Hanya karena Anugerah

Best Regards, Live Through This, 17 March 2023
Sungguhkah Kristus saja cukup bagimu?

Artikel ini dapat dilengkapi dengan bacaan Alkitab dari Lukas 18:9-14

Disclaimer: artikel ini mengandung spoiler film "Prisoners" (2013).


Sebuah film thriller bertajuk Prisoners tayang di tahun 2013 berkisah tentang sepasang orang tua yang tadinya sangat religius, begitu tekun melakukan penginjilan dan pelayanan, berubah menjadi keji dan menyatakan diri bertempur melawan Tuhan. Dalam film itu, diungkaplah alasan yang menjadi dasar pertimbangan mereka memutuskan bertempur melawan Tuhan. Ternyata mereka begitu kecewa ketika "merasa" doa-doa mereka untuk kesembuhan anaknya dari sakit kanker darah ditolak oleh Tuhan. Sepuluh tahun yang lalu, saat menonton film itu, usia pernikahan saya dengan suami masih baru hitungan minggu, dan kami belum memiliki anak. Usai menonton film, akhirnya kami jadi berdiskusi cukup serius tentang perihal berketurunan. Di akhir diskusi, kami berdua masih sama-sama tidak bisa berempati dengan rasa sedih yang dialami si pemeran antagonis ini. Menurut kami, itu tindakan yang sangat nekad dan irasional.

Fast forward ke bulan September di tahun 2022, pada akhirnya setelah bersujud mengemis kepada Tuhan selama hampir satu dekade, saya dan suami diperhadapkan pada satu kenyataan di mana secara klinis Tuhan menjawab doa kami dengan kata tidak (atas permohonan untuk memiliki keturunan). Akhirnya, setelah hampir satu dekade itu pula, mungkin saya akhirnya bisa mengerti sedikit kenapa si pemeran antagonis di film "Prisoners" bisa senekad itu (udah lama nontonnya tapi masih inget aje, hihihi).



Apa hubungan kisah di film "Prisoners" dan kisah yang kami alami, dengan bacaan Alkitab kita hari ini?

Dalam Lukas 18:9-14, kita diingatkan ada dua orang yang berdoa dengan cara yang berbeda. Satu di antara keduanya—yang jadi fokus di artikel ini—adalah seorang Farisi, yang berdoa dengan tujuan untuk melakukan pembenaran diri dan menyatakan kepada dunia bahwa ia seorang yang layak. Padahal sebagaimana ditegaskan oleh para Reformator Gereja, karya keselamatan hanya dapat dikerjakan oleh Kristus. Tanpa inisiatif Allah untuk menyelamatkan manusia melalui pengurbanan Kristus di kayu salib, kita akan selamanya tenggelam di dalam dosa yang menyebabkan kita tidak menginginkan Allah, apalagi beribadah kepada-Nya (Roma 3:10-12). Artinya, perbuatan dan sikap yang baik, ibadah yang diikuti, pelayanan yang dilakukan, bahkan pengulangan Bible reading bukanlah yang menyelamatkan kita dari kematian kekal akibat dosa. Tidak heran jika Paulus menegur keras jemaat di Galatia dengan berkata, "Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus." (Galatia 2:22). Teguran ini bukanlah tanpa alasan, karena sebelumnya Paulus mengecam perilaku jemaat Galatia yang masih berpegang pada pengajaran bahwa hukum Taurat harus tetap dijalankan agar keselamatan di dalam Kristus tergenapi. Padahal keselamatan tersebut sudah digenapi di dalam Kristus, sehingga kita dipanggil untuk merespons keselamatan dari-Nya dengan mempertanggungjawabkan iman kita melakukan sikap dan tindakan kita. (Nadya Brigita juga membahasnya di sini)

Tanpa kita sadari, seperti orang Farisi di bacaan Alkitab dan sepasang orang tua di film tadi, atau bahkan seperti saya dan suami yang sempat sedih dan “mutung”, kita sebagai manusia ciptaan Tuhan seakan-akan lupa bahwa sebenarnya hidup ini adalah anugerah. Dalam banyak kesempatan, kita sering menganggap Tuhan sebagai pemberi kerja atau pemilik perusahaan yang seolah-olah "wajib” memberikan upah. Tanpa kita sadari pula, dalam banyak keadaan, kita sering berlaku seperti Tuhan dan merasa layak atas ini dan itu. Tidak jarang kita lupa betapa gagahnya kita saat bernyanyi dengan lantang, "Christ is Enough for me!" tetapi di lubuk hati terus menuntut Tuhan memberikan penjelasan saat apa yang kita minta tidak Tuhan berikan. Jika demikian, apakah Tuhan sungguh-sungguh cukup dalam memuaskan hati kita?



Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. —Efesus 2:8-10 (TB 1974)


Saat menyadari bahwa kebenaran dalam Kristus adalah anugerah dan bukan upah dari hasil kerja (Roma 3: 21-4:8), marilah kita dengan segala kerendahan hati, dan terus beriman teguh kepada Allah, hidup dalam ungkapan syukur yang tak berkesudahan. Biarlah kiranya setiap yang menerima hembusan napas dari Tuhan memaknai anugerah yang tak terukur itu. Karena sejatinya, kita hidup karena anugerahNya. Ya, hanya dengan anugerah Tuhan!

Selamat menghidupi anugerah Tuhan. Selamat merealisasikan bahwa Kristus saja, cukup bagi kita. Lebih dari cukup.


Mari merenungkan Paska(h) bersama Kak Pum melalui lagu ini, ya, Ignite People. - Minbi

LATEST POST

 

Ketika aku hidup sentosa aku pernah berkata,"Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!"TUHAN,...
by Samuel Semeion | 10 Jun 2024

Jakarta, 4 Mei 2024 – Generasi muda Indonesia, yang mencapai lebih dari separuh populasi, meru...
by Admin | 29 May 2024

Musa dan Yohanes merupakan penulis kitab pertama dan terakhir dalam Alkitab. Maka akan sangat menari...
by Jeffry Immanuel | 24 May 2024

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER