Sak Karep-Mu Tuhan!

Going Deeper, God's Words, 25 December 2019
Jadi Tuhan mah bebas, bebas apapun. Jangan marah! Memang kamu siapa?

Hei! Apa sih yang kamu pikirkan kalau banyak kejadian yang tidak kamu harapkan? Apa yang kamu teriakkan kalau ternyata ojol yang kamu pesan antar makanan yang salah? Apa yang kamu katakan kalau ternyata pacar kamu beli baju buatmu tapi warnanya jelas banget kamu benci? Bete, kesel, bingung, dan mungkin berkata pada orang itu, “Better, lu ga usah muncul dah!”

Mungkin kamu ga salah gengs. Aku pun demikian, apalagi untuk orang yang perfeksionis tingkat langit ketujuh kayak aku dan orang-orang yang setipe denganku. Suatu kesalahan itu adalah “dosa besar”. Pernah satu ketika aku lagi menulis artikel. Di tengah artikel, aku baru sadar, kayaknya ada yang salah, and you know what? Aku hapus semua artikel itu dan aku ulang tulis dari awal. Dari ceritaku, apakah kalian sudah bias melihat seperfeksionis apa aku?

Sedikit membela diri, nggak cuma aku yang kayak gitu. Temanku lebih parah lagi. Suatu pagi, dia salah pakai baju untuk presentasi kelompok. Salahnya hanya karena baju yang dia pakai warna biru, sedangkan untuk presentasi kelompok hari itu dresscode-nya warna merah. Segera dia balik ke kost yang mungkin makan waktu sekitar lima belas menit, berarti bolak-balik butuh tiga puluh menit, dan hasilnya dia terlambat masuk kelas.

Kadang ada orang yang benar-benar menginginkan segalanya sempurna. Sempurna seperti apa yang ia pikirkan dan harapkan. Aku berharap nilaiku nggak sekecil itu, dosennya salah! Aku berharap cowokku ngerti kenapa aku pake baju ini, aku berharap dia akan ngomong, “Sayang, kamu cantik banget ya. Bajunya lucu buat kamu,” bukannya, “Kayaknya kamu harus ganti baju deh, ga cocok warnanya!” Atau seorang karyawan yang mengatakan, “Harusnya gajiku lebih dari ini!” dan berpikir bosnya ga adil! Serta berbagai pemikiran lain yang pokoknya nyalahin orang dulu lah. Intinya, “Gua bener, dan yang lain salah”. Apa iya?

Photo by petr sidorov on Unsplash

Aku punya cerita. Seorang wanita muda yang tampil sebagai tokoh utama dalam Lukas 1 dan 2. Wanita ini bisa jadi “stress” saat ada seseorang yang tiba-tiba datang padanya dan mengatakan bahwa ia akan hamil. Hamil sebelum nikah. Aku coba tanya ke seorang teman perempuan, “Jika aku ngomong, kamu akan hamil besok, kira-kira kamu bakal ngapain?” Teman pertama menjawab, “Nampar lo pake sandal jepit gua. Mau nyoba?” Teman kedua menjawab, “Kas, kamu gila? Atau mungkin bukan gila tapi sinting kuadrat kali ya?”. Itu ceritaku yang “iseng” nanya soal hal yang sensitif untuk wanita. Untungnya mereka paham kalau ini cuma "misalnya". Sekarang, bagaimana dengan Maria?

Berdasarkan jawaban teman-teman, saya bisa membayangkan bagaimana perasaan Maria pertama kali mendengar kabar itu. Mungkin kaget dan mengira, “Ini orang gila kali ya?”. Sampai di sini apakah terbaca ke arah mana saya sebenarnya berbicara? Bukan soal Maria yang istimewa, tetapi Maria yang bisa dibilang “mendapatkan kesialan”. Kesialan! Mungkin iya juga, waktu Maria mendapatkan “perintah aneh bin ajaib” itu, Maria mungkin juga berpikir, “Ada orang gila yang ngomong gua punya anak, padahal sumpah, gua nikah aja belom, gua belom ngelakuin apa pun.” 

Iya, mungkin penulis memang kadang gila di luar nalar. Tapi, ga salah kan? Coba bayangin kamu yang jadi Maria saat itu. Seakan jawaban Maria di Lukas 1:38, itu bukan jawaban dengan nada bahagia, lho. Lukas 1:38 sebenarnya ada unsur protesnya, ada kesalnya, ada perasaan jengkelnya, lengkap sudah. Kalau ada kesempatan, aku mau tanya sama Maria, “Wahai Maria, kok kamu pasrah banget sih?” Dalam artikel ini, saya ga akan bahas tentang kitab Lukas pada bagian berikutnya. Saya hanya fokus pada perkataan Maria pada ayat itu.

Photo by Adrian Swancar on Unsplash

Saya sedang membayangkan, Maria versiku sedang berkata “Sak karep-Mu lah Gusti”. Nada pasrah Maria mungkin juga pernah kita rasakan. Saat segala sesuatu sudah kita lakukan, tapi hasilnya beda dari ekspektasi atau bahkan NIHIL, kita sontak teriak, “Sak karep-Mu lah Gusti!”. Kita protes mati-matian juga ga ada gunanya.

Tapi inilah Maria, dia tetap menjalankan tugas aneh bin ajaib bin mulia, dan bin bin lainnya. Di otak Maria mungkin berkecamuk, “Tuhanku edan”. Tapi ingat kawan! Maria juga manusia biasa. Ia tidak lepas dari rasa “menyalahkan Tuhan”. Tetapi, sebagaimana cerita pada umumnya, saya akan memberikan twist tentang Maria. Saat ia mengunjungi Elisabeth, yang juga hamil secara ajaib, anak Elisabeth meronta, seakan menyambut Bayi “sumber masalah”-nya Maria. Di sinilah kita mengerti, Maria akhirnya memahami tujuan dan arti kandungannya. Bukan sekedar kandungan, but much more than it! Kelanjutannya bisa kalian baca di dalam Alkitab.

Dari kisah di Lukas 1:38, saya melihat dua hal yang bisa kita pelajari: Pertama, perintah Tuhan itu ga selalu enak. Kadang ikut jalan-Nya, nyawa pun jadi taruhan. Ada yang dipenjara, dibunuh, dan lain sebagainya. Tuhan punya cara yang ga selalu enak. Buat saya pribadi, justru di titik inilah Tuhan mau kita menjadi semakin indah, seperti berlian. Klise memang, tetapi cobalah untuk menilai kehendak Tuhan dari sisi lain. Kedua, dari sudut pandang kita, seberapa kita sanggup untuk melihat rencana Tuhan itu yang terbaik. Terbaik menurut-Nya, bukan menurut kita. Ingat, kehendak Tuhan yang utama, kita cuma bisa lihat seberapa keren nantinya rencana yang ga enak itu. Melihat hasil itu memang enak, tetapi melihat kenyataan, belum tentu semua orang suka. Proses kita mengenal Tuhan, bisa kita mulai dengan menerima-Nya sebagai Sang Perencana Sejati.

Akhir kata, seperti kata Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Sanggupkah kita mengatakan hal yang sama jika sesuatu yang “bukan kita inginkan” terjadi untuk kita?

Kiranya, kita bisa menemukan apa yang diinginkan-Nya dalam kehidupan kita, hari lepas hari.

LATEST POST

 

Sepanjang jantung berdetak, rasa itu memang akan senantiasa ada.Dan tidak akan pernah bisa kulupakan...
by A.Z. Myra Johanna P. | 05 Sep 2021

Membaca tema diatas, mungkin membuatmu “terusik”. Apalagi ketika kita membahas issue&nbs...
by Richard Lecourtbushe Bogar | 05 Sep 2021

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berhenti berarti "tidak bergerak, tidak berjalan, ti...
by Yessica Anggi | 29 Aug 2021

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER