Aku dan Si Kucing

Best Regards, Live Through This, 10 April 2020
Meskipun jika pada akhirnya pandemik ini berakhir, aku yakin kepedulian itu tidak akan sirna, tanda dunia ini diisi oleh manusia yang memiliki kemanusiaan, bukan kebinatangan.

Malam ini terasa begitu dingin, mungkin akibat hujan deras yang mengguyur bumi sepanjang siang hingga malam hari. Ah, andaikan air hujan ini dapat mengguyur Covid-19, melunturkan semua virus yang merasuki tubuh manusia hingga ajal menjemput. Tampaknya itu doa yang dipanjatkan oleh semua umat manusia di berbagai belahan dunia saat ini, tentu saja di balik selimut, seperti aku dan suamiku yang selain berbagi kehangatan melalui pelukan, juga sesekali melakukan perang kentut.

Malam demi malam berlalu, tak terasa sudah 1 bulan penuh kami menghabiskan waktu sebagian besar di rumah. Seperti biasa, kala pagi tiba, bangun dan saling mengecup, sesekali diselingi dengan menggigit. Mesra katanya, tapi ya tetap sakit, membuatku ingin menggigit balik, menanti waktu yang tepat. Lanjut dengan aktivitas mandi dan makan, setelah berolahraga versi asisten rumah tangga, alias sapu nge-pel 2 lantai, dimulai dari membereskan dan membersihkan kasur dari debu-debu, butiran ketombe, daki, dan iler tentunya. Olahraganya menjadi maksimal sambil mengangkat jemuran, melipat baju, dan menjemur baju yang masih basah, keluar dari kulkas, eh maksudnya mesin cuci. Belum selesai, sesi pendinginan berakhir di dapur, mencuci tumpukan piring kotor, yang rasanya tidak kunjung kelar.

Bagaimanapun, aktivitas dengan penuh keringat itu menolongku untuk melewati separuh hari, sambil membakar kalori dan menjaga tubuhku tetap bugar. Ironisnya, setelah tengah bolong, aku masih melihat suamiku terbaring di kasur dengan gawainya, padahal tadi kasurnya sudah rapi bro, sis. Tampaknya, ini waktu yang tepat untuk menggigitnya, supaya dia segera mandi dan makan.

Aku terkadang penasaran, jika ada polling bagi para istri saat ini, seberapa banyak yang sepenanggungan denganku mencium bau iler sang suami hingga jam 12 siang, kadang-kadang jam 2 siang. Apakah pandemik Covid-19 tanpa disadari sudah memunculkan wabah atau endemik kemalasan bagi kaum pria dalam menyucikan diri melalui ritual mandi? Atau jangan-jangan, kucing dalam jiwa mereka akhirnya menampakkan diri dalam situasi seperti sekarang.

Oh kasihan para kucing, bagaimanapun, mereka terus berjuang mencari sesuap nasi, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk keluarganya. Apalagi pengeluaran keluarga kami di bulan Januari 40% lebih banyak daripada pendapatan, Februari meningkat menjadi 60%, dan puncaknya di bulan Maret 98%. Kami sampai terheran-heran, Tuhan masih memelihara kami. Buktinya, setiap hari kami masih bisa menyantap nasi dan lauk yang memadai, bukan dari tong sampah hasil korekan kucing. Mungkin, ini alasan para kucing malas mandi, toh setiap hari mengorek sampah. Mungkin di benaknya, buat apa mandi kalau nanti bau juga?

Hingga satu saat, ‘si kucing’ menemukan secarik kertas berwarna kuning gading yang sudah lusuh. Mungkin sudah saking bosannya ia rasakan hingga kertas lusuh dalam tong sampah saja masih mau dibaca. Di kertas itu terukir rangkaian aksara rasa berwarna hitam pudar yang berbunyi:

Kala sesuatu tak berentitas

Membuat manusia kehilangan imunitas

Segala sesuatu jadi terbatas

Namun tak boleh kehilangan produktivitas

Harus tetap optimis, tak boleh egois

Agar hidup masih bisa terasa manis


Sekolah cuti, tempat kerja sepi

Semua dilakukan dari rumah huni

Waktunya berkumpul dengan sanak famili

Walau ada yang tetap berjuang dikelilingi pandemi,

guna menghidupi famili dan diri sendiri

Jangan dihakimi,

yang penting tak buat orang lain rugi,

dan bisa jaga diri


Kala sesuatu tak berentitas

Datang menghambat segala aktivitas

Saatnya berserah hanya pada Tuhan yang tak terbatas

Bawalah dalam doamu, agar semua bisa segera tuntas

Kumpulan sajak itu, yang akhirnya menyadarkan kami untuk terus bersandar pada Yang Kuasa. Kami beriman bahwa Ia berdaulat di atas segalanya, tanpa perlu menguak segala misteri Ilahi, mempertanyakan alasan dan kapan pandemik ini berakhir. Seperti yang tertulis sebelumnya, Tuhan masih memelihara kami.... juga memelihara para kucing. 

Well, pada akhirnya bukan hanya kami, melainkan semua orang sedang berusaha mencari hal-hal yang bisa dilakukan untuk menepis kebosanan, mengabaikan kegelisahan, menjaga produktivitas, dan merasakan sepercik kebahagiaan, menjalani hari-hari saat #DiRumahAja. Namun bagi kami, tetap menjadi perpanjangan tanganNya untuk menyatakan kemuliaanNya, kalau kami masih diberikan nafas hidup.

Sebagai contoh, akhirnya kami menjadi pelaku bisnis masker juga, yang keuntungannya kami pakai untuk membeli beras dan minyak yg sengaja ditujukan untuk ART, petugas kebersihan, petugas keamanan, dan orang-orang yang kami rasa butuh. Ditambah sukacita melihat banyak orang membeli masker kami bukan untuk diri sendiri saja, melainkan untuk dibagikan secara gratis bagi orang-orang lain yang membutuhkan.

Ah, ternyata sisi keping lain yang ada di balik Covid-19 adalah kebaikan-kebaikan yang bermunculan setiap hari. Meskipun jika pada akhirnya pandemik ini berakhir, lalu yang kaya menjadi semakin kaya, aku yakin kepedulian itu tidak akan sirna, tanda dunia ini diisi oleh manusia yang memiliki kemanusiaan, bukan kebinatangan.

Maka, jangan ragu untuk terus melakukan kebaikan dan beberapa kecupan sepanjang hari bagi orang terkasih, termasuk gigitan mesra, atau perang kentut. Menyebalkan, namun boleh dicoba, untuk merasakan sensasi serunya.

Setelah itu, tentu saja si kucing jadi lebih rajin membersihkan tubuh mungilnya dan melakukan hal-hal yg lebih produktif. Tanda Tuhan sudah mencelikan mata hatinya.


In collaboration with Grace Anindya

LATEST POST

 

            Beberapa waktu lalu, saya dan keluarga di Malang mend...
by Yawan Yafet Wirawan | 20 Oct 2020

"Aku yakin kamu pasti senang kalau orang lain menganggap kamu ‘incredible’!"(...
by Timothy Aditya Sutantyo | 20 Oct 2020

Mungkin aku hanyalah seorang mahasiswa biasa dan masih jauh sekali untuk membicarakan pernikahan. Te...
by Yeheskiel Dewabrata | 19 Oct 2020

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

[email protected]

READ OTHER