Bahayanya Upaya Menyingkirkan “Yang Lain” di Balik Ucapan “Semua Orang Berdosa”

Best Regards, Live Through This, 21 June 2020
"Kita melihat 'kawan' dari sisi terbaiknya dan 'lawan' dari sisi terburuknya........ Kalimat 'semua orang berdosa' menemukan makna yang amat berbeda antara 'kita' dan 'mereka.'"


 "Namanya juga manusia, ga ada yang sempurna. Pasti juga punya dosa. Yaudah lah." 

Kalimat di atas mungkin terdengar rendah hati dan tidak menghakimi, mengakui keterbatasan manusia yang bisa jatuh. Sejalan dengan doktrin total depravity (kejatuhan total) dalam iman historis Protestan: akibat kejatuhan dalam dosa, kita diperbudak dosa sejak awal. Akibatnya, secara alami kita tidak mampu memilih mengikut Tuhan. Hanya anugerah-Nya yang memampukan. 

Mengutip Paulus dalam Roma 3:23, “karena semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” 

Tapi ada yang mengganggu dengan tendensi melontarkan kalimat semacam ini. Nampaknya, ada kemungkinan motif terselubung: keinginan “lari” dan mencari jalan mudah, enggan mengakui dosa-dosa masa lalu (bahkan masa kini) kita sendiri, orang-orang terdekat, maupun manusia biasa panutan kita. Kalaupun mengakui, sebisa mungkin dihindari percakapannya, cukup tahu permukaan tanpa dikritik sewajarnya. Kalimat “semua orang berdosa” menjadi tameng untuk mengagungkan supremasi, luput dipersandingkan dengan “kejatuhan total” itu sendiri.


BAGAIMANA “KEJATUHAN TOTAL” DISELEWENGKAN

Ucapan “semua orang berdosa,” tak kita sangka, menjadi jawaban mudah yang membutakan kita dari sejarah, mengultuskan orang-orang yang tetap perlu dipahami dengan penuh pertimbangan di balik puja-puji setinggi langit. Kita dengan mudah melontarkan “kebaikannya masih lebih besar dibanding keburukannya.” Maaf murahan yang menghindarkan diri dari konsekuensi memahami orang lain lebih jauh, termasuk sisi tergelapnya. 

Kita pun cenderung mengambil jarak dari kritik terhadap manusia-manusia yang berdampak besar bagi kita namun tetap memiliki aspek yang perlu dipertanyakan. Dalam tataran ekstrim, diam-diam bisa saja kita mengagungkan penguasa yang rela mengorbankan rakyatnya, predator seksual, maupun penggelap dana triliunan, karena adanya citra "baik," "sederhana," atau "rajin memberi dan beribadah," ataupun karena yang diperbuatnya senapas dengan kepentingan kita. Tak jarang, demikian juga cara kita menilai dan memperlakukan orang-orang hebat panutan kita dalam beriman. 

Namun pertanyaannya, apakah ini juga cara kita menilai dan memperlakukan mereka yang secara ideologi, ras, agama, orientasi seksual, pendidikan, maupun strata ekonomi berbeda dengan kita? 

Berapa banyak dari kita yang rajin melontarkan nyinyiran kepada pendemo buruh dan aktivis yang dengan cekatan kita sebut secara peyoratif “Social Justice Warrior (SJW)” tanpa melihat manfaat upaya mereka bagi pemenuhan hak kita juga? 

Berapa yang, sengaja maupun tidak, mengeksklusi rekan dari ras dan ideologi berbeda dengan ucapan seperti “dasar Cina,” “ninja teroris,” “negro,” atau “orang Papua bau dan suka minum-minum” tanpa kedekatan relasi yang memadai dengan mereka? 

Berapa yang dengan nyamannya melontarkan candaan “homo/lesbi brengsek,” “banci,” atau “laki atau bukan sih itu orang” tanpa mau memahami pergumulan seksual mereka maupun persekusi dari masyarakat dan komunitas iman karena pengalaman yang sejatinya mereka pun tak mau alami itu? 

Kita melihat “kawan” dari sisi terbaiknya dan “lawan” dari sisi terburuknya. Padahal tak jarang, “lawan” kita juga adalah sesama korban sistem yang menekan kemanusiaan, penghakiman tiada ampun, dan ketidakadilan yang menguntungkan segelintir orang. Apakah itu keadilan sejak dalam pikiran? Ataukah sesat pikir yang sengaja dirawat?


DAMPAK BAGI KOMUNITAS DAN DIRI

Ungkapan ini terus menemukan bahayanya dalam lingkup lebih dekat: cara kita beserta komunitas memandang diri. Kita takut membuka luka komunitas yang sebenarnya belum sembuh. Trauma yang menghantui. Kasus-kasus yang mencoreng “kesempurnaan” komunitas dan keluarga. Pelecehan, kekerasan, konflik yang terpendam, kemarahan yang ditutupi. 

Saya pun terus-menerus jatuh, mencari cara gampangan menghadapi konflik, berlindung di bawah ucapan “sing waras ngalah” atau “nanti juga lewat sendiri.” Keinginan mencari jawaban mudah atas isu sensitif menjauhkan saya dari substansi. Akibatnya, korban yang membutuhkan resolusi tidak mendapatkannya, kadang dalam hal ini adalah diri sendiri. Iya, saya akhirnya tidak adil terhadap diri maupun komunitas. 

Inilah masalah kita bersama. Memandang “orang baik” dengan kacamata penuh kebaikan, lalu ketika ditilik aspek bermasalah, dengan enggan berkata “ya sudah, toh semua orang berdosa.” Namun ketika diperhadapkan dengan “yang lain,” dengan mudah melihat keburukannya, memberikan penekanan pada aspek dosa mereka. Di titik inilah, “semua orang berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah” terpisah menjadi dua kutub. Tidak menyatukan, malah memecah-belah.


 

KEJATUHAN TOTAL: MENJELANG ANUGERAH 

Hal paling dasar, walau sulit, untuk melawan sudut pandang tak adil terhadap “yang lain” adalah dengan menggumulkan ulang bagaimana kita memandang diri dan orang-orang di “sisi kita”. Pandang mereka (dan diri sendiri) secara kritis, bukan untuk berbalik membenci, namun untuk semakin memperdalam relasi yang kita hargai dengan yang di “sisi kita”. 

Hal yang lebih menyakitkan namun krusial adalah membuka kembali trauma yang disembuhkan secara palsu. Trauma yang sejatinya hanya bisa dibereskan ketika kita hadapi dengan terang benderang, membawanya kepada Kristus, mengakui kehancuran, dan memohon pengampunan, diiringi rekonsiliasi tak mudah yang menjadi konsekuensinya. Pendamaian sejati dalam anugerah Tuhan. 

Mungkin saja, dengan memahami kehancuran diri yang lebih penuh demikianlah kita dapat melihat "yang lain" dengan lebih empatik, berdamai dalam ketidaksepakatan, belajar dalam persetujuan. 

Maka marilah kita gumulkan: bagaimana kita sebagai orang percaya dan bergereja menjawab tantangan untuk bersedia bercakap-cakap, bahkan merangkul mereka yang terabaikan karena perbedaannya? 

Rekan-rekan dari status sosial-ekonomi yang dipandang rendah, minoritas seksual, pemilik disabilitas yang kesulitan berbaur “yang normal”, atau bahkan yang pemahaman teologisnya berbeda dan dengan mudahnya kita jebloskan ke label, misalnya, “tidak Alkitabiah”. 

Penghargaan terhadap mereka (yang sejatinya tak pernah jauh dari lingkungan gereja) tak akan datang tanpa pertobatan dari dosa pribadi dan komunitas, dan membawanya dalam anugerah Allah yang tak murahan. 

Syukurnya, kita memiliki karunia yang saling melengkapi dalam tubuh Kristus. Begitu banyak kekurangan, tapi juga talenta, untuk saling mengoreksi interpretasi yang bermasalah dari ungkapan “semua orang berdosa”. Gereja di segala tempat dan zaman terus bergumul dari sejarah kelamnya dan bangkit, berefleksi dari kesalahan, mengorientasikan diri kembali pada Kristus yang menebus, untuk kemudian kembali mewartakan kebenaran Firman Tuhan dan berpihak kepada mereka yang tersingkirkan. 

Kiranya Kristus yang bangkit juga terus membangkitkan kita dari kejatuhan-kejatuhan, menebus “semua orang berdosa” menjadi “semua orang mengalami anugerah Allah.” 

Izinkan kutipan sebuah doa berkat ordo Fransiskan yang terus “mengganggu” saya ini juga “mengganggu” yang membaca curhat ini.


“Kiranya Tuhan memberimu ketidaknyamanan 

atas jawaban yang mudah, kebenaran yang separuh, dan hubungan yang dangkal, 

sehingga kamu dapat menghidupi kedalaman.


Kiranya Tuhan mengaruniakan kepadamu kemarahan

 atas ketidakadilan, penindasan, dan eksploitasi, 

sehingga kamu dapat berkarya untuk keadilan, pembebasan, dan perdamaian.


Kiranya Tuhan menganugerahkan kepadamu air mata 

untuk dicurahkan bagi yang menderita rasa sakit, penolakan, kelaparan, dan perang, 

sehingga kamu dapat mengulurkan tanganmu 

untuk menghibur, dan mengubah rasa sakit menjadi sukacita.


Kiranya Tuhan memberkatimu dengan cukup kebodohan

 untuk percaya bahwa kamu dapat membuat perbedaan di dunia ini, 

sehingga kamu dapat melakukan apa yang orang lain anggap tak mungkin. 

Untuk membawa keadilan dan kebaikan kepada semua orang.


Kiranya berkat Tuhan, yang menciptakan, menebus dan menguduskan, 

besertamu dan semua yang kamu cintai dan doakan untuk hari ini, dan selamanya. 

Amin.”

LATEST POST

 

Ada satu ungkapan yang pernah saya baca dan agak cukup nyeleneh  sekaligus menyedihkan. Ungkapa...
by Ryan Richard Rihi | 02 Jul 2020

“Biarkanlah kurasakan Hangatnya sentuhan kasihmu Bawa daku penuhiku Berilah diriku kasih putih...
by Aditya Seto Nugroho | 02 Jul 2020

Memasuki kelas 11, aku mulai dihadapkan dengan berbagai kepengurusan ekstrakurikuler di SMA aku send...
by Jerell Michael Cussoy | 02 Jul 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER