktober, November, dan Desember). 

Sepertinya baru saja merayakan tahun baru 2021, disertai catatan harapan untuk diwujudkan (resolusi tahun baru). Dan sekarang kita sampai pada akhir tahun 2021 yang menjadi momen bagi kita untuk berkaca pada resolusi yang telah kita buat.

Seperti yang lainnya, saya memiliki resolusi setiap pergantian tahun mulai akhir tahun 2015. Saya lebih suka menyebut resolusi tahun baru dengan sebutan 'catatan harapan'. Catatan yang membuat saya fokus dan bertindak tepat. Seperti tulisan dari Petrus Oktavianus: 

              Untuk menjadi dewasa, kita harus banyak membaca. Kalau mau siap dalam segala hal, 

              belajarlah berbicara dan bila ingin menjadi orang yang tepat, banyaklah menulis.

Tulisan dari Petrus Oktavianus ini saya jadikan catatan pengingat pada sticky note di laptop agar memacu semangat semasa kuliah. Tulisan ini muncul kembali dalam memori saat membaca letter to myself  yang menuntun saya untuk membaca sticky note lainnya pada laptop. Beberapa catatan yang sengaja saya ketik untuk diri sendiri semasa kuliah memicu gelitik. Terutama catatan saat mengerjakan skripsi yang berbunyi:

 "Jangan malas! kemarin Tuhan tolong, hari ini pasti Tuhan tolong juga besok pasti Tuhan tolong!"

Catatan ini bagaikan alarm yang menyadarkan bahwa kuliah di tahun tersebut harus terselesaikan dengan baik sesuai dengan resolusi yang sudah dibuat.

Photo by Dollar Gill on Unsplash

Guys, pasti kalian juga pernah atau memiliki kebiasaan untuk membuat suatu catatan harapan di tahun baru serta mengevaluasi catatan tersebut setiap akhir tahun. Mungkin seringkali kalian juga menyemangati diri sendiri dengan kutipan-kutipan dari penulis buku, tokoh lainnya bahkan menjadikan ayat-ayat yang ada di Alkitab sebagai kompas menuju tercapainya harapan yang dimiliki. Akan terasa membahagiakan apabila catatan itu sudah bisa kita check list, tetapi bagaimana jika belum? Bagaimana respon kalian apabila catatan-catatan harapan yang dibuat pada tahun ini ada diantaranya delay atau dengan kata lain, belum terlaksana?

Saya jadi teringat dua kali penundaan harapan yang pernah saya buat saat memasuki tahun 2016 dan tahun 2017. Catatan harapan di kedua tahun itu isinya sama yaitu menghantarkan papa, mama, dan saudara-saudari saya untuk bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat. Dua tahap kesempatan Tuhan beri bagi saya untuk mewujudkannya. Tahap pertama pada tahun 2020 ketika saya dapat melayani mama dan saudara-saudari saya, sedangkan tahap kedua pada tahun 2021, dimana saya dapat melayani papa dan saudara-saudari.

Sebelumnya, saat harapan itu belum terwujud saya pernah berpikir untuk menyerah. Namun, di akhir tahun ini saya menyimpulkan bahwa penundaan yang terjadi justru adalah yang terbaik bagi saya dan waktu yang tepat bagi orangtua juga saudara-saudari saya untuk dilayani. Mengapa? Alasannya ialah Tuhan ingin terlebih dahulu menghantarkan pribadi saya pada diri-Nya sebelum saya membawa mereka pada Yesus. Diproses terlebih dahulu, inilah yang membentuk hati Bapa dalam diri saya sehingga kasihNya dapat tersalurkan. Catatan harapan yang saya buat pun menjadikan diri saya tetap semangat mendoakan dan menyampaikan kebenaran, walau ada saat dimana Injil itu tidak digubris oleh mereka. Semoga kalian yang pernah alami penundaan harapan pada tahun-tahun lalu dan yang harapannya sudah terwujud di tahun ini dapat menyimpulkan semua baik pada waktu-Nya.

Lalu bagaimana kalau sampai tahun ini belum juga terlaksana? Jika bahkan sepertinya di tahun depan catatan harapan yang dibuat akan tertunda lagi, atau bisa jadi tidak akan pernah terlaksana? Rasanya jadi ragu untuk menyusun resolusi. Bagaimana kita menyikapi hal ini?

Mari kita bercermin pada Firman Tuhan dari Yakobus 4:13-17. Firman Tuhan pada bagian ini menjadi landasan saya setiap memasuki tahun baru dengan berbagai catatan harapan yang ingin diwujudkan. Dari perikop pembacaan: "Jangan melupakan Tuhan dalam perencanaan", sudah sangat jelas bahwa keseluruhan hidup kita harus bergantung pada Tuhan. Kenapa? Karena Tuhan tidak ingin kita berlaku sembarangan dan berpikir asal-asalan. Perikop ini adalah wujud kasih Allah bagi kita dalam membuat resolusi. Perikop ini juga memberitahu kita bahwa ada dua prinsip saat merencanakan atau mengharapkan sesuatu.

Photo by Aaron Burden on Unsplash

Pertama, milikilah prinsip melibatkan atau menyertakan Tuhan dalam perencanaan (ayat 13-14). Yakobus memberikan contoh seorang pedagang yang memiliki perencanaan hebat dan matang. Guys, namanya pedagang kalau berdagang pasti maunya mendapat untung ya. Dari contoh perencanaan hebat dan matang yang dimiliki pedagang dalam teks ini, maka dapat diketahui bahwa ada seorang pedagang yang percaya pada dirinya sendiri dan mengandalkan kemampuan dirinya tanpa menyertakan Tuhan. Ini adalah sikap yang salah karena merasa diri bisa tanpa pertolongan dari Tuhan. Sikap seperti ini adalah kesombongan yang membawa kekecewaan. Maka dari contoh tersebut haruslah disadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Harus disadari bahwa kita tidak bisa memprediksi masa depan atau apa yang akan terjadi. Jadi, milikilah prinsip untuk selalu menyertakan Tuhan dalam setiap perencanaan yang kita buat.

Kedua, milikilah prinsip menjadikan Tuhan sebagai perencana. Artinya resolusi dimulai dengan menyertakan Tuhan dan diakhiri dengan Tuhan sebagai penentu. Yang awalnya dalam catatan harapan atau resolusi dipenuhi dengan kata 'saya mau, saya ingin, saya akan' berubah menjadi 'yang Tuhan mau, yang Tuhan ingin, yang akan Tuhan buat, yang akan Tuhan kerjakan'. Milikilah prinsip ini walau tidak mudah. Jika ada kesadaran bahwa kita tidak dapat mengendalikan hidup, kita tidak memegang kendali total atas segalanya maka prinsip ini bisa ada pada kita.

Membuat resolusi tahun baru atau catatan harapan tidaklah salah, justru kita dituntun untuk punya rencana. Tuhan kita, Yesus Kristus sendiri adalah Sang Perencana bukan dadakan. Dua prinsip di atas akan menolong saya dan kalian semua dalam berencana. Mengapa kita perlu dua prinsip ini dalam perencanaan resolusi? Karena kalau tidak menyertakan Tuhan dan tidak menjadikan Tuhan sebagai Sang Perencana, maka sama dengan memegahkan diri dalam congkak.  Akhirnya perencanaan atau resolusi serta harapan yang dibuat juga berasal dari si jahat.

Guys, hati-hati jangan sampai perencanaan kita tidak menyertakan Tuhan dan tidak menjadikan Tuhan sebagai Perencana sebenarnya. Karena perencanaan yang dikendalikan oleh Iblis diselubungi dengan kata 'keinginanku, mauku'. Maka sertakanlah Tuhan dan relakan hatimu untuk menjadikan-Nya Perencana dalam segala hal yang kamu rindukan di tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya. Jika di tahun ini kembali belum terwujud apa yang telah dirancang maka bulatkan hatimu untuk berkata pada diri sendiri bahwa cara-Nya akan indah pada waktu-Nya. 

Photo by Gabrielle Henderson on UnsplashSebagai penutup tulisan ini saya yakin sebagian besar dari kita sering mendengarkan musik dan pasti memiliki lagu-lagu favorit yang sering kita nyanyikan. Kalau harus memilih, kita maunya mendengarkan lagu favorit di dalam ruangan atau di pinggir jalan yang dipenuhi dengan kebisingan dari suara kendaraan? Dan saya yakin pasti kita akan memilih mendengarkannya di dalam ruangan sehingga dapat menikmati lagu tersebut. Kemudan coba bayangkan jika Worship Leader atau singer dalam suatu kebaktian pada hari Minggu tidak tepat melagukan pujian. Pemusik baru saja memulai dengan intro, tetapi salah satu singer sudah bernyanyi padahal belum waktunya dan singer tersebut tetap bernyanyi tanpa menghiraukan ketepatan dalam menyanyikan pujian, ditambah suara yang dimiliki terdengar sumbang. Dapat dipastikan pujian yang dinyanyikan tidak akan terdengar indah, malah membuat jemaat tidak fokus beribadah dan sibuk mengomentari pelayan ibadah tersebut. 

So, kalian lebih suka menulis catatan harapan atau membuat resolusi yang dapat terwujud tepat pada waktu-Nya sehingga menghasilkan keindahan? Atau lebih memilih resolusi sumbang yang tidak enak bagi diri sendiri dan orang lain?

Sudah siap melangkah di tahun 2022? Selamat menulis catatan harapan untuk tahun 2022 dan semangat mengevaluasi resolusi di tahun ini. 

Salam sehat, Tuhan Yesus memberkati ❤

LATEST POST

 

Hai Ignite People!Sebagian dari kita mungkin ada yang masih belajar di sekolah atau di kampus, dan s...
by Verry Yovelin | 02 Aug 2022

Beberapa kali orang tuaku pernah bercerita waktu masih balita, aku pernah hampir kejatuhan vas belin...
by Regina Megumi | 02 Aug 2022

Doa memang cukup kita ucapkan, namun terkabul atau tidaknya kita tidak ada yang tahu. Yang jelas, da...
by Willi Bordus Bayu Setiawan | 23 Jul 2022

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER