Jika Aku Seorang Liyan: Sebuah Refleksi Singkat dari Yohanes 4:1-42

Going Deeper, God's Words, 21 July 2020
Apakah kita lebih sempurna dari yang Maha Sempurna, sehingga penilaian kita adalahyang terbaik?

Dalam tulisanku sebelumnya, aku berusaha untuk membagikan liyan yang ditolak dan tertolak oleh orang-orang yang menganggap diri mereka bukan lian. Sambil kembali merenungi, bagaimana sang lian harus berjuang di tengah gempuran yang penuh hina dan cerca dari si “normal”, aku mencoba untuk mencari pemahaman lain tentang liyan yang masih kabur untuk beberapa pihak. Atau mungkin gampangnya, “Liyan, ya, nggak normal! Kalo normal, dia bukan termasuk yang liyan.” Pemahaman ini masih ada di benak sebagian orang yang merasa diri sempurna, tak bercela, dan tak bercacat.  

Dalam perkembangannya, aku jadi mengingat sebuah kisah yang diceritakan oleh pendetaku, saat aku masih berada di dalam perawatan pasca-stroke yang aku alami. Kisah ini bukanlah kisah sederhana yang mampu aku telan hidup-hidup. Penulis Injil Yohanes, mungkin sengaja memasukkan bagian ini pada awal tulisannya. Pada salah satu bagian dari tulisannya, sang penulis menceritakan secara cukup detail tentang percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Secara lengkap, kalian bisa membaca di Yohanes 4:1-42.



Dalam bagian tersebut, tampaklah Yesus yang mengharuskan diri-Nya untuk melintasi daerah Samaria. Bagi yang belum tahu, Samaria adalah golongan orang-orang Israel yang berdarah campuran, akibat pernikahannya dengan orang non-Israel, yang saat itu dianggap sebagai orang yang tidak murni atau tidak suci. Singkat cerita, Yesus pun tiba di sebuah sumur di daerah Samaria itu. Dan kemudian datanglah seorang perempuan Samaria. Sampai di sini, kita bisa lihat, orang yang ditemui Yesus ini adalah orang dengan double minority. Pertama, ia adalah seorang perempuan. Bagi kamu yang perempuan, jangan tersinggung ya, tetapi pada masa bagian ini ditulis, perempuan adalah kaum kelas dua. Perempuan sering kali tidak didengarkan pendapatnya, malah banyak cerita di bagian Injil lain yang menggambarkan betapa perempuan dianggap remeh oleh kaum “normal” saat itu. Kedua, kemungkinan besar, ia juga adalah seorang Samaria, bukan seorang dengan darah “suci” dari keturunan Israel. Keterangan ini LAI tambahkan di ayat 9, “Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria”. Berhenti sampai di sini? Coba baca dengan teliti, ternyata ia juga adalah perempuan dengan lima suami, bahkan yang ada padanya sekarang bukan suaminya. Ada yang menafsirkan, mungkin kelima suaminya telah meninggal, atau ia memang melakukan poliandri. Pada masa itu juga, rasanya seorang perempuan seperti ini dipandang bukan sebagai perempuan yang baik. Ia adalah seorang “pezinah”. Seorang berdosa yang dihindari oleh orang-orang “suci” Yahudi. Triple minority! Gambaran sederhananya adalah, mungkin orang “normal” pada konteks itu melihat perempuan ini sebagai liyan, atau dalam bahasaku dalam artikel sebelumnya: “barang reject".


Aku rasa cukup menjelaskan siapa perempuan ini, sekarang, saya mengajak rekan-rekan untuk melihat apa yang Yesus lakukan kepada “produk reject” ini. Ayat 4 dengan tegas mengatakan, bahwa “Ia (Yesus) harus melintasi daerah Samaria”. Kita pun tidak tahu pasti siapa yang mengharuskan Yesus melakukan hal itu. Dari nama daerahnya saja kita dapat memberi penilaian bahwa Yesus sedang melakukan sesuatu yang berbeda dari orang-orang Yahudi pada umumnya saat itu. Ia memberanikan diri untuk melintasi daerah orang-orang yang dengan sengaja dibuang oleh orang-orang “yang menganggap diri normal” itu. Yesus melakukan sesuatu yang berbeda dari orang lain. Saat Yesus yang sedang kelelahan duduk di pinggir sumur, maka datanglah perempuan Samaria yang aku coba jelaskan pada bagian sebelumnya. Ia bukan hanya duduk, tetapi meminta minum air dari seorang perempuan Samaria. Apakah Yesus berhenti pada meminta? Penulis melanjutkan ceritanya dengan percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria itu. Dan, singkat cerita, justru kepada perempuan inilah Yesus menyatakan kemesiasan diri-Nya. Mesias yang selama ini ditunggu oleh orang-orang Yahudi. Ia menyatakan diri kepada sebuah barang reject-an orang-orang pada masa itu. Dari percakapan, dan pertemuan dengan Yesus, perempuan Samaria itu berhasil membuat banyak orang Samaria di kota itu menjadi percaya kepada Yesus. Secara lebih lengkap, mungkin kawan-kawan bisa membacanya langsung pada Yohanes 4:1-42 ini.


Secara pribadi, saya ingin membagikan dua hal tentang kisah ini:

  1. Bagi kita yang merasa diri sedang dibuang, tidak dianggap, dan dikucilkan dari masyarakat, mudahnya, dianggap liyan oleh masyarakat, cobalah untuk menerima diri kita apa adanya sambil bersyukur atas “ke-liyan-an” yang ada pada diri kita. Percayalah bahwa Yesus, bukan hanya seorang Tuhan bagi orang 'normal' saja, bahkan Ia berani “menyingkirkan” status liyan kita dan merengkuh kita dengan tangan-Nya yang hangat, seakan Ia tidak peduli siapa kita, bagaimana latar belakang kita dan sebagainya. Tugas kita, hanya menerima tangan kasih-Nya yang sedang berusaha merangkul kita. Bukan malah menyalahkan orang-orang yang memberikan status liyan itu. Ingatlah, siapa pun kita, seperti apa pun kita, Sang Gembala itu tetap mau menggendong kita, bagai domba kecil yang ketakutan menghadapi serigala-serigala yang mau menyantapnya. Yesus pun tetap menerima kita apa adanya. Ia menerima segala ketidak sempurnaan kita, yang diberi cap “liyan” oleh orang di sekitar kita.

  2. Bagi kita yang merasa diri 'normal', dan kemudian memberikan cap pada orang-orang yang tidak sama dengan kita dengan kata “liyan”, lalu dengan sengaja maupun tidak menyingkirkannya, dan menganggap liyan itu 'tidak normal'. Cobalah untuk mengerti satu hal kawan, Yesus setidaknya dalam bacaan kita di atas tidak menyingkirkan perempuan itu. Ia malah dengan gentle bercakap-cakap dengan perempuan itu kan? Orang yang saat itu dianggap liyan! Dan kita layak untuk memberikan status liyan pada orang yang berbeda dengan kita? Mungkin aku akan sedikit kasar dengan mengatakan: “Sungguh suci kita melebihi Tuhan kita sendiri! Sebenarnya siapa yang Tuhan sekarang? Kita?” Berhentilah menyalahkan dan membedakan orang lain dengan sebutan liyan, karena kita sendiri juga tidaklah sempurna! Berhenti untuk mengatakan, “Kamu berbeda, maka kamu tidak akan aku terima!”, seakan kita yang paling suci, bahkan Tuhan-pun kalah suci dengan kita. Biarlah perbedaan itu menjadi warna yang semakin cantik untuk kita terima dalam hidup kita, dan kita terima sebagai fakta yang menarik dalam setiap segi kehidupan kita. Jika Yesus tidak menolak mereka, mengapa kita mati-matian untuk menolak, bahkan menyingkirkan mereka, hanya karena mereka “berbeda”? Renungkanlah: “Sesuci itukah aku?”


Kiranya perenungan singkat ini bisa membawa kita untuk sadar akan perbedaan yang semakin mewarnai perjalanan iman kita. Kiranya Tuhan, Sang Penolong itu membantu kita untuk dapat memahami dan menerima para liyan itu.


LLC, 2020-#masihdikosaja

LATEST POST

 

Sebuah Pertemuan23 Januari 2019, GKI Gunung Sahari. Sekitar 1 tahun yang lalu, aku mengenal mereka,...
by Jonathan Joel Krisnawan | 22 Sep 2020

Ignite People, awal tahun ini menjadi tahun yang kurang menyenangkan untuk kita. Tidak hanya kurang...
by Regina Megumi Tandiari | 22 Sep 2020

Melayani remaja bisa dibilang merupakan hal yang paling menantang di zaman ini. Aku merupakan seoran...
by Noni Elina | 22 Sep 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER