Ignite Ladies, Let's Be Kind to Each Other!

Best Regards, Live Through This, 26 June 2020
Mari kita belajar melihat lebih dekat, lebih luas, dan lebih dalam kepada sesama perempuan yang mungkin dianggap liyan oleh masyarakat

Banyaknya waktu di rumah dan pertemuan-pertemuan terbatas dengan manusia membuat saya dapat memperhatikan perilaku manusia lebih dekat. Ada begitu banyak hal baru yang masih bisa saya pelajari tentang sosok manusia, terkhusus manusia yang berjenis kelamin sama seperti saya, perempuan. Misalnya, kompetisi antara sesama womenpreneur pemilik kedai kopi, argumen antara dua orang yang keras kepala, dan pergunjingan antarwanita di lingkaran sosial.


Femina feminae lupa est.


Sebuah ungkapan dalam bahasa Latin yang suatu kali saya lihat di Instagram kenalan saya. Artinya, a woman is a wolf to her fellow woman (wanita adalah serigala bagi sesama wanita). Apa sih maksudnya? Ungkapan ini menunjukkan betapa wanita—sebagai sosok yang seharusnya memperjuangkan persamaan hak—justru menjadi musuh terbesar bagi perjuangan kaumnya sendiri. Salah satu caranya, mudah saja: Ghibah. Heu.


Melalui omongan, perempuan dapat saling menjatuhkan dan menebarkan cerita kurang baik tentang sesama kaumnya. Tentu banyak hal yang membuat para perempuan ini doyan ghibah: mulai dari masa lalu, pilihan baju, pacar, sampai rasa masakan. Saya mengamati dan berefleksikan, siapa saja sesama kaum perempuan yang dalam pengalaman hidupku kerap mendapatkan pengalaman di-ghibah-kan:


  1. Mereka yang Memiliki Pengalaman Traumatis

Perceraian orang tua, pelecehan seksual, maupun toxic relationship bisa menjadi sumber trauma bagi mereka. Namun alih-alih mendengarkan, memahami, dan merengkuh, kita—para puan lainnya—mungkin sibuk menceritakan kisah traumatis itu dari satu kelompok pertemanan ke kelompok yang lain. Tentunya ditambah bumbu-bumbu penyedap. Hm.

Do we even wonder how they go through those miserable seasons? Pernahkah kita menyapa mereka untuk sekadar menanyakan kabar: “Apakah hari ini jauh lebih baik dari kemarin?” Sudahkah kita menyediakan telinga dan hati yang tulus mendengar tiap cerita mereka? Ignite People, yuk kita berefleksi.


       2. Mereka dengan Status Sosial Tertentu

Beberapa yang sangat dekat di lingkungan saya adalah janda, single (a.k.a "perawan tua"), ibu tiri, dan single parent. Seharusnya kita tidak menjadikan status ini alasan untuk menciptakan "social distancing" dengan mereka. Tapi aku menyaksikan banyak puan yang justru menunjukkan fake relationship di depan mereka. Sebagai sesama perempuan, bukankah seharusnya kita justru memahami dan menjadi support system yang baik agar mereka pun tetap bisa berkarya dengan aman dan nyaman?


       3. Para Perempuan Idealis

Terkadang saya menangkap seakan ada kesan wanita tidak boleh punya idealisme dan prinsip. Apakah ini efek dari sikap yang berjudul manut? Kadang, justru karena punya prinsip yang kuat dan idealisme yang jelas perempuan dipandang ‘kurang perempuan.’ Dianggap pembangkang, dominan, sok maskulin, dan tidak tunduk pada laki-laki. Padahal, tanpa idealisme yang jelas, hidup kita akan berjalan tanpa arah, seperti daun yang jatuh di aliran sungai lalu mengikuti kemanapun aliran tersebut pergi. 



Ignite People, Alkitab pun mencatat banyak kisah perempuan yang di-liyan-kan. Perempuan-perempuan yang dipandang sebelah mata ini justru menjadi sarana Tuhan menunjukkan cinta kasih-Nya kepada manusia. Satu yang sangat mengena di hati saya adalah sang perempuan Samaria yang bercakap-cakap dengan Yesus di sumur Yakub.



Sosok perempuan ini cukup merangkum 3 kategori di atas: mungkin dia memiliki trauma soal relasi, baik dengan pria maupun dengan orang Yahudi dan berstatus selingkuhan suami orang, tetapi tetap menunjukkan kegigihannya bertahan hidup walaupun prinsip yang ia miliki masih keliru (menimba air sendiri dan berani ‘menantang’ Yesus yang merupakan lawan jenis sekaligus musuh bebuyutan dari segi Samaria-Yahudi). Yesus dengan kelemahlembutan sekaligus ketegasannya memahami dan merengkuh perempuan ini, serta memberikan pengharapan akan kasih karunia Allah. Yesus menunjukkan kasih-Nya dengan tajam sekaligus meluluhkan. Yesus menunjukkan kesalahan perempuan itu tanpa menghakimi dan mendekatinya tanpa prasangka. Bukannya bertahan dengan argumentasi defensifnya, perempuan itu justru terbuka mata batinnya dan manut dengan Sang Juruselamat; ia menyadari bahwa ia membutuhkan Juruselamat serta pengharapan, kepuasan, dan kasih yang tiada habisnya.


Ignite People, terkhusus Ignite Ladies, mari kita belajar melihat lebih dekat, lebih luas, dan lebih dalam kepada sesama perempuan yang mungkin dianggap liyan oleh masyarakat. Mari kita sediakan telinga yang mau mendengar, tangan yang tulus merangkul, dan bibir yang lembut dan tegas dalam berkata-kata. Mari kita menjadi cerminan Tuhan Yesus dalam memberitakan bahwa keselamatan, pengharapan, kepuasan dan kasih dari Tuhan itu juga tersedia bagi mereka.



LATEST POST

 

Seorang aktris Korea, Park Shin Hye pernah ditanya dalam suatu acara variety show yang dibintanginya...
by Monica Petra | 26 Oct 2020

Aku setuju bahwa dalam beberapa hal, lebih baik jika kita melontarkan kata tanya "bagaimana&quo...
by Lia Oozz | 26 Oct 2020

[Disclaimer: This article is based on writer experience]As an Asian that lives in the Asian continen...
by Marcella Liem | 26 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER