Pandemi: Berani atau Takut?

Best Regards, Live Through This, 07 September 2020
Bagaimana kita menyikapi pandemi ini? Apakah pandemi ini masih menjadi kekhawatiran yang berlebih bagi kita?

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang menyenangkan, tapi juga menakutkan. Ya, karena pandemi Covid-19 ini.


Semenjak ramai di jagat maya tentang virus baru yang pertama kali menyebar di Cina, banyak orang yang mengatakan “Ah, ga mungkin Corona masuk ke Indonesia, orang Indonesia kan udah terbiasa ‘jorok’, jadi daya tahan tubuhnya udah kebal lha ya.” Dan berbagai pernyataan pun keluar sebagai pendapat bahwa Covid-19 tidak akan menyerang Indonesia. Padahal kita pun tau bahwa virus tersebut sangatlah fatal, hingga dapat menyebabkan seseorang meninggal secara tiba-tiba.


Sampai pada akhirnya, sekitar awal bulan Maret 2020, ditemukan satu kasus baru Covid-19 di Indonesia.


Jeng jeng...


Kasus tersebut mencuat dan membuat masyarakat Indonesia geger. Lantas, banyak orang menjadi takut bahwa virus ini akan menyebar dan terserang virus ini. Tak jarang orang yang dahulu tidak begitu memedulikan kesehatannya, sekarang menjadi lebih sering cuci tangan, memakai masker jika keluar rumah, dan mematuhi protokol-protokol kesehatan yang lainnya. Ironisnya, semenjak kasus Covid-19, barang-barang seperti sabun, masker, hand sanitizer pun menjadi barang-barang langka. Meskipun mendapatkannya, itu pun dengan harga yang relatif tinggi. Padahal sebelumnya barang-barang ini lebih mudah kita temui.


Photo by Allie on Unsplash


Seberapa takutkah kita akan Covid-19 ini?


Ketakutan akan Covid-19 membuat banyak orang secara tak sadar menimbun barang-barang yang sesungguhnya juga menjadi kebutuhan banyak orang. Dengan berbagai alasan, orang berbelanja dengan stok yang berlebih. Ya, mulai karena takut kalau sewaktu-waktu terjadi lockdown, supaya tidak sering keluar rumah, hingga karena takut kehabisan barang-barang tersebut.


Apakah hanya kita yang memerlukan barang-barang tersebut?


Tak dapat dipungkiri bahwa mungkin banyak di antara kita yang akan menjadi kalut bila berada dalam kegelisahan ataupun ketakutan. Kita sudah tak peduli apa yang terjadi dengan orang di sekitar kita, yang penting kita aman dengan kebutuhan yang tercukupi, bahkan hingga berlebih.


Photo by Mick Haupt on Unsplash


Memang virus ini merupakan virus yang berbahaya apabila masuk dan menyerang imun kita, sehingga kita harus tetap waspada. Tetapi, sayangnya banyak orang justru menanggapinya dengan ketakutan yang berlebih. Bahkan, sempat beredar pula bahwa ada kalung seperti name tag yang konon dapat menangkal virus Covid-19 ini, sehingga banyak orang mencarinya, walaupun ada yang menjual dengan harga yang relatif tinggi dan tidak masuk akal.


Walaupun begitu, banyak pula orang yang tak menghiraukan protokol kesehatan, mulai dengan tidak menggunakan masker, sampai tetap berkumpul.


Sebagai orang yang dahulu pernah terserang virus di paru-paru, sempat ada kekhawatiran yang menyelimuti aku dan orangtuaku. Sebab, kita pun tau bahwa virus ini akan menyerang paru-paru kita. Hingga pada awal kasus ini mencuat, awalnya berbagai antisipasi dilakukan, agar jika ada orang yang ingin menyentuh atau mendekatiku, mereka harus dalam kondisi yang “steril”.


“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

-Yosua 1 : 9


Kalau kita membuka Alkitab, sesungguhnya Yosua pun pernah mengalami kegentaran ketika diutus Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan memasuki tanah Kanaan, bukan?


Bagaimana tidak - sejak masa mudanya, Yosua dipersiapkan Tuhan untuk menggantikan Musa, mulai dari memimpin bangsa Israel dalam berperang melawan orang Amelek hingga menjadi pengintai di tanah Kanaan.


Tentu hal ini bukanlah tugas yang mudah. Ada rasa gentar yang dirasakan Yosua ketika ia tahu bahwa dirinya dipakai Tuhan untuk melakukan suatu perubahan besar pada masa mudanya. Namun di balik rasa gentarnya, Tuhan justru berfirman agar Yosua tetap yakin, sebab Dialah yang akan selalu menyertai Yosua dalam setiap tugas yang dilakukannya.


Photo by Erik Mclean on Unsplash


Jika dipikir-pikir, apa yang dirasakan Yosua juga serupa dengan situasi kita di masa pandemi ini ya, Ignite People. Di mana situasi ini membuat kita khawatir, terlebih dengan kasus pertambahan orang yang terinfeksi kian hari kian meningkat. Namun, di balik semuanya ini kita tetap harus dapat tetap tenang, dan meyakini bahwa semua ini akan ada kesudahannya.


Bagaimana kita menyikapi pandemi ini? Apakah pandemi ini masih menjadi kekhawatiran yang berlebih bagi kita?

LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER