Aku Dipisahkan oleh Korona

Best Regards, Live Through This, 21 March 2020
Sebenarnya, Tuhanlah yang seharusnya dipeluknya, bukan kita. Kita hanyalah saluran-Nya saja.

"Kakak-kakak, nanti jangan banyak bersentuhan dengan adik-adik sekolah minggunya ya. Kita lagi social distancing dengan adik-adik kita." Kurang lebih itulah instruksi dari pembimbing Sekolah Minggu tempatku mengajar. Social distancing dan korona menjadi dua hal utama yang aku sering dengar akhir-akhir ini.  Korona menjadi heboh sekitar Januari lalu, padahal virus yang bak artis internasional ini ternyata sudah ada di China sejak bulan November tahun lalu. Fakta ini aku dapat dari salah satu berita, yang aku baca tadi sore. Cukup mengagetkan, dari satu orang, sekarang sudah ada di lebih dari 125 negara. Kira-kira jika penyebarannya lewat pesawat terbang berapa milyar ya yang harus dibayar sang virus itu?

Lupakan soal harga tiketnya, mungkin Lukas sedang membayangkan hal yang tidak mungkin. Namun, Korona bukanlah satu-satunya virus yang pernah atau bahkan masih menjadi "artis" kelas Mariah Carey yang mendunia itu. Ada SARS, ada HIV, ada TBC, korban yang berjatuhan karena virus-virus ini, yang jika kulihat saat ini di data WHO dan aku rata-rata, mungkin sudah bisa menyamai jumlah penduduk China daratan yang which is penduduk terbanyak hingga sekarang. 

Nah, belum selesai dengan itu muncul lagi adik mereka yang baru, namanya Covid-19 itu alias Korona. Mungkin sudah banyak orang yang cerita atau nulis tentang virus satu ini. Jadi aku tidak akan banyak membahas ke sana. Intinya, virus yang dianggap sebagai '"senjata biologis" ini sudah mengambil sekitar seribu sampai tiga ribu jiwa dalam waktu tiga bulan. Kurang keren apa nih virus. Dan, yang dia datangi tidak segan-segan. Sekelas Menteri Kesehatan Perancis, ibu negara Kanada, dan Menteri Kesehatan Iran juga terkena. Seakan dia ini virus kelas VIP. Belum lagi penyebarannya juga ke pemain sepak bola, pebisnis, hingga memaksa CR7 membeli satu pulau khusus untuknya dan keluarganya. Sang virus yang masih junior ini sudah berhasil memakan apa saja. Memaksa siapa saja untuk nurut dengan dia.

Bagaimana dengan di Indonesia? Virus ini masuk dari sebuah pesta di Jakarta. Pasien 01 yang ikut dalam "pesta" itu pun tidak luput dari Korona ini. Penyebarannya juga tidak main-main. Setidaknya sudah ada 300-an korban, yang terbaru, bahkan virus ini memilih seorang menteri untuk menjadi inangnya. Begitu luar biasanya hingga Arab Saudi dan Vatikan juga menutup sementara "wisata rohani" mereka. Italia dan Korea Selatan menutup diri, Perancis, Denmark, hingga Inggris menjadi negara terlarang bagi orang Indonesia. Padahal ingat, baru tiga bulan.Photo by Anna Earl on Unsplash

Ternyata virus ini juga membuat aku harus menjauh sementara dari adik-adik sekolah mingguku. Bagi aku yang terbiasa menunjukkan kasihku dengan sentuhan, tentu virus ini sangat menggangguku. Sentuhan itu sekarang dilarang keras, dan sekarang bahkan kelas sekolah minggu diubah menjadi kelas online. Sebenarnya aku tidak nyaman, hanya saja, demi keamanan adik-adik sekolah mingguku, aku rela berpisah. Seperti lirik lagu aku hanya pergi, untuk sementara… Sedih, tapi mau gimana lagi semua untuk menjaga keamanan dan kenyamanan mereka. 

Inilah perubahan. Perubahan yang sangat cepat sehingga aku harus dengan sangat berat hati membatalkan acara paskah anak dan berbagai agenda mengajar lainnya. Aku dipisahkan dengan adik-adikku, untuk kebaikan mereka. Nyaman? Jelas tidak! Tetapi harus dilakukan, agar resiko penularan virus ini berkurang. Beberapa adik bertanya "kok kakak sombong sih sekarang?" Rasanya ingin menangis sekeras-kerasnya, hanya mau bagaimana lagi. Biarlah, toh untuk kebaikan bersama 

Selama masa heboh Covid-19 ini aku jadi banyak membaca artikel, dan ada beberapa saran aku untuk kalian agar bisa tetap melewati masa ini dengan tetap berpikiran positif:

  1. Pikirkan bahwa Tuhan memberikan ini, supaya dunia boleh 'bernafas'. Pikiran ini sebenarnya hasil lihat di FB sih. Melihat jalanan yang begitu sepi dan cenderung kosong seakan dunia boleh menghilangkan kepenatannya. Ia sedang berusaha berteriak bahwa ia lelah, dan waktu ini adalah waktu terbaik untuknya bisa bernafas. Kita harus ingat, dunia ini juga makhluk hidup bukan, kalau kita paksa dia bekerja 26 jam (sengaja dilebihkan) sehari, siapa yang nggak suntuk dan kelelahan?

  2. Kita perlu ingat kawan, kadang kita pun juga perlu punya ranah privat. Korona membuat orang lebih bisa berpikir tentang dirinya sendiri. Ranah privat kita sedang bermain sekarang. Beri waktu yang pas untuk diri kita beristirahat dan mengatur jadwal yang 'berantakan/awut-awutan'. Beri diri kita waktu untuk bernafas juga, sama seperti bumi yang turut bernafas.

  3. Kita juga perlu ingat, pelayanan kita itu untuk Tuhan. Sekali lagi untuk Dia yang menciptakan kita. Mungkin Korona juga mengingatkan kita akan tujuan pelayanan kita. Saat adik sekolah mingguku mengatakan, "kok nggak boleh meluk sih?", sebenarnya Tuhanlah yang seharusnya dipeluknya, bukan kita. Kita hanyalah saluran-Nya saja. Ia yang berusaha untuk mengembalikan siapa Dia, dan siapa kita. Dari perkataan anak sekolah minggu itu, jelas aku sedih. Sedih banget malah, tetapi larangan untuk menyentuh ini mengingatkanku, bahwa sebenarnya Tuhanlah yang rindu 'dipeluk' oleh anak-anak, baik kita, maupun anak sekolah minggu itu.

  4. Korona mengingatkan kita bahwa memang pada dasarnya manusia itu lemah dan tak berdaya, ia hanya berlagak sombong dan bisa segalanya. Kisah hari-hari ini mengingatkanku pada kisah Israel yang berkali-kali menyimpang dan lupa akan kasih Tuhannya. Inilah intinya, mungkin kita lupa, bahwa Tuhan ingin supaya kita lebih bersandar dan menyerahkan pelayanan kita yang tidak sempurna itu pada-Nya, Sang Pemilik Kehidupan ini. Jadi ucapan anak-anak sekolah minggu "kok nggak boleh megang sih" itu mengingatkan kita, bahwa kita bukan Tuhan mereka. Kita hanya menjadi saluran-Nya saja. Pada artikelku tentang 'Allah yang Narsis' sudah aku tunjukkan alasan mengapa kita patut paham siapa kita dan siapa Dia dan bagaimana peran kita dan peran-Nya. Apakah kita sudah mulai mengambil kemuliaanNya?

  5. Tentang social distancing, ini mengingatkan kita pada ranah privat orang lain. Sering kali, kita menjadi rakus, dan berusaha mengambil ranah privat sekitar kita dengan aturan, kesombongan, dan banyak hal yang kita buat untuk mengatur orang lain. Padahal kadang, orang lain juga punya "lingkarannya" sendiri. Saranku, cobalah untuk tidak mengganggu 'lingkaran' orang lain. Social distancing menjadi salah satu caranya.

Photo by Photo Board on Unsplash

Jika artikel ini terbit saat Korona masih berkuasa, maka perlihatkanlah, bahwa kita sedang menerima teguran dari Allah, alam, dan sekitar kita. Selamat berefleksi dalam masa Pra-paska ini kawan, sekaligus berefleksi akan bagaimana kita berbuat kepada Allah, alam dan sesama. Tuhan memberkati.


LLC-Saat harus berpikir "mengapa Korona hadir sekarang"

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER