The Artificial Worship

Best Regards, Live Through This, 15 July 2019
Sebuah Ibadah yang tidak didasari esensi ibadah yang benar hanya akan menimbulkan sebuah ibadah yang 'cetek'

Ibadah merupakan sebuah acara atau event, pusat berkumpulnya umat Kristen yang pasti dilakukan paling tidak seminggu sekali,  Hal ini sudah dilakukan bahkan sejak zaman Perjanjian Lama, salah satu contohnya ketika bangsa Israel baru saja keluar dari tanah perbudakan Mesir, kemudian Musa dan bangsa Israel berkumpul memuliakan Allah berdasarkan penyelamatan Allah akan bangsa Israel. 


Dengan berjalannya waktu, konsep ibadah pun terus berkembang.  Ibadah mengadopsi budaya lokal untuk menjadi ekspresi ibadah umat Kristen.   Mengambil kebudayaan tertentu sebagai ekspresi ibadah, entah itu dalam bentuk tradisional atau modern, bukanlah sebuah hal yang salah. Akan tetapi orang Kristen kerap mempertahankan ekspresi beribadahnya, walau tidak berdasarkan esensi ibadah yang baik.  Sebagai contoh, gereja yang menggunakan gaya ibadah tradisional hanya karena sudah biasa; sebaliknya gereja yang menggunakan gaya ibadah modern hanya karena terlihat keren.


Akibatnya sebagian orang Kristen zaman sekarang hanya menyembah model penyembahannya, bukan menyembah Allah itu sendiri.  Umat Kristen pun datang beribadah hanya berdasarkan referensi atau kesukaan akan model ibadah mereka. Dan semua ini mengakibatkan munculnya Artificial Worship atau bisa dikatakan penyembahan buatan. Image by J F from Pixabay 

Pengadopsian kebudayaan tertentu, untuk menjadi sebuah ekspresi ibadah tertentu, bukanlah hal yang salah.  Namun hal ini menjadi salah apabila pengadopsian ekspresi ibadah tersebut tidak didasari oleh esensi dari ibadah itu sendiri.  Pengadopsian ekspresi ibadah tanpa didasari esensi yang tepat itu seperti seorang yang membangun rumah di atas pasir, cepat atau lambat bangun itu akan roboh.  


Maka, berikut beberapa esensi ibadah yang seharusnya menjadi dasar bagi setiap kita dalam merancang ibadah bagi setiap gereja kita: 


1. Berpusat Pada Proses Keselamatan Allah Terhadap Umat-Nya

Pengertian yang harus menjadi patokan setiap orang Kristen ketika beribadah adalah bahwa ibadah itu selalu dimulai dari inisiatif Allah kepada umat-Nya.   Pengertian ini harus menjadi dasar bagi setiap orang percaya, karena seluruh isi Alkitab mengatakan bahwa penyembahan selalu dimulai dari inisiatif Allah mengerjakan keselamatan bagi umat-Nya.  Salah satu contoh yang tertulis dalam Alkitab adalah ketika Musa dan bangsa Israel baru saja keluar dari tanah Mesir (Kel. 15:1-21).  

Puji-pujian penyembahan di sini berpusat dan menunjukkan bagaimana kisah Allah menyelamatkan bangsa Israel dari tanah Mesir. Bukti yang lain dalam Alkitab bagaimana setiap ibadah itu berpusat dari aksi Allah menyelamatkan umat-Nya adalah pada Keluaran 12. Dalam bagian itu dijelaskan bagaimana penetapan perayaan Paskah didasari dari penyelamatan Allah terhadap bangsa Israel;  segala bentuk dan tata caranua dipusatkan pada kisah penyelamatan Allah bagi bangsa Israel.

Tidak berbeda dari Perjanjian Lama, Perjanjian Baru juga mengatakan hal yang serupa dalam praktik ibadah umat Kristen mula-mula. Bahkan, apabila kita perhatikan, kisah penyelamatan Allah dalam keluarnya bangsa Israel merupakan sebuah penggambaran yang digenapi pada PB ketika Kristus menyelamatkan manusia dari tawanan dosa.  Seperti yang kita lihat dari nyanyian hasil kutipan Paulus dalam Filipi 2:6-11. Nyanyian Paulus saat itu didasari oleh proses penyelamatan dari Yesus untuk umat-Nya.  Kemudian ketika para jemaat mula-mula berkumpul, mereka bertekun dalam pengajaran rasul, yaitu pengajaran akan kisah penyelamatan Yesus Kristus (Kis. 2:42).Image by cgrape from Pixabay Kisah penyelamatan Allah kepada umat-Nya haruslah menjadi dasar dari setiap ibadah kita,  Bentuk liturgi dan ibadah harus menyampaikan kisah penyelamatan Yesus Kristus kepada umat-Nya.  Entah itu berupa pujian yang berisikan kisah penyelamatan Yesus Kristus terhadap umat-Nya atau melalui susunan liturgi yang menggambarkan pengampunan dosa melalui darah Kristus.  Kisah penyelamatan Allah terhadapap umat-Nya sangat penting, karena kisah itulah yang menjadi dasar iman Kristen.


2. Dilakukan Melalui Dialog antara Allah dan Umat-Nya

Tindakan Allah yang berinisiatif dalam aksi penyelamatan-Nya, merupakan sebuah bentuk Allah memulai dialog dengan menyatakan diri-Nya kepada umat-Nya.  Penyataan diri Allah ini bisa berupa apa pun dalam Alkitab, seperti dalam ranting yang terbakar, ketika membelah Laut Merah atau ketika menampakkan diri kepada Musa di Gunung Sinai. Kemudian sama seperti yang dikatakan oleh seorang penulis buku Constance M. Cherry dalam bukunya "Worship Architect" bahwa Yesus adalah perwujudan penyataan diri Allah yang paling maksimal dari Allah. 

Tindakan dari inisiatif Allah menyatakan diriNya ini selalu membuat manusia yang melihat pernyataan tersebut tak kuasa membendung dirinya untuk merespons keindahan penyataan diri Allah.  Sehingga penyataan Allah dengan umat-Nya itu layaknya sebuah dialog yang begitu agung dan indah antara Sang Pencipta yang Mahakuasa dan pemilik seluruh jagad raya dengan seorang manusia yang terpikat oleh keindahan Sang Pencipta.

Salah satu bentuk percakapan atau dialog yang terdapat dalam Alkitab, bisa dibaca di Yesaya 6:1-8.   Bagian ini menceritakan sebuah kisah mengagumkan di mana Allah menampakkan diri-Nya dalam kemuliaan, duduk di atas tahta yang begitu agung, di mana Malaikat Serafim menyerukan, “Kudus, Kudus, Kuduslah TUHAN semesta alam seluruh Bumi penuh kemuliaan.” Sebuah penyataan diri Allah yang begitu agung.  Kemudian penyataan diri Allah ini membuat Yesaya secara inisiatif dan otomatis -karena begitu indah-Nya penyataan Allah- merespons penyataan keindahan Allah tersebut. Yesaya merespons pernyataan diri Allah dengan pengakuan akan dirinya yang tidak layak dan berdosa melihat keagungan Allah.  Yesaya merespons dengan menyadari dan mengakui ketidaklayakan dirinya dihadapan Allah (Yesaya 6:5). 

Kemudian Allah kembali menyatakan diri-Nya dengan mengatakan bahwa dosa dan kekotoran Yesaya telah dibersihkan dari kotornya dosa. Dan Yesaya merespons pernyataan tersebut dengan mengatakan “Ini aku utuslah aku.”

Image by Vickie McCarty from Pixabay 

Melalui bagian cerita Alkitab ini, bisa dilihat bahwa pernyataan Allah selalui direspons oleh umat-Nya. Pada akhirnya ibadah merupakan sebuah percakapan yang intim antara Allah yang menyatakan kebesaran-Nya kepada umat-Nya yang berdosa.


3. Membangkitkan Kasih Antara Tubuh Kristus

Selain Allah, aspek yang tidak boleh hilang dalam ibadah adalah aspek sebagai satu tubuh dalam Kristus. Pertemuan ibadah tidak hanya dilakukan oleh satu orang dengan Allah, akan tetapi secara bersama dengan umat-umat Allah.  Kalau kita perhatikan ketika Allah memberikan perjanjian dengan umat-Nya yang baru saja keluar dari Mesir itu bukan hanya untuk Musa saja akan tetapi kepada seluruh bagian umat Israel.  Sehingga ketika Allah memanggil umat-Nya untuk beribadah kepada-Nya bukan hanya untuk Musa, tapi seluruh umat Israel harus datang menyembah Allah.

Kemudian dalam perjanjian baru sendiri, Rasul Paulus mengatakan untuk saling membangun satu sama lain melalui puji-pujian (Kolose 3:16).   Seorang penulis bernama Mike Cosper dalam bukunya Rhythm of Grace, pernah menuliskan bahwa kita sebagai umat Kristen sudah sepatutnya bernyanyi bukan, hanya untuk Tuhan tetapi juga untuk memberi kekuatan bagi orang-orang yang duduk di samping kanan dan kiri kita.Image by pixel2013 from Pixabay Sehingga aspek tubuh Kristus haruslah menjadi dasar dalam kita merancang sebuah ibadah,  bagaimana seorang yang satu dengan yang lain dapat saling memberikan kasihNya dalam sebuah ibadah.


Ya, ibadah merupakan sebuah hal yang sentral bagi orang kristen.  Namun sayang banyak orang Kristen hanya memikirkan bentuk ekspresi dalam ibadah tanpa mendasarinya dengan esensi yang Tuhan mau. Apakah bentuk ekspresi ibadah seperti urutan liturgi, gaya musik dan nyanyian jemaat dapat menceritakan aksi inisiatif Allah, menggambarkan percakapan kudus Allah dan umat-Nya dan membangun kasih antarsesama tubuh Kristus? 


Mari kita sama-sama menggumulkan ibadah yang berkenan di hadapan Allah. SOLI DEO GLORIA 


LATEST POST

 

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel mengenai pasangan hidup di IGNITE GKI,...
by Tabita Davinia Utomo | 26 Sep 2021

I can stop this right now because there are so many reasons why I shouldn’t do this.“Hei...
by Sandra Priskila | 26 Sep 2021

Pandhu (bukan nama sebenarnya) menangis di salah satu sudut kamarnya. Bantal putih besar itu dipeluk...
by Lay Lukas Christian | 26 Sep 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER