Partisipasi dan Integritas di Tengah Ketidakpastian

Going Deeper, God's Words, 11 April 2019
Di sinilah integritas seorang Kristen dalam Pemilu diuji. Kita dihadapkan pada tiga pilihan, yakni, memilih terbawa dalam pusaran olok-olok politik, menjauhi realitas tersebut dan menjadi apatis, atau menjaga integritas dengan melakukan upaya sekecil apapun untuk memperbaiki keadaan

Banyak dari kita sepakat demokrasi adalah pilihan terbaik dari beragam sistem politik yang dipraktikkan berbagai negara di dunia. Namun, berapa banyak dari kita yang paham konsekuensi memilih demokrasi? Bagi saya, konsekuensi logis memilih sistem politik demokrasi adalah ketidakpastian (uncertainty). Sejenak, mari kita fokus dengan mengambil contoh Pemilu sebagai salah satu indikator bagi negara yang mengklaim diri demokratis. Benar bahwa Pemilu demokratis membuka peluang lahirnya pemimpin yang arif dan berkualitas. Namun pada saat bersamaan Pemilu demokratis juga berpeluang melahirkan ‘tiran’ yang brutal.

Jika Pemilu ternyata masih mengandung paradoks mendasar, apakah kita masih dapat percaya pada Pemilu sebagai mekanisme suksesi kepemimpinan? Saya yakin sebagian besar akan menjawab “ya”. Alasannya karena demokrasi, utamanya Pemilu, membuka ruang dan menyiratkan ‘partisipasi’ setara yang berdampak pada dua aspek. Pertama, partisipasi memungkinkan kita memilih pemimpin yang dinilai dapat mewujudkan kemungkinan yang diharapkan (mengurangi uncertainty). Kedua, walaupun nantinya pemimpin yang kita pilih melenceng dari kemungkinan yang diharapkan, partisipasi memungkinkan kita untuk mengintervensi perilaku pemimpin sebagai bagian dari mengawal kepemimpinannya.

Berbicara soal partisipasi dalam Pemilu seringkali membawa kita pada alasan klasik mengapa seseorang akhirnya memilih untuk tidak memilih. Mulai dari alasan terlalu berlebihan jika satu suara dianggap menentukan masa depan bangsa, sampai alasan tidak adanya kandidat yang layak dipilih. Sebagai seorang Kristen, mari kita coba menelaah dua argumen tersebut secara bijak dan kritis. Mungkin terkesan logis jika ada yang berpikir siapa saya sehingga satu suara saya akan begitu signifikan dampaknya. Namun, sebelum tiba pada alasan suara kita menentukan masa depan bangsa, kita harus paham bahwa iman Kristen mengajarkan kita untuk berpartisipasi aktif dalam menentukan pemimpin.


Photo by ZSun Fu on Unsplash

Di Perjanjian Lama, dalam Keluaran 18:21 Musa diperintahkan untuk mencari orang-orang yang cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan benci kepada suap untuk kelak menjadi hakim atas Israel. Dalam konteks nats tersebut, ada peran yang diambil Musa dalam proses penetapan pemimpin, yakni mencari dan memilih. Selanjutnya, kedaulatan Allah-lah yang bekerja. Dengan kata lain, jika ditarik ke konteks Pemilu, kita harus memilih karena Allah bekerja atas pilihan kita. Tidak perlu terjebak dalam pertimbangan konsekuensi pilihan terlalu jauh karena undi memang harus dibuang, tetapi pada akhirnya keputusan Allah yang berdaulat (Amsal 16:33). Kebenaran ini harusnya membuat kita tidak khawatir karena campur tangan Allah atas pilihan kita akan senantiasa mendatangkan kebaikan (Roma 8:28).

Jika Allah bekerja melalui partisipasi kita, lalu apa bagian kita sebagai pemilih selama proses partisipasi? Pada dimensi yang lebih luas, memilih bukan hanya soal prosedural di TPS, tetapi juga sikap kita dalam proses menentukan pilihan. Pada tahap inilah integritas bekerja. Para akademisi, aktivis, dan praktisi yang menaruh perhatian terhadap isu kepemiluan tentu akrab dengan frasa ‘pemilu berintegritas’ (electoral integrity). Pemilu berintegritas diyakini akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas.

Norris (2014; 33-34) menggambarkan Pemilu sebagai sebuah lingkaran proses elektoral (electoral cycle) tempat penyelenggara Pemilu, peserta Pemilu, dan pemilih berkelindan di dalamnya. Tentu isu mengenai integritas penyelenggara dan peserta Pemilu sudah banyak dibahas. Namun, berapa banyak yang memikirkan mengenai integritas pemilih? Integritas pemilih tidak terbatas pada sikap untuk menolak politik uang atau tidak memilih hanya berdasarkan kedekatan identitas primordial tertentu dengan kandidat, walaupun tidak ada yang salah jika aspek ini menjadi pertimbangan.


Photo by Ben White on Unsplash

Lebih mendasar lagi, integritas pemilih berangkat dari bagaimana sikap kita dalam mencari tahu mengenai kandidat sebagai dasar dalam memilih. Dalam Keluaran 18:21, Musa diberi indikator sebagai panduan dalam menentukan pilihan. Artinya, Musa dituntut mencari tahu untuk sampai pada pilihannya. Demikian halnya kita perlu mencari tahu sebelum menentukan pilihan sebagai wujud integritas sebagai pemilih. Realitas politik sekarang memang memungkinkan seseorang, terlebih pemilih pemula dan kaum milenial untuk lebih cekatan menyimpulkan bahwa tidak ada kandidat yang layak dipilih oleh mereka. Terlebih fenomena yang disuguhkan di media sosial semakin memicu individu untuk apatis terhadap politik.

Di sinilah integritas seorang Kristen dalam Pemilu diuji. Kita dihadapkan pada tiga pilihan, yakni, memilih terbawa dalam pusaran olok-olok politik yang berujung polarisasi tajam, memilih menjauhi realitas tersebut dan menjadi apatis, atau menjaga integritas dengan melakukan upaya sekecil apapun untuk memperbaiki keadaan. Salah satunya dengan sungguh-sungguh mencari tahu sebelum menentukan pilihan.

Alkitab banyak memberi kriteria pemimpin yang takut akan Allah. Misalnya, apakah ada sosok yang mampu memenuhi seluruh kriteria tersebut? Apakah mereka yang terpilih pasti bertindak sesuai harapan? Tentu tidak, tetapi itu tidak jadi alasan untuk tidak memilih. Bahkan tokoh besar dalam Alkitab-pun tidak ada yang tanpa cacat. Sebut saja Abraham (Kejadian 16:1-6), Musa (Bilangan 20:1-13), Daud (2 Samuel 11:1-27), atau Paulus dengan latar belakangnya (Kis. 9:1-18). Mereka tidak sempurna dalam melakukan perintah Allah, tetapi Allah memakai mereka secara luar biasa dibalik masing-masing keterbatasannya.


Photo by Arnaud Jaegers on Unsplash

Ada tantangan besar dalam Pemilu 2019 mendatang. Pilpres dan Pileg diselenggarakan secara serentak, sedangkan perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada Pilpres. Jangan sampai abai bahwa kita tidak hanya akan memilih presiden, tetapi juga wakil kita di DPR, DPD, serta DPRD provinsi dan kabupaten/kota. Kita bertanggung jawab menentukan kualitas lembaga eksekutif dan legislatif. Disadari atau tidak, kita punya peluang besar untuk memberi pengaruh politik untuk konteks masa kini. Pemilu langsung menempatkan masyarakat pada posisi relatif setara dengan para state apparatus (Buehler, 2014; 158). Ketergantungan mereka terhadap masyarakat meningkat karena kebutuhan elektoral. Masyarakat juga punya peluang memanfaatkan ketergantungan tersebut untuk memunculkan sosok yang sebelumnya tidak populer, tetapi memiliki kapasitas dan kualitas mumpuni. Sudah banyak contoh tokoh yang lahir dari peluang ini.

Mari ambil tanggung jawab untuk mengubah ketidakpastian. Campur tangan Allah mensyaratkan insiatif kita untuk berpartisipasi dan partisipasi kita menyiratkan integritas dalam memilih pemimpin yang takut akan Allah. Kita sedang memilih pemerintah dan pemerintah adalah hamba serta pelayan Allah. Sudah seharusnya kita memilih hamba dan pelayan terbaik bagi Allah yang pada ujungnya juga layak untuk kita patuhi karena mereka ditetapkan oleh Allah sendiri (Roma 13:1-7).


Penulis :  Harlitus Berniawan Telaumbanua

LATEST POST

 

Apa sih perasaannya kala itu?Saya sendiri bahkan tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya tidak bahagi...
by Sobat Anonim | 15 Jul 2019

Purwokerto, 9 Juli 2019Shalom,Damai Sejahtera bagi kamu,Halo Nat, lama kita ngga berjumpa. Gima...
by Agustina Endarwanti | 15 Jul 2019

Water covers 70% of our planet and it is easy to think that it will always be plentiful and will not...
by Arum Sekar Ratrie | 15 Jul 2019

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER