Tentang Bahagia (1): "Hanya Yesus Jawaban Hidupku?"

Best Regards, Live Through This, 10 November 2020
Selalu ada orang yang menyayangi kita. Dia suka melihat instagram story kita supaya bisa reply dan memulai obrolan. Mungkin juga dia orang yang suka bertanya “Kamu kenapa?” meski kita tidak cerita apapun. Bahkan mungkin dia adalah orang yang menyebut nama kita dalam doanya


"Kala kucari damai

hanya kudapat dalam Yesus

kala kucari ketenangan

hanya kutemui di dalam Yesus


tak satupun dapat menghiburku

tak seorangpun dapat menolongku

hanya Yesus jawaban hidupku."


Sepotong lirik lagu "Hanya Yesus Jawaban Hidupku"


“Untuk seorang yang dalam kesesakan, berkali-kali dikecewakan oleh orang yang dia percaya, dan sudah merasa seolah tidak bisa memiliki harapan dan penghiburan apapun, lagu ini akan sangat menyentuh sih,” kata seorang kawan. Ya, benar. Bahkan menurutku, lagu ini akan sangat menguatkan dan memberi pengharapan, bahkan kebahagiaan, kesukacitaan bagi mereka yang hopeless. Lagu ini merupakan masterpiece bagi jiwaku. Sampai suatu hari, di suatu sore, aku serasa diguncang oleh curhat seorang kawan lama.



“Jujur ya, Pit, gue ngerasa kayak ga ada satupun yang bisa ngertiin gue. Ga ada seorang pun yang bahkan bisa sekedar hadir untuk dengerin gue,” katanya padaku sembari sesenggukan. Sebegitunya ia merasa dikecewakan dan terpuruk sampai ia merasa tidak seorang hadir baginya. Lantas, aku apa? Aku berusaha hadir baginya. Aku mendengarkannya. Aku mencoba untuk mengerti dirinya. Di luar kendali rasaku, aku merasa tersakiti (sedikit saja) karena merasa seolah tidak dianggap sebagai pendengar. 


Hal yang sama kemudian mengingatkanku pada lagu legendaris “Hanya Yesus Jawaban Hidupku”. Apa iya? Lalu, aku apa? Tidak bisakah aku juga menjadi penolongmu, penghiburmu? Tidak bisakah aku meyakinkanmu bahwa “Bila kau butuh telinga 'tuk mendengar, bahu 'tuk bersandar, raga 'tuk berlindung, pasti kau temukan aku di garis terdepan,” layaknya lantunan Bung Fiersa?


Terkadang, praktik keimanan kita selalu tertuju pada sosok Allah (Bapa, Yesus dan Roh Kudus) sebagai satu-satunya sosok yang mampu menolong kita menemukan kedamaian, pengharapan, dan kebahagiaan. Kita seringkali diarahkan bahwa jika kita disesakkan oleh masalah kehidupan, datanglah kepada Tuhan. Sayang jika berhenti sampai di situ saja. Mengapa? Karena berhenti di titik itu berarti kita menafikan keberadaan sesama kita sebagai bukti kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita. Bukankah Tuhan juga menjadi nyata dalam diri orang-orang di sekitar kita? Setiap orang yang berada di sekitar kita bisa menjadi penerus tangan Tuhan yang selalu ingin menolong kita. 


“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! 

Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

- Galatia 6:2 -


Pernah mendengar kisah seorang yang memohon pertolongan ketika sedang terombang-ambing di laut? Sebut saja namanya Mas Dino. Mas Dino terombang-ambing di lautan dan ia berdoa memohon tangan Tuhan untuk menolongnya. Selesai berdoa, sebuah kapal ikan datang dan menawarkannya pertolongan dengan melemparkan pelampung. Namun, Mas Dino menjawab, ”Tidak usah, saya sedang menunggu pertolongan Tuhan”. 


Kapal ikan itu pergi dan tak berselang lama, sebuah kapal pesiar berlayar lambat menuju Mas Dino dan menawarkan sekoci. Namun, Mas Dino bilang, “Tidak usah, saya menunggu pertolongan Tuhan”. Akhirnya, Mas Dino berakhir di surga lalu ia bertemu dengan Tuhan. Seketika, ia menuding Tuhan, “Kenapa Engkau tidak menolongku?” Lalu, Tuhan menjawab, “Aku udah ngirim dua kapal untuk nolong kamu, kok. Kamunya aja yang nolak. Bebal.”


Kisah ini jadi sentilan buat kita yang seringkali enggan menganggap manusia lain sebagai penolong yang Tuhan berikan bagi kita. Seringkali, orang-orang yang bijak dan kita percaya justru bisa menjadi alat bagi Tuhan untuk menyuarakan kebenaran-Nya, dan memberikan pengharapan-Nya bagi kita. Kita hanya perlu sedikit lebih peka dan selektif mendengar suara yang samar-samar itu. Tetapi, kita tetap perlu jeli menilai perkataan dari orang lain. Tidak semua suara perlu kita dengarkan. Dan bukan semua suara sesama adalah suara Tuhan, kan?


Nah, jadi gimana dong cara menilai bahwa yang satu adalah pertolongan Tuhan melalui sesama kita dan yang lainnya bukan? Pertama, pertolongan Tuhan pasti baik. Baik bukan berarti sesuai dengan keinginan kita. Baik berarti tepat guna, dan sudah pasti sesuai dengan kebutuhan kita. Kedua, kita akan merasa di satu titik bahwa suara itu benar. Ini tidaklah mudah, karena kita akan perlu cross-check berkali-kali dengan kedalaman hati kita. Kita perlu menanyakan, “Apakah perkataannya sesuai kebutuhanku?”, “Apakah perkataannya berguna baik bagiku?”, “Apa yang positif dari perkataannya?”, “Ada yang negatif?”, dan pertanyaan lain sesuai kebutuhan kita.


Jadi, kalau begitu, apakah hanya Yesus jawaban hidupku? Apakah hanya Tuhan jawaban bagi kebahagiaan jiwaku? Ya dan tidak. Ya, karena sejak awal dan pada akhirnya, jawaban hidup kita, kebahagiaan kita, serta kedamaian kita bersumber dari Tuhan. Dialah sang empunya hidup yang menganugerahi kita ketenangan di tengah kesesakan, pertolongan di tengah keputusasaan. Dialah yang menawarkan harapan di saat kita bimbang akan alur kehidupan. Dialah yang menjadi sumber bagi keutuhan hidup kita. 




Tidak, jika karena menganggap “hanya Yesus” lalu kita menafikan tangan manusia lain yang terulur bagi kita. Jika karena “hanya Yesus jawaban hidupku” lalu kita mengabaikan pertolongan dari orang lain, rasanya itu juga tidak tepat. Bukankah Tuhan yang begitu mengasihi kita ingin dan bisa menolong kita dengan banyak cara yang tidak kita duga? Dialah Tuhan yang bersinergi dengan semesta untuk menolong kita menemukan kebahagiaan dalam hidup kita. Ignite People, aku ingin agar kita semua mengingat bahwa pertolongan Tuhan juga terulur melalui tangan sesama kita :)



Dear Ignite People, yuk kita sadar… ada lho orang yang sayang sama kita

Dia suka melihat instagram story kita supaya bisa reply dan memulai obrolan.

Mungkin juga dia orang yang suka bertanya “kamu kenapa?” meski kita tidak cerita apapun.

Bahkan mungkin dia adalah orang yang menyebut nama kita dalam doanya.

Hei, coba deh ingat lagi, kira-kira siapa ya orang itu?

Kata terima kasih yang tulus akan sangat berharga baginya

Dan, tindakan kasih yang serupa baginya juga akan sangat menyenangkannya


Let's spread the joy!


“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu 

dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”

- Amsal 17:17 -


LATEST POST

 

Buat kalian pecinta YouTube, adakah dari kalian yang merasakan hal yang berbeda di awal tahun ini? K...
by Lay Lukas Christian | 22 Jan 2021

Just imagine, or remember, if you have this kind of story of life! One day, you met your “supp...
by Timothy Aditya Sutantyo | 22 Jan 2021

Berada dalam suatu persekutuan inklusif yang membangun iman percayaku kepada Allah Tritunggal dan da...
by Jerell Michael Cussoy | 21 Jan 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER