Blessings in Disguise: Part One

Best Regards, Live Through This, 09 March 2020
Kedua orang tua saya diberi izin untuk berada diruangan ICU pada malam itu. Mereka berada di sisi ranjang, berdoa dan memuji Tuhan dalam ketidakberdayaan mereka.

Saya terlahir di sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta 23 tahun silam. Nahas bagi saya, sejak saya berusia satu bulan saya divonis dokter mengalami masalah pada jantung. Saya terlahir dengan kondisi Arterial Septal Defect, terdapat kebocoran pada sekat jantung yang memisahkan darah bersih dengan darah kotor. Hal tersebut sangat berdampak pada masa pertumbuhan saya. Saya menjadi sangat rentan terhadap penyakit. 

Mulai dari kejang hingga pingsan, semua pernah saya alami saat masih kecil. Saya tidak bisa terlalu lelah, karena jika demikian saya bisa muntah-muntah dan wajah saya berubah menjadi kebiru-biruan. Dokter saat itu menunda tindakan terhadap saya karena berpendapat dalam 4 tahun ada kemungkinan kebocoran tersebut dapat sembuh seiring dengan pertumbuhan saya. Dalam waktu 4 tahun tersebut, orang tua saya selalu mengusahakan yang terbaik agar saya bisa sembuh walaupun dalam segala keterbatasan yang ada.

Sampai akhirnya tibalah saat pada usia saya yang keempat. Orang tua saya memeriksakan kembali kondisi jantung saya ke salah satu rumah sakit besar di Jakarta yang khusus menangani penyakit jantung. Dan hasilnya menunjukkan bahwa jantung saya masih terdapat kebocoran hingga akhirnya tindakan operasi harus dilakukan. Namun, biaya untuk melakukan operasi sangatlah mahal dan kondisi keuangan keluarga saya tidak mampu untuk membiayainya. 

Dalam situasi yang serba salah saat itu, kami diarahkan untuk mengunjungi salah satu rumah sakit kemanusiaan di Bandung. Setibanya di sana, dokter membuat keputusan yang mengejutkan, "Operasi harus dilakukan esok hari! "

Photo by Piron Guillaume on Unsplash

Dengan segala ketegangan dan minimnya persiapan dari keluarga, operasi pun tetap dilakukan pada keesokan harinya sesuai dengan anjuran dokter. Nyawa menjadi taruhan dalam operasi ini. Sedikit saja salah langkah maka akibatnya akan sangat fatal. Operasi dimulai pada pagi hari dan berakhir di siang hari dengan lancar. Namun, di sinilah malapetaka dimulai.

Saat operasi sudah selesai, dada saya yang dibedah sudah dijahit kembali, alat-alat masih terpasang di sekujur tubuh saya, secara tiba-tiba saya terbangun. Jelas dalam ingatan saya betapa terangnya lampu yang ada di ruangan tersebut. Seketika saya panik, berontak, dan meronta-ronta. Tangan dan kaki saya menghempaskan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Seluruh dokter dan perawat yang ada di sana pun ikut panik melihat situasi tersebut. Tangan dan kaki saya dipegang erat-erat supaya tetap tenang. Tak lama setelah kejadian itu saya diberikan obat bius tambahan dan tertidur.

Photo by Daan Stevens on Unsplash 

Dalam kondisi tak sadar saya dipindahkan ke kamar rawat dan diawasi ketat oleh dokter. Pasca operasi kondisi saya terbilang stabil walaupun masih belum siuman. Namun, pada sore hari setelah operasi dilakukan, secara tiba-tiba kondisi saya drop. Kepanikan pun kembali terjadi. Dokter dan perawat yang berjaga berusaha melakukan pertolongan pertama sambil mencari tahu penyebab menurunnya kondisi saya. 

Hasil pemeriksaan menunjukkan terjadi perdarahan di jantung saya akibat dari pemberontakan saya di meja operasi sebelumnya. Selang-selang yang masih tertanam di dalam melukai jantung saya hingga terjadilah perdarahan. Segera saya didorong kembali masuk ke ruang operasi untuk dilakukan pembedahan kembali.

Operasi yang kedua ini berlangsung lebih panjang dari yang pertama. Kondisi yang sangat membebani pikiran keluarga saya. Proses yang seharusnya sudah selesai justru malah menambah tindakan lain yang lebih berisiko.

Pada malam harinya, operasi selesai dan berjalan dengan lancar tanpa ada drama saya terbangun dan berontak kembali. Saya keluar dalam kondisi yang lebih buruk dari operasi pertama. Saya tidak dibawa ke kamar rawat sebelumnya, melainkan ke ICU. Saya dijaga oleh satu orang dokter umum 24 jam untuk secara periodik memeriksa kondisi saya. Setiap 15 menit sekali saya disuntik Valium, obat penenang yang sebenarnya memiliki efek samping berbahaya bagi saya. Kedua orang tua saya diberi izin untuk berada di ruangan ICU pada malam itu. Mereka berada di sisi ranjang, berdoa dan memuji Tuhan dalam ketidakberdayaan mereka.

Photo by Allie Smith on Unsplash

Dini hari, monitor yang ada tiba-tiba berbunyi, memberikan peringatan akan kondisi saya. Detak jantung saya melemah, tekanan darah saya rendah. Saya dalam kondisi kritis. Kedua orang tua saya pasrah, jika saat itu Tuhan memanggil saya pulang, mereka sudah siap merelakan. Kembali saya harus menerima pertolongan pertama dari dokter dan perawat.

Ternyata, saya kekurangan darah akibat perdarahan yang terjadi sebelumnya. Sesegera mungkin transfusi beberapa kantong darah dilakukan untuk menstabilkan kondisi saya. Selepas itu kondisi saya naik turun. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tua saya yang menunggu di samping saya sambil melihat monitor dengan perasaan harap-harap cemas. Sampai akhirnya saat pagi menjelang, kondisi saya mulai stabil dan mengalami perkembangan yang lebih baik.

Bersambung...

LATEST POST

 

Hidup ini seperti merangkai puzzle, karena kita akan merangkai kepingan demi kepingannya agar menja...
by Yessica Anggi | 05 Dec 2021

Hallo, gengs! Hmm, filsafat... Filsafat mungkin terdengar menarik sekaligus “mengerikan”...
by Rain Bow Hutabarat | 05 Dec 2021

Bayangkan sebuah dunia di mana kita tak dapat melihat.Sebuah dunia di mana kebutaan merupakan suatu...
by Primaridiana Pradiptasari | 28 Nov 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER