Kawan Karib

Going Deeper, God's Words, 25 April 2020
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. -Yohanes 15:13-15

Aku menyebut Dia, kawan karibku. Sering berdoa untuk menyampaikan unek-unek dan kekecewaan kepada-Nya selama masa-masa sulit ini merupakan sesuatu yang membuat aku berpikir bahwa hubunganku dengan-Nya dalam kondisi baik. Kami adalah kawan karib. 

Tapi apakah benar, kami adalah kawan karib? 

Pertanyaan ini kemudian menggangguku hari ini, aku merenungkan tentang hubungan itu kembali, aku memikirkan arti “karib” itu bagiku. Karib aku artikan sebagai aku memahami Dia dan Dia memahami aku. Aku bisa cerita, bisa curhat untuk hal-hal yang paling pribadi sekalipun tanpa takut bahwa Dia akan membocorkan rahasiaku kepada orang lain. Dan aku sudah melakukannnya selama ini. Aku menjadikannya kawan karibku. Namun itu dari sisiku, lalu bagaimana dari sisi Dia? Apakah aku sudah menjadi kawan karib-Nya?

            Menghabiskan banyak waktu untuk bercakap-cakap dengan-Nya dalam doa memang membuat hubungan ini menjadi kawan karib, namun ini bukan hanya mendengarkan apa yang menjadi keluh kesahku. Namun juga belajar untuk mendengarkan-Nya. Apa pendapat-Nya tentang diriku, tentang apa yang kupikirkan tentang orang lain yang menurutku menyebalkan, tentang pilihan-pilihan yang kubuat. Tentang banyak hal yang mungkin selama ini tidak kudengarkan karena terlalu sibuk memikirkan apa yang baik menurutku dan bukan menurut-Nya. Jika benar aku adalah kawan karib-Nya, seberapa sering aku melibatkan-Nya dalam mengambil keputusan penting di dalam hidupku ataupun tentang tugas dan tanggung jawab yang diamanahkan-Nya kepadaku saat ini? Apakah selama ini aku “merasa” karib karena mengalami mukjizat-mukjizat kecil dalam hidupku tanpa mau tahu tentang apa rencana besar-Nya untukku di masa depan?

            Seberapa sering aku mengabaikan pendapat-Nya saat aku terburu-buru mengucapkan amin saat semua keluh-kesahku sudah tersampaikan dalam doaku? Adakah aku meluangkan waktu untuk duduk dan mendengarkan suara-Nya lebih jauh lagi? Pertarungan itu terjadi dalam hidupku, pertarungan untuk menyelaraskan pikiranku dan pikiran-Nya yang mungkin takkan bisa kupahami sebagai manusia, karena apa yang menurutku benar belum tentu di pandangan-Nya benar. Dan aku pun mulai memikirkan kemali tentang arti “kawan karib” bagi-Nya. 

Mungkinkah selama ini aku tak pernah menjadi kawan karib bagi-Nya karena terlalu sibuk dengan urusanku sendiri? Dia yang telah menjadi kawan karibku selama ini, satu-satunya pribadi yang selalu ada kapanpun aku membutuhkan-Nya. Kapan pun dan bahkan dimana pun aku berada dan membutuhkan-Nya, Dia selalu ada untukku. Aku mulai memikirkannya kembali dan ketika kusadari hal ini, sebait doa terucap dalam hatiku. 

Tuhan aku mau belajar untuk menjadi kawan karib-Mu. Menjadi kawan karib seperti yang Kau inginkan. Ajar aku untuk menjadi kawan karib-Mu. Amin.  


(NF)

LATEST POST

 

Kitab suci umat Nasrani terdiri dari 66 kitab (39 kitab perjanjian lama, 27 kitab perjanjian baru)....
by Nuel Lubis | 01 Jun 2020

Ini suara saya yang sekarang melayani di salah satu another liquid place, yaitu dunia pendidika...
by Febrima Yuliana Mouwlaka | 01 Jun 2020

Hai Ignite People, bagaimana kabar kalian semua? Aku berharap kalian semua dalam kondisi yang baik d...
by Kevin J. Darmawan | 01 Jun 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER